May 26, 2009

Testing Video Server

The player will show in this paragraph




October 19, 2008

Testing cross posting between Multiply and Blogspot

Testing to post a picture on blogspot and cross posting to Multiply.

April 17, 2006

[Resto Review] Pecel Endang Bambang Gulindang di Kemanggisan

Dear JS-ers...

Bicara tentang Pecel, ini adalah makanan kegemaran sejak kecil. Maklum dari Jawa Tengah. Yang saya mau ceritakan kali ini adalah Pecel Madiun andalan saya sejak 1992. Harusnya saya tidak perlu menceritakan tempat makan yang dahsyat luar biasa ini, karena nanti kalau diserbu JS-ers wah, tempatnya yang kecil jadi penuh sesak, repot deh, hehehe.....

Warung Pecel sederhana ini brand aslinya (kini) cuman "WARUNG JATIM Sedia Pecel, dll." dalam Spanduk Hijau Spotlight di depan warungnya. Pecel rumahan, asli homemade cooking. Ownernya pasangan bapak-ibu asli Madiun. Duluuuu sekali... mereka buka jam 5 pagi, jam 8 sudah tutup karena diserbu pembeli. Dulu mereka tidak pernah pasang spanduk atau tulisan apapun. Dari segi Pecelnya, mereka meng-klaim dari Jatim/Madiun, tapi kok saya lihat pengaruhnya lebih ke Pecel2 di Semarang/Jateng ya? Antara lain dengan minimnya jumlah sayuran yang dipakai, tidak memakai timun dan kemangi, serta Rempeyek sebagai lauk utama..... Mungkin ada JS-ers ada yang mengetahui perbedaan Pecel2 dengan dialek Blitar, Madiun, Kediri, dll?

Setelah berpindah-pindah di radius 100 meteran dan masih di sekitar Jl Kemanggisan Raya (tepatnya sekitaran Jl. Gilisampeng - jalan masuk ke Gereja MBK dan Sekolah Sang Timur), dan sempat tutup hampir setahun karena tidak punya tempat (maklum street food), sekarang buka lagi dengan mengontrak kios kecil di ujung belokan ke Gilisampeng.

Pecelnya hanya memakai kacang panjang, bayam dan tauge. Simple. Tapi bumbunya itu lhooooooo.... sedep, kuenthel, pedes, manis..... tekstur kacangnya tidak diuleg sampai halus, malah sedikit coarse dan "mrongkol" (membentuk bongkahan2 kecil). Tapi di sinilah uniknya (dan enaknya) bila dibandingkan jenis Pecel Restoran yang sambalnya encer dan halus 100%.

Karena harga sewa kiosnya mahal, sang ibu saat saya kunjungi pertama kali (setelah saya absen karena dianya yang tutup lama), dengan lugunya dan sifat khas orang jawa yang "tidak enakan" bilang, "pak, maaf nggih, sak niki reganipun mundhak, sewa kios-ipun sampun larang...". Sebuah kearifan khas Jawa. Aduhhhh kasihan ya boooo........ dan karena sewa kiosnya mahal, sekarang mereka buka sampai jam 3-4 sore, dan memasak berkali-kali. Sebuah korban ekonomi berbiaya tinggi di ibukota?

Pun demikian, nasi pecel masih dibandrol 3K (atau 4K ya?), semua gorengan (tempe goreng, bakwan, perkedel, tempe dan tahu bacem) masih 500 rupiah! Ayam Goreng dan Empal antara 5K-6K......

Hebat ya?

Empalnya ukurannya besar, disunduk dengan skewer. Ayam gorengnya empuk sekali, melted in your mouth, gilaaaa..... rasanya asin bawang biasa saja... padahal tidak dipresto! Jadi bisa dibayangkan kalau pesan Bagian Paha Atas, maka bila disenggol sedikit maka langsung putus antara bagian drumstick dan pinggul-nya. Telur Dadarnya selalu cepat habis, padahal cukup enak. Jadinya tidak sempat difoto. Warnanya kuning muda sekali dengan bentuk tebal seperti martabak.

