<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129</id><updated>2012-02-15T08:03:07.808+07:00</updated><category term='cross posting'/><title type='text'>Understanding hannysan</title><subtitle type='html'>A Biography of hannysan: Jalan-jalan, Makan-makan, Nulis-nulis
&lt;br&gt;
&lt;br&gt;
&lt;strong&gt;
http://hannysanjs.multiply.com
http://www.facebook.com/hannysan
&lt;/strong&gt;</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hannysan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>47</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-8560695840726229417</id><published>2009-05-26T19:15:00.003+07:00</published><updated>2009-05-27T09:00:53.270+07:00</updated><title type='text'>Testing Video Server</title><content type='html'>&lt;p id='preview'&gt;The player will show in this paragraph&lt;/p&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;script type='text/javascript' src='swfobject.js'&gt;&lt;/script&gt; &lt;br /&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt; &lt;br /&gt;var s1 = new SWFObject('player.swf','player','400','300','9');&lt;br /&gt;s1.addParam('allowfullscreen','true');&lt;br /&gt;s1.addParam('allowscriptaccess','always');&lt;br /&gt;&lt;!-- s1.addParam('flashvars','file=Pantene.flv'); --&gt; &lt;br /&gt;s1.addParam('flashvars',"fullscreen=true&amp;bufferlength=2&amp;streamer=rtmp://203.24.26.167/simplevideostreaming&amp;file=Pantene.flv");&lt;br /&gt;s1.write('preview');&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-8560695840726229417?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/8560695840726229417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/8560695840726229417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2009/05/testing-video-server.html' title='Testing Video Server'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-7663416125613187129</id><published>2008-10-19T18:22:00.000+07:00</published><updated>2008-10-19T18:26:14.079+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cross posting'/><title type='text'>Testing cross posting between Multiply and Blogspot</title><content type='html'>Testing to post a picture on blogspot and cross posting to Multiply.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-7663416125613187129?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/7663416125613187129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/7663416125613187129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2008/10/testing-cross-posting-between-multiply.html' title='Testing cross posting between Multiply and Blogspot'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-114525593865948355</id><published>2006-04-17T13:38:00.000+07:00</published><updated>2006-05-14T23:33:32.463+07:00</updated><title type='text'>[Resto Review] Pecel Endang Bambang Gulindang di Kemanggisan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;Dear JS-ers...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;Bicara tentang Pecel, ini adalah makanan kegemaran sejak kecil. Maklum dari Jawa Tengah. Yang saya mau ceritakan kali ini adalah Pecel Madiun andalan saya sejak 1992. Harusnya saya tidak perlu menceritakan tempat makan yang dahsyat luar biasa ini, karena nanti kalau diserbu JS-ers wah, tempatnya yang kecil jadi penuh sesak, repot deh, hehehe..... &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;Warung Pecel sederhana ini brand aslinya (kini) cuman "WARUNG JATIM Sedia Pecel, dll." dalam Spanduk Hijau Spotlight di depan warungnya. Pecel rumahan, asli homemade cooking. Ownernya pasangan bapak-ibu asli Madiun. Duluuuu sekali... mereka buka jam 5 pagi, jam 8 sudah tutup karena diserbu pembeli. Dulu mereka tidak pernah pasang spanduk atau tulisan apapun. Dari segi Pecelnya, mereka meng-klaim dari Jatim/Madiun, tapi kok saya lihat pengaruhnya lebih ke Pecel2 di Semarang/Jateng ya? Antara lain dengan minimnya jumlah sayuran yang dipakai, tidak memakai timun dan kemangi, serta Rempeyek sebagai lauk utama..... Mungkin ada JS-ers ada yang mengetahui perbedaan Pecel2 dengan dialek Blitar, Madiun, Kediri, dll? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;Setelah berpindah-pindah di radius 100 meteran dan masih di sekitar Jl Kemanggisan Raya (tepatnya sekitaran Jl. Gilisampeng - jalan masuk ke Gereja MBK dan Sekolah Sang Timur), dan sempat tutup hampir setahun karena tidak punya tempat (maklum street food), sekarang buka lagi dengan mengontrak kios kecil di ujung belokan ke Gilisampeng. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;Pecelnya hanya memakai kacang panjang, bayam dan tauge. Simple. Tapi bumbunya itu lhooooooo.... sedep, kuenthel, pedes, manis..... tekstur kacangnya tidak diuleg sampai halus, malah sedikit coarse dan "mrongkol" (membentuk bongkahan2 kecil). Tapi di sinilah uniknya (dan enaknya) bila dibandingkan jenis Pecel Restoran yang sambalnya encer dan halus 100%. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;Karena harga sewa kiosnya mahal, sang ibu saat saya kunjungi pertama kali (setelah saya absen karena dianya yang tutup lama), dengan lugunya dan sifat khas orang jawa yang "tidak enakan" bilang, "pak, maaf nggih, sak niki reganipun mundhak, sewa kios-ipun sampun larang...". Sebuah kearifan khas Jawa. Aduhhhh kasihan ya boooo........ dan karena sewa kiosnya mahal, sekarang mereka buka sampai jam 3-4 sore, dan memasak berkali-kali. Sebuah korban ekonomi berbiaya tinggi di ibukota? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;Pun demikian, nasi pecel masih dibandrol 3K (atau 4K ya?), semua gorengan (tempe goreng, bakwan, perkedel, tempe dan tahu bacem) masih 500 rupiah! Ayam Goreng dan Empal antara 5K-6K......&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;Hebat ya? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Empalnya &lt;/b&gt;ukurannya besar, disunduk dengan skewer. &lt;b&gt;Ayam gorengnya &lt;/b&gt;empuk sekali, melted in your mouth, gilaaaa..... rasanya asin bawang biasa saja... padahal tidak dipresto! Jadi bisa dibayangkan kalau pesan Bagian Paha Atas, maka bila disenggol sedikit maka langsung putus antara bagian drumstick dan pinggul-nya.  &lt;b&gt;Telur Dadarnya &lt;/b&gt;selalu cepat habis, padahal cukup enak. Jadinya tidak sempat difoto. Warnanya kuning muda sekali dengan bentuk tebal seperti martabak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;My favorite biasanya adalah Nasi Pecel plus two of these options: &lt;b&gt;Tempe Goreng / Bakwan / Perkedel&lt;/b&gt;. Ingin rasanya plus ayam atau plus empal. Tapi rasanya jadi kebanyakan banget. But usually I can not resist for buying perkedel, bakwan, ayam, dan empal untuk lunch/dinner... atau.... untuk persediaan beberapa hari huahahahaha.... taruh dulu di kulkas... &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;Bumbunya? Hmm.... tinggal minta, dikasih segambreng bo... masih dalam bentuk utuh. Waktu diencerin dengan air hangat, huuuuu.... jadi 3-4 mangkok bakso, untuk beberapa kali makan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Perkedelnya? &lt;/b&gt;Wuah, cukup besar ukurannya. Tebel isinya dan empuk. Tidak "prongkolan" kentangnya dalam kualitas adonan yang superb bow... Kulit perkedelnya bertipe keriting2 karena menggunakan telur. Ini adalah perkedel dengan jenis di antara kulitnya dan isi-nya, masih ada semacam rongga, tapi tidak terlalu besar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Bakwannya? &lt;/b&gt;Empuk tapi tidak alot. Bakwannya jangan terlalu kering seperti di tukang gorengan, karena jadi kurang mantep saat disiram bumbu pecel... Bagi saya, definisi bakwan di sini mirip banget dengan "Badak" di Semarang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Tempe Gorengnya &lt;/b&gt;berbentuk kotak 6x6x4cm, kering dan crispy di luarnya, karena digoreng bawang juga menjadi asin (nyam), tetapi di dalamnya empuk juga, tidak keras. What an ideal tempe goreng....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;"The Three Musketeers"&lt;/b&gt; gorengan ini, kalau hanya dimakan begitu saja, rasanya sangat biasa saja. Keajaiban terjadi begitu dicampur Nasi Pecel dan disiram bumbu pecelnya... wah... benar-benar irresistible... ketiga benda ajaib ini akan benar-benar memberikan sensasi empuk, di tingkahi rasa bumbunya yang gurih, asin, manis dan pedas. Benar-benar suatu amalgam atau senyawa dan bukan sebagai pelengkap biasa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;Masih ada &lt;b&gt;Telur Balado (biasa saja), Ikan Kembung Masak Kuning dengan banyak cabe rawit (nyammmmmmm....), ikan Tongkol Balado, Ayam Opor, Aneka Rempeyek dan Tempe Kripik, Sayur Tahu Opor, Sayur Gorbachev (Gory aka Nangka), dll. &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;Hmmmm.... kalau sudah begini, masih ada yang menyangsikan dan masih tidak kepincut ingin ke sini? :-)))))))))&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Pecel Madiun Warung Jatim&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Jl. Kebun Jeruk Raya (antara Batusari ke Kemanggisan Raya/Tanjung Duren)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Samping Belokan Jalan Gilisampeng (Gereja MBK/Sekolah Sang Timur)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;Foto2 lengkap dengan aksesori2 (minus telur dadar) bisa disaksikan secara live dari &lt;b&gt;http://hannysanjs.multiply.com/photos/album/68&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;salamsutra,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:sans-serif;font-size:85%;"&gt;hannysan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-114525593865948355?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/114525593865948355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/114525593865948355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2006/04/resto-review-pecel-endang-bambang.html' title='[Resto Review] Pecel Endang Bambang Gulindang di Kemanggisan'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-113152755696299770</id><published>2005-11-09T16:12:00.000+07:00</published><updated>2005-11-11T17:46:20.326+07:00</updated><title type='text'>History of Bakcang and Bakcang Pak Rudy Sujanto JS</title><content type='html'>&lt;div class="Section1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic;font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;"I would prefer to jump into the river and be entombed in the stomachs of fishes than to bow while purity is defiled by vulgar pestilence..." &lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;-- &lt;?xml:namespace prefix = st1 /&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Chu&lt;/st1:place&gt; Yuan (Qu Yuan, 332-296 B.C.