My favorite biasanya adalah Nasi Pecel plus two of these options: Tempe Goreng / Bakwan / Perkedel. Ingin rasanya plus ayam atau plus empal. Tapi rasanya jadi kebanyakan banget. But usually I can not resist for buying perkedel, bakwan, ayam, dan empal untuk lunch/dinner... atau.... untuk persediaan beberapa hari huahahahaha.... taruh dulu di kulkas...

Bumbunya? Hmm.... tinggal minta, dikasih segambreng bo... masih dalam bentuk utuh. Waktu diencerin dengan air hangat, huuuuu.... jadi 3-4 mangkok bakso, untuk beberapa kali makan.

Perkedelnya? Wuah, cukup besar ukurannya. Tebel isinya dan empuk. Tidak "prongkolan" kentangnya dalam kualitas adonan yang superb bow... Kulit perkedelnya bertipe keriting2 karena menggunakan telur. Ini adalah perkedel dengan jenis di antara kulitnya dan isi-nya, masih ada semacam rongga, tapi tidak terlalu besar.

Bakwannya? Empuk tapi tidak alot. Bakwannya jangan terlalu kering seperti di tukang gorengan, karena jadi kurang mantep saat disiram bumbu pecel... Bagi saya, definisi bakwan di sini mirip banget dengan "Badak" di Semarang.

Tempe Gorengnya berbentuk kotak 6x6x4cm, kering dan crispy di luarnya, karena digoreng bawang juga menjadi asin (nyam), tetapi di dalamnya empuk juga, tidak keras. What an ideal tempe goreng....

"The Three Musketeers" gorengan ini, kalau hanya dimakan begitu saja, rasanya sangat biasa saja. Keajaiban terjadi begitu dicampur Nasi Pecel dan disiram bumbu pecelnya... wah... benar-benar irresistible... ketiga benda ajaib ini akan benar-benar memberikan sensasi empuk, di tingkahi rasa bumbunya yang gurih, asin, manis dan pedas. Benar-benar suatu amalgam atau senyawa dan bukan sebagai pelengkap biasa.

Masih ada Telur Balado (biasa saja), Ikan Kembung Masak Kuning dengan banyak cabe rawit (nyammmmmmm....), ikan Tongkol Balado, Ayam Opor, Aneka Rempeyek dan Tempe Kripik, Sayur Tahu Opor, Sayur Gorbachev (Gory aka Nangka), dll.

Hmmmm.... kalau sudah begini, masih ada yang menyangsikan dan masih tidak kepincut ingin ke sini? :-)))))))))

Pecel Madiun Warung Jatim
Jl. Kebun Jeruk Raya (antara Batusari ke Kemanggisan Raya/Tanjung Duren)
Samping Belokan Jalan Gilisampeng (Gereja MBK/Sekolah Sang Timur)

Foto2 lengkap dengan aksesori2 (minus telur dadar) bisa disaksikan secara live dari http://hannysanjs.multiply.com/photos/album/68


salamsutra,
hannysan.

November 09, 2005

History of Bakcang and Bakcang Pak Rudy Sujanto JS

"I would prefer to jump into the river and be entombed in the stomachs of fishes than to bow while purity is defiled by vulgar pestilence..."

-- Chu Yuan (Qu Yuan, 332-296 B.C.)

Chu Yuan adalah salah satu penyair (poet) terbesar Cina. Menurut sumber sejarah, puisi-puisi karyanya adalah puisi protes terhadap King Huai (329-299 B.C.) yang sibuk ingin melebarkan kekuasaan kerajaannya melalui cara-cara kekerasan.

Karena masalah perbedaan prinsip itulah, maka Chu Yuan yang tadinya menjabat sebagai Perdana Menteri, lantas dipecat. Chu Yuan akhirnya menyingkir ke daerah pinggiran Danau T'ung-ting di sebelah timur Hunan dan menjadi sastrawan dengan mengumpulkan legenda, ode, dan menulis puisi2 tragis untuk melawan Kaisar Li Sao. Akhirnya, setelah 7 tahun setelah dipecat menjadi Perdana Menteri, Chu Yuan yang meratapi nasibnya sendiri memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri secara tragis dengan cara menceburkan diri ke dalam sungai Milo di Provinsi Hunan, sehingga memberikan kesempatan ikan-ikan untuk melahapnya.

Oleh karena itulah, maka setiap tahun kematiannya dirayakan pada tanggal 5 setiap bulan 5 dari penanggalan Cina dengan cara balapan kapal naga (dragon boat races) dan melemparkan butir2 beras (zongzi) ke dalam sungai. Dengan cara demikian orang percaya, butiran2 beras akan melindungi Chu Yuan dari sergapan ikan, karena perhatian ikan akan terbagi secara visual, maupun membuat ikan menjadi kenyang lebih dulu dengan memakan butiran beras tersebut. Tradisi ini diteruskan turun temurun dengan pembuatan Bakcang, kue tradisional yang terbuat dari bahan dasar ketan (atau ada juga versi beras) berbentuk limas segitiga dibungkus daun, yang diisi oleh daging dan bahan2 lainnya. Tak jelas benar apakah sang ikan lebih memilih beras dan daripada tubuh si Chu Yuan =)). Kalau sang ikan menganut pola hidup vegetarian bisa jadi mungkin Chu Yuan tidak disantap, tapi bila menganut Combining Food (bentuk plesetannya "Food Combining" kata Mas Ninok Leksono) mungkin sang ikan malah tambah kenyang karena selain melahap Chu Yuan, juga melahap zongzi. Itulah sekelumit kisah lahirnya what we so-called "Bakcang". Hari gini Bakcang masih diperingati sebagai "Bakcang Days" setiap tahunnya.

Bicara mengenai Bakcang, saya sebenarnya kurang suka makanan yang satu ini. Saat saya kecil dulu di Semarang, bakcang yang saya kenal hanya satu macam dan seragam. Berukuran sedang, terbuat dari ketan (bukan beras), dan diisi daging babi cincang. Baik dibuat sendiri di rumah, maupun beli, semuanya sami mawon, setali tiga bakcang (eh, uang!), ya definisinya hanya di situ saja, tidak melebar kemana2. Rasanya manis, kadang warna dagingnya agak kemerahan karena pemilihan jenis daging has, tapi rata2 warnanya cenderung coklat-hitam, dengan rasa manis yang dominan. It makes me for not being a big fan of bakcang... so-so aja... apalagi bikin perut amat sangat kenyang... waduh, nanti dulu deh. Appetizer kok bikin kenyang...

Saat di Perth dulu, beberapa kali kami mengunjungi dim-sum tea house dengan Hongkong-style dishes. Saya mengenal Bakcang dengan sebutan "Sticky Rice", bakcangnya dibuat berukuran lebih besar, kira-kira 12cmx12cm dengan ketebalan 5-6 cm, dalam kemasan bungkus daun berbentuk kotak daripada prisma segitiga. Fillingnya agak berbeda, kalau tidak salah dagingnya bukan cincang, dan ada filling lain yang saya sudah lupa. Lagi-lagi (sigh!) it still makes me unsure why should I like this kinda food... Entah mungkin karena menggunakan ketan, atau sizenya terlalu over, maka saya merasa Sticky Rice tipe ini jangan coba2 dimakan duluan, karena bisa-bisa perut langsung penuh, kembung, dan nggak bisa makan yang lain... padahal menu dimsum lain jauh lebih penting hehehe... makanya kami selalu atur strategi agar kalau mau pesan bakcang selalu share berdua (kalau perlu bertiga aka Threesome -- yah, bukan dim-some lagi deh), dan itupun dimakannya sebagai menu pamungkas di akhir acara! hehehe... Apalagi kalau dapat bakcang yang porsi ketannya banyak dan tebal, tapi porsi bagian fillingnya hanya ala-kadarnya... weks!

Perkenalan saya dengan Sang Bakcang yang sangat monumental dan saya ingat-ingat menjadi salah satu milestone dalam hidup saya untuk lebih menghargai persamaan hak sang bakcang dibanding dengan makanan favorit saya yang lain, terjadi.... tahun ini, ya, tahun ini, hehehe... Inilah hari di mana pandangan saya tidak stereotip lagi terhadap bakcang sebagai makanan yang biasa-biasa saja...

Suatu ketika saya mendengar rame-rame di JS tentang kedahsyatan Bakcang Pak Rudy Sujanto di Surabaya. Wuih, saya masih teteup teguh dengan pendirian saya, "Apatah enaknya bakcang?" dalam hati saya, paling semuanya sama saja: bikin kenyang, bahkan bisa jadi a good food to support diet karena akan bikin ilang feeling makan yang lain. Sudah capek ngunyahnya, lengket, rasanya biasa saja, eh, bikin "nyambung" lagi (kenyang thru kembung)...