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"   style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;Chu Yuan adalah salah satu penyair (poet) terbesar Cina. Menurut sumber sejarah, puisi-puisi karyanya adalah puisi protes terhadap King Huai (329-299 B.C.) yang sibuk ingin melebarkan kekuasaan kerajaannya melalui cara-cara kekerasan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"   style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;Karena masalah perbedaan prinsip itulah, maka Chu Yuan yang tadinya menjabat sebagai Perdana Menteri, lantas dipecat. Chu Yuan akhirnya menyingkir ke daerah pinggiran Danau T'ung-ting di sebelah timur Hunan dan menjadi sastrawan dengan mengumpulkan legenda, ode, dan menulis puisi2 tragis untuk melawan Kaisar Li Sao. Akhirnya, setelah 7 tahun setelah dipecat menjadi Perdana Menteri, Chu Yuan yang meratapi nasibnya sendiri memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri secara tragis dengan cara menceburkan diri ke dalam sungai Milo di Provinsi Hunan, sehingga memberikan kesempatan ikan-ikan untuk melahapnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"   style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"   style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;Oleh karena itulah, maka setiap tahun kematiannya dirayakan pada tanggal 5 setiap bulan 5 dari penanggalan Cina dengan cara balapan kapal naga (dragon boat races) dan melemparkan butir2 beras (zongzi) ke dalam sungai. Dengan cara demikian orang percaya, butiran2 beras akan melindungi Chu Yuan dari sergapan ikan, karena perhatian ikan akan terbagi secara visual, maupun  membuat ikan menjadi kenyang lebih dulu dengan memakan butiran beras tersebut. Tradisi ini diteruskan turun temurun dengan pembuatan Bakcang, kue tradisional yang terbuat dari bahan dasar ketan (atau ada juga versi beras) berbentuk limas segitiga dibungkus daun, yang diisi oleh daging dan bahan2 lainnya. Tak jelas benar apakah sang ikan lebih memilih beras dan daripada tubuh si Chu Yuan =)). Kalau sang  ikan menganut pola hidup vegetarian bisa jadi mungkin Chu Yuan tidak disantap, tapi bila menganut Combining Food (bentuk plesetannya "Food Combining" kata Mas Ninok Leksono) mungkin sang ikan malah tambah kenyang karena selain melahap Chu Yuan, juga melahap zongzi. Itulah sekelumit kisah lahirnya what we so-called "Bakcang". Hari gini Bakcang masih diperingati sebagai "Bakcang Days" setiap tahunnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"   style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"   style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;Bicara mengenai Bakcang, saya sebenarnya kurang suka makanan yang satu ini. Saat saya kecil dulu di Semarang, bakcang yang saya kenal hanya satu macam dan seragam. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"   style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;Berukuran sedang, terbuat dari ketan (bukan beras), dan diisi daging babi cincang. Baik dibuat sendiri di rumah, maupun beli, semuanya sami mawon, setali tiga bakcang (eh, uang!), ya definisinya hanya di situ saja, tidak melebar kemana2. Rasanya manis, kadang warna dagingnya agak kemerahan karena pemilihan jenis daging has, tapi rata2 warnanya cenderung coklat-hitam, dengan rasa manis yang dominan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;It makes me for not being a big fan of bakcang... so-so aja... apalagi bikin perut amat sangat kenyang... waduh, nanti dulu deh. Appetizer kok bikin kenyang...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;Saat di Perth dulu, beberapa kali kami mengunjungi dim-sum tea house dengan Hongkong-style dishes. Saya mengenal Bakcang dengan sebutan "Sticky Rice", bakcangnya dibuat berukuran lebih besar, kira-kira 12cmx12cm dengan ketebalan 5-6 cm, dalam kemasan bungkus daun berbentuk kotak daripada prisma segitiga. Fillingnya agak berbeda, kalau tidak salah dagingnya bukan cincang, dan ada filling lain yang saya sudah lupa. Lagi-lagi (sigh!) it still makes me unsure why should I like this kinda  food... Entah mungkin karena menggunakan ketan, atau sizenya terlalu over, maka saya merasa Sticky Rice tipe ini jangan coba2 dimakan duluan, karena bisa-bisa perut langsung penuh, kembung, dan nggak bisa makan yang lain... padahal menu dimsum lain jauh lebih penting hehehe... makanya kami selalu atur strategi agar kalau mau pesan bakcang selalu share berdua (kalau perlu bertiga aka Threesome -- yah, bukan dim-some lagi deh), dan itupun dimakannya sebagai menu pamungkas di akhir acara! hehehe... Apalagi kalau dapat bakcang yang porsi ketannya banyak dan tebal, tapi porsi bagian fillingnya hanya ala-kadarnya... weks!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;Perkenalan saya dengan Sang Bakcang yang sangat monumental dan saya ingat-ingat menjadi salah satu milestone dalam hidup saya untuk lebih menghargai persamaan hak sang bakcang dibanding dengan makanan favorit saya yang lain, terjadi.... tahun ini, ya, tahun ini, hehehe... Inilah hari di mana pandangan saya tidak stereotip lagi terhadap bakcang sebagai makanan yang biasa-biasa saja...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;Suatu ketika saya mendengar rame-rame di JS tentang kedahsyatan Bakcang Pak Rudy Sujanto di Surabaya. Wuih, saya masih teteup teguh dengan pendirian saya, "Apatah enaknya bakcang?" dalam hati saya, paling semuanya sama saja: bikin kenyang, bahkan bisa jadi a good food to support diet karena akan bikin ilang feeling makan yang lain. Sudah capek ngunyahnya, lengket, rasanya biasa saja, eh, bikin "nyambung" lagi (kenyang thru kembung)...