Setelah bajaj posting di JS berlalu, saya masih belum coba, sampai akhirnya saya iseng mencoba pesan Pak Rudy via email, setelah membaca posting Om Bondan tentang dahsyatnya Bakcang ini untuk menggantikan satu porsi makannya. Langsung deh saya ngiler dan pesan... Pak Rudy yang baik memberikan 2 pilihan: versi kecil dengan filling biasa, dan versi lebih besar dengan resep mertuanya ala Canton, keduanya akan sampai fresh dalam 24 jam, entah di manapun kita berada (hehehe... benar ya pak?)

Yang kecil berbentuk limas segitiga tapi datang dengan ukuran jumbo. Sedangkan versi spesial berbentuk bantal dengan ukuran kira2 12x17cm, yang jelas lebih panjang dari sendok makan. Dengan ketebalan sekitar 5-6cm.

Kedua ukuran bakcang dari Pak Rudy ini memiliki style yang berbeda, yang besar/spesial/jumbo berisi dua kuning telur telur asin dengan warna orange yang demikian mlekoh, daging babi dari bagian dua lapis pilihan (BYKS) diiris melintang sesuai alur daging dan mengikuti belahan horizontal dari sang bakcang dengan warna pink kecoklatan, 2 buah water chestnut berwarna kekuningan, potongan jamur shimeiji nan manis berwarna hitam. Saya menyebutkan warna-warna onderdilnya secara lengkap supaya bisa dibayangkan a simphony of colours extravaganza dengan sangat indah =)) Sedangkan ketannya cukup pulen dan lembut dengan campuran kacang hijau saat pembuatannya(BYKS lagi). Rasa bakcang ini manis cenderung lebih asin. Dan memang lebih asin rasanya dibandingkan versi yang biasa. Bakcang Super ini kalau dimakan sendirian kok rasanya greedy banget yaaaaa, karena ukurannya sangat besar, fillingnya juga sangat generous. You will never get a spoon of ketan without any filling deh kayaknya... ini yang sangat menakjubkan. Benar2 amazing deh bakcang yang satu ini...

Ukuran bakcang yang biasa fillingnya sama persis dengan yang besar, hanya porsinya separuhnya (satu kuning telur telur asin) tetap dengan citarasa lebih manis, dan berwarna lebih coklat tua. Kalau tidak salah, daging 2 lapis spesial tidak diberikan sebagai fitur dalam bakcang biasa. Kata Pak Rudy sendiri, memang keduanya berbeda resep. Bakcang yang biasa mendukung resep bakcang yang biasa kita nikmati di Indonesia. Sedangkan Bakcang Supernya mengacu resep mertua yaitu ala Cantonese. Saya sebenarnya lebih senang dengan taste yang biasa, karena cenderung lebih manis.

Inilah sekelumit pengalaman saya berjumpa dengan Sang Bakcang super. Terima kasih JS, yang sudah membolehkan saya lebih meningkatkan apresiasi terhadap makanan yang dulunya kurang saya perhatikan. BTW, saya jadi ingin pesan versi halalnya dengan daging ayam nih... nyam... nampaknya lebih ok deh.

Foto2 bakcangnya Pak Rudy dapat dilihat di:

http://pg.photos.yahoo.com/ph/hannysan/my_photos

http://hannysanjs.multiply.com

salamsutra,

hannysan.

October 25, 2005

History of Bakcang and Bakcangnya Pak Rudy JS

"I would prefer to jump into the river and be entombed in the stomachs of fishes than to bow while purity is defiled by vulgar pestilence..."

-- Chu Yuan (Qu Yuan, 332-296 B.C.)

Chu Yuan adalah salah satu penyair (poet) terbesar Cina. Menurut sumber sejarah, puisi-puisi karyanya adalah puisi protes terhadap King Huai (329-299 B.C.) yang sibuk ingin melebarkan kekuasaan kerajaannya melalui cara-cara kekerasan.