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;Setelah bajaj posting di JS berlalu, saya masih belum coba, sampai akhirnya saya iseng mencoba pesan Pak Rudy via email, setelah membaca posting Om Bondan tentang dahsyatnya Bakcang ini untuk menggantikan satu porsi makannya. Langsung deh saya ngiler dan pesan... Pak Rudy yang baik memberikan 2 pilihan: versi kecil dengan filling biasa, dan versi lebih besar dengan resep mertuanya ala Canton, keduanya akan sampai fresh dalam 24 jam, entah di manapun kita berada (hehehe... benar ya pak?)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"   style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;Yang kecil berbentuk limas segitiga tapi datang dengan ukuran jumbo. Sedangkan versi spesial berbentuk bantal dengan ukuran kira2 12x17cm, yang jelas lebih panjang dari sendok makan. Dengan ketebalan sekitar 5-6cm. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"   style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;Kedua ukuran bakcang dari Pak Rudy ini memiliki style yang berbeda, yang besar/spesial/jumbo berisi dua kuning telur telur asin dengan warna orange yang demikian mlekoh, daging babi dari bagian dua lapis pilihan (BYKS) diiris melintang sesuai alur daging dan mengikuti belahan horizontal dari sang bakcang dengan warna pink kecoklatan, 2 buah water chestnut berwarna kekuningan, potongan jamur shimeiji nan manis berwarna hitam. Saya menyebutkan warna-warna onderdilnya secara lengkap supaya bisa dibayangkan a simphony of colours extravaganza dengan sangat indah =)) Sedangkan ketannya cukup pulen dan lembut dengan campuran kacang hijau saat pembuatannya(BYKS lagi). Rasa bakcang ini manis cenderung lebih asin. Dan memang lebih asin rasanya dibandingkan versi yang biasa. Bakcang Super ini kalau dimakan sendirian kok rasanya greedy banget yaaaaa, karena ukurannya sangat besar, fillingnya juga sangat generous. You will never get a spoon of ketan without any filling deh kayaknya... ini yang sangat menakjubkan. Benar2 amazing deh bakcang yang satu ini...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;Ukuran bakcang yang biasa fillingnya sama persis dengan yang besar, hanya porsinya separuhnya (satu kuning telur telur asin) tetap dengan citarasa lebih manis, dan berwarna lebih coklat tua. Kalau tidak salah, daging 2 lapis spesial tidak diberikan sebagai fitur dalam bakcang biasa. Kata Pak Rudy sendiri, memang keduanya berbeda resep. Bakcang yang biasa mendukung resep bakcang yang biasa kita nikmati di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Sedangkan Bakcang Supernya mengacu resep mertua yaitu ala Cantonese. Saya sebenarnya lebih senang dengan taste yang biasa, karena cenderung lebih manis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"   style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;Inilah sekelumit pengalaman saya berjumpa dengan Sang Bakcang super. Terima kasih JS, yang sudah membolehkan saya lebih meningkatkan apresiasi terhadap makanan yang dulunya kurang saya perhatikan. BTW, saya jadi ingin pesan versi halalnya dengan daging ayam nih... nyam... nampaknya lebih ok deh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"   style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"   style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;Foto2 bakcangnya Pak Rudy dapat dilihat di:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"   style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;http://pg.photos.yahoo.com/ph/hannysan/my_photos&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"   style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;http://hannysanjs.multiply.com&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"   style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"   style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;salamsutra,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;hannysan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-113152755696299770?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/113152755696299770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/113152755696299770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2005/11/history-of-bakcang-and-bakcang-pak.html' title='History of Bakcang and Bakcang Pak Rudy Sujanto JS'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-113021855784422402</id><published>2005-10-25T12:35:00.000+07:00</published><updated>2005-10-25T12:43:58.746+07:00</updated><title type='text'>History of Bakcang and Bakcangnya Pak Rudy JS</title><content type='html'>&lt;div class="Section1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;"I would prefer to jump into the river and be entombed in the stomachs of fishes than to bow while purity is defiled by vulgar pestilence..." &lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 72pt; TEXT-INDENT: 36pt"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;-- &lt;?xml:namespace prefix = st1 /&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Chu&lt;/st1:place&gt; Yuan (Qu Yuan, 332-296 B.C.