Karena masalah perbedaan prinsip itulah, maka Chu Yuan yang tadinya menjabat sebagai Perdana Menteri, lantas dipecat. Chu Yuan akhirnya menyingkir ke daerah pinggiran Danau T'ung-ting di sebelah timur Hunan dan menjadi sastrawan dengan mengumpulkan legenda, ode, dan menulis puisi2 tragis untuk melawan Kaisar Li Sao. Akhirnya, setelah 7 tahun setelah dipecat menjadi Perdana Menteri, Chu Yuan yang meratapi nasibnya sendiri memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri secara tragis dengan cara menceburkan diri ke dalam sungai Milo di Provinsi Hunan, sehingga memberikan kesempatan ikan-ikan untuk melahapnya.

Oleh karena itulah, maka setiap tahun kematiannya dirayakan pada tanggal 5 setiap bulan 5 dari penanggalan Cina dengan cara balapan kapal naga (dragon boat races) dan melemparkan butir2 beras (zongzi) ke dalam sungai. Dengan cara demikian orang percaya, butiran2 beras akan melindungi Chu Yuan dari sergapan ikan, karena perhatian ikan akan terbagi secara visual, maupun membuat ikan menjadi kenyang lebih dulu dengan memakan butiran beras tersebut. Tradisi ini diteruskan turun temurun dengan pembuatan Bakcang, kue tradisional yang terbuat dari bahan dasar ketan (atau ada juga versi beras) berbentuk limas segitiga dibungkus daun, yang diisi oleh daging dan bahan2 lainnya. Tak jelas benar apakah sang ikan lebih memilih beras dan daripada tubuh si Chu Yuan =)). Kalau sang ikan menganut pola hidup vegetarian bisa jadi mungkin Chu Yuan tidak disantap, tapi bila menganut Combining Food (bentuk plesetannya "Food Combining" kata Mas Ninok Leksono) mungkin sang ikan malah tambah kenyang karena selain melahap Chu Yuan, juga melahap zongzi. Itulah sekelumit kisah lahirnya what we so-called "Bakcang". Hari gini Bakcang masih diperingati sebagai "Bakcang Days" setiap tahunnya.

Bicara mengenai Bakcang, saya sebenarnya kurang suka makanan yang satu ini. Saat saya kecil dulu di Semarang, bakcang yang saya kenal hanya satu macam dan seragam. Berukuran sedang, terbuat dari ketan (bukan beras), dan diisi daging babi cincang. Baik dibuat sendiri di rumah, maupun beli, semuanya sami mawon, setali tiga bakcang (eh, uang!), ya definisinya hanya di situ saja, tidak melebar kemana2. Rasanya manis, kadang warna dagingnya agak kemerahan karena pemilihan jenis daging has, tapi rata2 warnanya cenderung coklat-hitam, dengan rasa manis yang dominan. It makes me for not being a big fan of bakcang... so-so aja... apalagi bikin perut amat sangat kenyang... waduh, nanti dulu deh. Appetizer kok bikin kenyang...

Saat di Perth dulu, beberapa kali kami mengunjungi dim-sum tea house dengan Hongkong-style dishes. Saya mengenal Bakcang dengan sebutan "Sticky Rice", bakcangnya dibuat berukuran lebih besar, kira-kira 12cmx12cm dengan ketebalan 5-6 cm, dalam kemasan bungkus daun berbentuk kotak daripada prisma segitiga. Fillingnya agak berbeda, kalau tidak salah dagingnya bukan cincang, dan ada filling lain yang saya sudah lupa. Lagi-lagi (sigh!) it still makes me unsure why should I like this kinda food... Entah mungkin karena menggunakan ketan, atau sizenya terlalu over, maka saya merasa Sticky Rice tipe ini jangan coba2 dimakan duluan, karena bisa-bisa perut langsung penuh, kembung, dan nggak bisa makan yang lain... padahal menu dimsum lain jauh lebih penting hehehe... makanya kami selalu atur strategi agar kalau mau pesan bakcang selalu share berdua (kalau perlu bertiga aka Threesome -- yah, bukan dim-some lagi deh), dan itupun dimakannya sebagai menu pamungkas di akhir acara! hehehe... Apalagi kalau dapat bakcang yang porsi ketannya banyak dan tebal, tapi porsi bagian fillingnya hanya ala-kadarnya... weks!