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Chu Yuan adalah salah satu penyair (poet) terbesar Cina. Menurut sumber sejarah, puisi-puisi karyanya adalah puisi protes terhadap King Huai (329-299 B.C.) yang sibuk ingin melebarkan kekuasaan kerajaannya melalui cara-cara kekerasan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Karena masalah perbedaan prinsip itulah, maka Chu Yuan yang tadinya menjabat sebagai Perdana Menteri, lantas dipecat. Chu Yuan akhirnya menyingkir ke daerah pinggiran Danau T'ung-ting di sebelah timur Hunan dan menjadi sastrawan dengan mengumpulkan legenda, ode, dan menulis puisi2 tragis untuk melawan Kaisar Li Sao. Akhirnya, setelah 7 tahun setelah dipecat menjadi Perdana Menteri, Chu Yuan yang meratapi nasibnya sendiri memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri secara tragis dengan cara menceburkan diri ke dalam sungai Milo di Provinsi Hunan, sehingga memberikan kesempatan ikan-ikan untuk melahapnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Oleh karena itulah, maka setiap tahun kematiannya dirayakan pada tanggal 5 setiap bulan 5 dari penanggalan Cina dengan cara balapan kapal naga (dragon boat races) dan melemparkan butir2 beras (zongzi) ke dalam sungai. Dengan cara demikian orang percaya, butiran2 beras akan melindungi Chu Yuan dari sergapan ikan, karena perhatian ikan akan terbagi secara visual, maupun membuat ikan menjadi kenyang lebih dulu dengan memakan butiran beras tersebut. Tradisi ini diteruskan turun temurun dengan pembuatan Bakcang, kue tradisional yang terbuat dari bahan dasar ketan (atau ada juga versi beras) berbentuk limas segitiga dibungkus daun, yang diisi oleh daging dan bahan2 lainnya. Tak jelas benar apakah sang ikan lebih memilih beras dan daripada tubuh si Chu Yuan =)). Kalau sang ikan menganut pola hidup vegetarian bisa jadi mungkin Chu Yuan tidak disantap, tapi bila menganut Combining Food (bentuk plesetannya "Food Combining" kata Mas Ninok Leksono) mungkin sang ikan malah tambah kenyang karena selain melahap Chu Yuan, juga melahap zongzi. Itulah sekelumit kisah lahirnya what we so-called "Bakcang". Hari gini Bakcang masih diperingati sebagai "Bakcang Days" setiap tahunnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Bicara mengenai Bakcang, saya sebenarnya kurang suka makanan yang satu ini. Saat saya kecil dulu di Semarang, bakcang yang saya kenal hanya satu macam dan seragam. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Berukuran sedang, terbuat dari ketan (bukan beras), dan diisi daging babi cincang. Baik dibuat sendiri di rumah, maupun beli, semuanya sami mawon, setali tiga bakcang (eh, uang!), ya definisinya hanya di situ saja, tidak melebar kemana2. Rasanya manis, kadang warna dagingnya agak kemerahan karena pemilihan jenis daging has, tapi rata2 warnanya cenderung coklat-hitam, dengan rasa manis yang dominan. &lt;/span&gt;It makes me for not being a big fan of bakcang... so-so aja... apalagi bikin perut amat sangat kenyang... waduh, nanti dulu deh. Appetizer kok bikin kenyang...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Saat di Perth dulu, beberapa kali kami mengunjungi dim-sum tea house dengan Hongkong-style dishes. Saya mengenal Bakcang dengan sebutan "Sticky Rice", bakcangnya dibuat berukuran lebih besar, kira-kira 12cmx12cm dengan ketebalan 5-6 cm, dalam kemasan bungkus daun berbentuk kotak daripada prisma segitiga. Fillingnya agak berbeda, kalau tidak salah dagingnya bukan cincang, dan ada filling lain yang saya sudah lupa. Lagi-lagi (sigh!) it still makes me unsure why should I like this kinda food... Entah mungkin karena menggunakan ketan, atau sizenya terlalu over, maka saya merasa Sticky Rice tipe ini jangan coba2 dimakan duluan, karena bisa-bisa perut langsung penuh, kembung, dan nggak bisa makan yang lain... padahal menu dimsum lain jauh lebih penting hehehe... makanya kami selalu atur strategi agar kalau mau pesan bakcang selalu share berdua (kalau perlu bertiga aka Threesome -- yah, bukan dim-some lagi deh), dan itupun dimakannya sebagai menu pamungkas di akhir acara! hehehe... Apalagi kalau dapat bakcang yang porsi ketannya banyak dan tebal, tapi porsi bagian fillingnya hanya ala-kadarnya... weks!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Perkenalan saya dengan Sang Bakcang yang sangat monumental dan saya ingat-ingat menjadi salah satu milestone dalam hidup saya untuk lebih menghargai persamaan hak sang bakcang dibanding dengan makanan favorit saya yang lain, terjadi.... tahun ini, ya, tahun ini, hehehe... Inilah hari di mana pandangan saya tidak stereotip lagi terhadap bakcang sebagai makanan yang biasa-biasa saja...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Suatu ketika saya mendengar rame-rame di JS tentang kedahsyatan Bakcang Pak Rudy Sujanto di Surabaya. Wuih, saya masih teteup teguh dengan pendirian saya, "Apatah enaknya bakcang?" dalam hati saya, paling semuanya sama saja: bikin kenyang, bahkan bisa jadi a good food to support diet karena akan bikin ilang feeling makan yang lain. Sudah capek ngunyahnya, lengket, rasanya biasa saja, eh, bikin "nyambung" lagi (kenyang thru kembung)...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Setelah bajaj posting di JS berlalu, saya masih belum coba, sampai akhirnya saya iseng mencoba pesan Pak Rudy via email, setelah membaca posting Om Bondan tentang dahsyatnya Bakcang ini untuk menggantikan satu porsi makannya. Langsung deh saya ngiler dan pesan... Pak Rudy yang baik memberikan 2 pilihan: versi kecil dengan filling biasa, dan versi lebih besar dengan resep mertuanya ala Canton, keduanya akan sampai fresh dalam 24 jam, entah di manapun kita berada (hehehe... benar ya pak?)