Perkenalan saya dengan Sang Bakcang yang sangat monumental dan saya ingat-ingat menjadi salah satu milestone dalam hidup saya untuk lebih menghargai persamaan hak sang bakcang dibanding dengan makanan favorit saya yang lain, terjadi.... tahun ini, ya, tahun ini, hehehe... Inilah hari di mana pandangan saya tidak stereotip lagi terhadap bakcang sebagai makanan yang biasa-biasa saja...

Suatu ketika saya mendengar rame-rame di JS tentang kedahsyatan Bakcang Pak Rudy Sujanto di Surabaya. Wuih, saya masih teteup teguh dengan pendirian saya, "Apatah enaknya bakcang?" dalam hati saya, paling semuanya sama saja: bikin kenyang, bahkan bisa jadi a good food to support diet karena akan bikin ilang feeling makan yang lain. Sudah capek ngunyahnya, lengket, rasanya biasa saja, eh, bikin "nyambung" lagi (kenyang thru kembung)...

Setelah bajaj posting di JS berlalu, saya masih belum coba, sampai akhirnya saya iseng mencoba pesan Pak Rudy via email, setelah membaca posting Om Bondan tentang dahsyatnya Bakcang ini untuk menggantikan satu porsi makannya. Langsung deh saya ngiler dan pesan... Pak Rudy yang baik memberikan 2 pilihan: versi kecil dengan filling biasa, dan versi lebih besar dengan resep mertuanya ala Canton, keduanya akan sampai fresh dalam 24 jam, entah di manapun kita berada (hehehe... benar ya pak?)

Yang kecil berbentuk limas segitiga tapi datang dengan ukuran jumbo. Sedangkan versi spesial berbentuk bantal dengan ukuran kira2 12x17cm, yang jelas lebih panjang dari sendok makan. Dengan ketebalan sekitar 5-6cm.

Kedua ukuran bakcang dari Pak Rudy ini memiliki style yang berbeda, yang besar/spesial/jumbo berisi dua kuning telur telur asin dengan warna orange yang demikian mlekoh, daging babi dari bagian dua lapis pilihan (BYKS) diiris melintang sesuai alur daging dan mengikuti belahan horizontal dari sang bakcang dengan warna pink kecoklatan, 2 buah water chestnut berwarna kekuningan, potongan jamur shimeiji nan manis berwarna hitam. Saya menyebutkan warna-warna onderdilnya secara lengkap supaya bisa dibayangkan a simphony of colours extravaganza dengan sangat indah =)) Sedangkan ketannya cukup pulen dan lembut dengan campuran kacang hijau saat pembuatannya(BYKS lagi). Rasa bakcang ini manis cenderung lebih asin. Dan memang lebih asin rasanya dibandingkan versi yang biasa. Bakcang Super ini kalau dimakan sendirian kok rasanya greedy banget yaaaaa, karena ukurannya sangat besar, fillingnya juga sangat generous. You will never get a spoon of ketan without any filling deh kayaknya... ini yang sangat menakjubkan. Benar2 amazing deh bakcang yang satu ini...

Ukuran bakcang yang biasa fillingnya sama persis dengan yang besar, hanya porsinya separuhnya (satu kuning telur telur asin) tetap dengan citarasa lebih manis, dan berwarna lebih coklat tua. Kalau tidak salah, daging 2 lapis spesial tidak diberikan sebagai fitur dalam bakcang biasa. Kata Pak Rudy sendiri, memang keduanya berbeda resep. Bakcang yang biasa mendukung resep bakcang yang biasa kita nikmati di Indonesia. Sedangkan Bakcang Supernya mengacu resep mertua yaitu ala Cantonese. Saya sebenarnya lebih senang dengan taste yang biasa, karena cenderung lebih manis.

Inilah sekelumit pengalaman saya berjumpa dengan Sang Bakcang super. Terima kasih JS, yang sudah membolehkan saya lebih meningkatkan apresiasi terhadap makanan yang dulunya kurang saya perhatikan. BTW, saya jadi ingin pesan versi halalnya dengan daging ayam nih... nyam... nampaknya lebih ok deh.

Foto2 bakcangnya Pak Rudy dapat dilihat di:

http://pg.photos.yahoo.com/ph/hannysan/my_photos

salamsutra,

hannysan.