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Yang kecil berbentuk limas segitiga tapi datang dengan ukuran jumbo. Sedangkan versi spesial berbentuk bantal dengan ukuran kira2 12x17cm, yang jelas lebih panjang dari sendok makan. Dengan ketebalan sekitar 5-6cm. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kedua ukuran bakcang dari Pak Rudy ini memiliki style yang berbeda, yang besar/spesial/jumbo berisi dua kuning telur telur asin dengan warna orange yang demikian mlekoh, daging babi dari bagian dua lapis pilihan (BYKS) diiris melintang sesuai alur daging dan mengikuti belahan horizontal dari sang bakcang dengan warna pink kecoklatan, 2 buah water chestnut berwarna kekuningan, potongan jamur shimeiji nan manis berwarna hitam. Saya menyebutkan warna-warna onderdilnya secara lengkap supaya bisa dibayangkan a simphony of colours extravaganza dengan sangat indah =)) Sedangkan ketannya cukup pulen dan lembut dengan campuran kacang hijau saat pembuatannya(BYKS lagi). Rasa bakcang ini manis cenderung lebih asin. Dan memang lebih asin rasanya dibandingkan versi yang biasa. Bakcang Super ini kalau dimakan sendirian kok rasanya greedy banget yaaaaa, karena ukurannya sangat besar, fillingnya juga sangat generous. You will never get a spoon of ketan without any filling deh kayaknya... ini yang sangat menakjubkan. Benar2 amazing deh bakcang yang satu ini...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ukuran bakcang yang biasa fillingnya sama persis dengan yang besar, hanya porsinya separuhnya (satu kuning telur telur asin) tetap dengan citarasa lebih manis, dan berwarna lebih coklat tua. Kalau tidak salah, daging 2 lapis spesial tidak diberikan sebagai fitur dalam bakcang biasa. Kata Pak Rudy sendiri, memang keduanya berbeda resep. Bakcang yang biasa mendukung resep bakcang yang biasa kita nikmati di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Sedangkan Bakcang Supernya mengacu resep mertua yaitu ala Cantonese. Saya sebenarnya lebih senang dengan taste yang biasa, karena cenderung lebih manis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Inilah sekelumit pengalaman saya berjumpa dengan Sang Bakcang super. Terima kasih JS, yang sudah membolehkan saya lebih meningkatkan apresiasi terhadap makanan yang dulunya kurang saya perhatikan. BTW, saya jadi ingin pesan versi halalnya dengan daging ayam nih... nyam... nampaknya lebih ok deh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Foto2 bakcangnya Pak Rudy dapat dilihat di:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;http://pg.photos.yahoo.com/ph/hannysan/my_photos&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;salamsutra,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;hannysan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-113021855784422402?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/113021855784422402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/113021855784422402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2005/10/history-of-bakcang-and-bakcangnya-pak.html' title='History of Bakcang and Bakcangnya Pak Rudy JS'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-112089055938147252</id><published>2005-07-09T13:27:00.000+07:00</published><updated>2005-07-11T13:52:55.620+07:00</updated><title type='text'>Resto Review: Kedai Nyonya Rumah</title><content type='html'>Hai,&lt;br /&gt;Nampaknya saya tidak akan merekomendasikan resto ini deh. Baik makanan maupun servisnya kurang ok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan baca sepenggal kisah di bawah ini...&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;Minggu lalu saat kami berlibur ke Bandung, secara tidak sengaja kami berkesempatan untuk makan siang di Kedai Nyonya Rumah di Jl. Trunojoyo, sebuah resto rumahan yang merupakan cabang dari resto bernama sama di Jl. Naripan. Dulu sekali, dr. Sindiarta Mulya, salah seorang rekan di Forum Jalansutra,  pernah bercerita juga mengenai resto ini di JS, yang saya ingat, dr. Sindi menceritakan konsep resto dengan suasana yang unik karena seolah2 kita makan di dalam rumah mengitari taman dan kolam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari menunjukkan pukul 13.30 saat kami memasuki kota Bandung saat kami sedang mencari tempat makan siang, saat itu Bandung diguyur hujan gerimis. Saya berencana makan di Ny. Beng, Jl. Bahureksa 3. Tetapi setelah mengitari Jl. Bahureksa - Trunojoyo 3x ditambah bertanya-tanya dan tidak bertemu juga tempatnya, eh, tahu2 ada resto Kedai Nyonya Rumah di sekitar situ. Dalam hati, wah, kebetulan, karena saya sebenarnya juga ingin mencoba rekomendasi beberapa teman lain mengenai resto ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resto ini benar2 rumahan dalam arti yg sebenarnya, karena disulap dari rumah gaya Belanda yang memang masih banyak di Bandung, tidak seperti di Jakarta yang dikepung ruko di mana2. Dengan arsitektur rumah gaya Indie tahun 60-70an, resto yang terletak di hoek ini memiliki beberapa anak tangga di pelataran teras untuk masuk ke restonya. Begitu masuk pintu utama, kita disambut dengan meja kasir yg disulap dari ruang tamu berukuran 3x4 dan dimanfaatkan sbg ruang penghubung antara teras dan ruang makan di tengah. Di dinding ditempel kliping dari koran majalah mengenai resto ini dan pemiliknya (sorry gak sempat baca). Di sisi wing sebelah kiri ada ruangan terpisah dan dipakai untuk semacam bakery kecil yg menjual bermacam2 penganan basah dan kering, baik yang asin seperti Lemper Lapis, Rijsoles, Bitterballen, sampai dengan kue-kue Belanda spt Moorkoppen (* jadi inget cangkriman dari nenek dan ibu saya: "burnaskopen = bubur panas kokopen" saat kecil dulu *), cheese stick, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img height="300" alt="KNR-Kue" hspace="0" src="http://mail.lecturer.binus.ac.id/~hannys1253/KNR-Kue.JPG" width="380" vspace="1" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kue2 Rijsoles, Bitterbalen, Lemper Lapis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup banyak yang lagi makan karena pas jam makan siang. Meja dan kursi kayu dengan style lama berbentuk bujursangkar sama sisi (don't be confused with this hyperbolic term yg gak penting banget geto loh) untuk 4 kursi menyebar di seluruh ruangan. Kira2 ada 10-15 meja. Di pelataran luar nampaknya ada pula beberapa meja (BYKS). Dapur ada di sisi kanan belakang rumah. Sedangkan 1/3 bagian tengah belakang dipergunakan untuk membuat taman kecil dilengkapi waterfalls buatan dengan jalan setapak menuju ke toilet di sisi kiri belakang. Di taman tersebut ada gerobak sate (?) untuk memanggang pesanan sate/BBQ. Dari segi interior, ambiance, dan kenyamanan, bisa dibilang cukup top deh. Apalagi kalau malam, mungkin lightingnya lebih ok lagi. Saya tidak sempat perhatikan apakah ada chandelier di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku pesanan datang dengan rapi berwarna hijau spt corporate color resto ini dengan background hijau dan tulisan kuning emas. Makanan yang disajikan antara lain masakan Indonesia "fusion" dan Masakan Eropa "standar" mendominasi. Terpaksa saya katakan masakan Indonesianya "fusion" karena nampaknya pakemnya dibuat sendiri. Contohnya ada "Nasi Megono", dengan keterangan Nasi, Sayur Urap, Ayam Bakar, dll, tanpa menggunakan "Megono"nya itu sendiri. (Sorry, AFAIK yang namanya Megono di Pekalongan itu kan sayur dari serpihan2 nangka muda, dan kelapa yg dimasak dengan tauco dan cabe yang pedes). Sedangkan masakan Eropa saya tulis "standar" karena nama2 menu yg generik yang muncul spt French Fries, Sirloin Steak, dsb. Kami segera memesan Nasi Ulam, Nasi Megono, Tahu Gimbal, Jus Guava, Jus Strawberry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesanan datang cukup cepat. Nah di sini mulai saya menyadari bahwa Nasi Ulam itu disajikan dengan nasi goreng (*dzig!*), ayam goreng serundeng (minimalis remah serundengnya), kerupuk udang, sesendok teh teri nasi goreng, sayur kering tempe basah berbentuk kubus, potongan telur dadar yang digulung menyerupai lumpia, dan sambal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img height="300" alt="KNR-NasiMegono" hspace="0" src="http://mail.lecturer.binus.ac.id/~hannys1253/KNR-NasiMegono.JPG" width="380" vspace="1" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nasi Megono Kedai Nyonya Rumah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasi Megono tampil dalam format yg mirip, bedanya menggunakan nasi putih, ayam goreng lengkuas, telur pindang separuh, urap wortel, kacang dan kol, 2 buah perkedel kelapa, satu sendok *teh* teri nasi goreng, ikan asin goreng tepung (saya tidak tahu jenisnya apa, bentuknya seperti bawal - bulat, tetapi kecil dengan diameter badan 3cm), kerupuk udang. Kedua hidangan nasi tadi dilengkapi pemanis berupa irisan ketimun dan setangkai kecil lalap menyerupai daun kemangi (lebih lebar). Tahu Gimbalnya saya kira tidak menyerupai Tahu Gimbal Semarang (memang gak salah sih karena nggak menyebut "a la Semarang"), isinya tahu goreng berbentuk kubus 1x1x1cm dan gimbal (bakwan udang) yang tebal, tapi kering, jadi cenderung keras, dan tidak crispy sama sekali, diiris relatively sama dengan tahu berbentuk segi empat dan segitiga mengikuti garis sisi bakwan. Selada hijau segar dan tauge dibuat sebagai baseline untuk menemani tahu gimbal tadi. Dressing bumbu kacang kental, sangat halus, seperti bumbu sate, disajikan terpisah di mangkuk kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img height="300" alt="KNR-NasiUlam" hspace="0" src="http://mail.lecturer.binus.ac.id/~hannys1253/KNR-NasiUlam.JPG" width="380" vspace="1" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nasi Ulam Kedai Nyonya Rumah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Nasi Ulam, saya belum pernah mengetahui pakemnya, apakah benar menggunakan nasi goreng yang cukup light rasanya dan cenderung tawar spt itu? Telur dadarnya tawar, ayamnya biasa saja, nothing special. Sambal juga khas resto, manis dengan sedikit pedas. Nasi Megononya juga biasa saja, nothing special. Tahu Gimbalnya tawar, baik tahu maupun gimbalnya. Jadi walaupun sudah dicelup ke bumbu kacangnya, tetap saja tidak ada sinergi yang baik antara bumbu dan tahu/bakwannya. Saya tidak yakin apakah selain di Semarang, ada daerah yang memiliki masakan bernama Tahu Gimbal juga. Anehnya, bakwannya tidak mengandung Udang sama sekali dan hanya berisi serpihan tauge dicincang tipis kasar. Modus menggorengnya menjadikan bakwan tepung ini "bantet" sebelum waktunya. Ciri khas Gimbal Udang Semarang yang biasanya terdiri dari 2-3 udang utuh berkulit dan berkepala berukuran sedang digoreng deep-fried secara well done, tipis, crispy, rich  dengan bumbu tidak ditemui sama sekali di sini. Sebaliknya malah dihasilkan bakwan taoge bertepung yang tebal, tidak crispy dan tawar. Sayang sekali! Di Semarang sendiri, ada lagi varian Gimbal Udang yang sedikit lebih tebal, biasanya untuk menemani Tahu Pong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img height="300" alt="KNR-TahuGimbal" hspace="0" src="http://mail.lecturer.binus.ac.id/~hannys1253/KNR-TahuGimbal.JPG" width="380" vspace="1" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tahu Gimbal Kedai Nyonya Rumah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, saya kurang puas makan di Kedai Nyonya Rumah ini. Dari segi rasa maupun keotentikan agak kurang. Variablility menu memang cukup lengkap. Suasana yang dibangun juga ok. Mungkin Kedai ini lebih ingin mengedepankan suasana dibanding kualitas produk makanannya sendiri. Dari segi kebersihan - cukup bersih, tetapi masih ada lalat yang berkeliaran. Dari segi harga, rata2 di atas 20K.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan servis? Wah, ini saya kurang puas. Saat menghidangkan Jus dengan gelas besar yang kami pesan, waiternya yang berseragam trainee (karyawan baru) tidak sengaja menumpahkan Jus tersebut ke istri saya. Akibatnya baju, celana, dan tas basah semua. Jusnya sendiri berkurang seperempat gelas besar. Apa yang dilakukan manajer dari resto ini? 2-3 kali ia melewati kami saat insiden berlangsung. Menatap saya tanpa rasa bersalah sama sekali, tapi tidak ada sedikitpun permintaan maaf keluar darinya. Waiter tadi dengan tulus meminta maaf berkali2. Dan beberapa menit kemudian manajer itu memanggil waiter dan memarahinya. Tetapi yang saya butuhkan sebenarnya adalah permintaan maaf dari manajer tsb. Masa dia berkali2 bolak balik tapi tidak minta maaf sama sekali. Saya sengaja tidak mau mengubah suasana liburan saya jadi horrible, jadi saya tahan2 saja sampai selesai, akibatnya pengamatan review makanannya juga lamat2 tidak sedemikian detail. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berjalan membayar ke kasir, manajer itu mendekati saya dengan lirih minta maaf, tetapi teteup saja sambil minta excuse "Maaf pak atas kejadian tadi, maklum karyawan baru..." wah, dalam hati saya, apa yang diucapkannya tadi benar2 tidak tulus dan tidak spontan, semuanya sudah diatur, seharusnya kalau dia mengucapkannya segera setelah insiden berlangsung, saya mungkin respek terhadapnya. Analisa saya mengatakan, mungkin dia malu bila terang2an minta maaf di depan tamu lain dan stafnya. Lho? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, bagaimana dengan nasib jus yang tumpah tadi? Tidak diganti tentu sajaaaaa.... masa resto mau rugi, Don't expect too much dengan customer services di kebanyakan resto di Indonesia. Masih sebatas lips service belaka... Ketulusan memang tidak murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, saya tidak akan kembali ke resto ini. Baik pelayanan dan makanannya mengecewakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;P.S. Tentang Tahu Gimbal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di Semarang, Tahu Gimbal biasanya tampil sebagai Hawker Food seperti halnya Mie Lontong, Bakmi Godhog dengan tungku arang (di Jakarta kita sebut Bakmi Jawa), dan Babat Gongso/Nasi Goreng Babat yang dijajakan keluar masuk kampung dengan "gledhekan" aka Gerobak Dorong. Saya berusaha mengingat2 pakem Tahu Gimbal di Semarang, maaf kalau salah, karena sudah lama sekali tidak makan... biasanya Tahu Gimbal sendiri terdiri dari Tahu Putih yang dipotong berbentuk kubus, digoreng kering, cook as ordered, dengan Bakwan Gimbal Udang dengan jumlah tepung minimalis, karena yang ditonjolkan adalah Udangnya(!), dengan tingkat ketipisan yang lumayan. Bumbu kacangnya digerus kasar dari Kacang Goreng Sangan (kacang tanah goreng, masih berkulit arie), bawang putih, air asam jawa (BYKS), cuka (BYKS), dll. Kacang Goreng Sangan ini yang benar2 membedakan karena aroma "sangit" jadi keluar. Dressing yang dihasilkan ini cukup encer, dan jauh sekali dari pakem Bumbu Kacang untuk Sate. Sedangkan sayuran yang dipakai adalah potongan tipis memanjang Kol, dan Tauge(BYKS - sudah lama banget sih). Bisa juga ditambahkan lontong bila diinginkan, hanya saja tidak semua vendor Gimbal yang sudah hampir punah ini tidak menyediakan lontong.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-112089055938147252?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/112089055938147252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/112089055938147252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2005/07/resto-review-kedai-nyonya-rumah.html' title='Resto Review: Kedai Nyonya Rumah'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-111837647403236060</id><published>2005-06-10T11:07:00.000+07:00</published><updated>2005-06-10T11:07:54.080+07:00</updated><title type='text'>[Cooking Tip] Fungsi Bir untuk Onion Ring</title><content type='html'>&lt;p class="mobile-post"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Tulisan IKHH diambil dari Milis JS&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;From: "irvankarta"&lt;br /&gt;Date: Fri Jun 10, 2005  7:52 am&lt;br /&gt;Subject: Fungsi Bir (was Re: Tanya Resep Onion Ring)&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Hai..hai..&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Teh Shirley, Keluarga JS-ku,&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Ini BYKS bangets-bangets.. Adi, Ratna, tulungs..&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Ada dua fungsi beer dalam pembuatan adonan cair (untuk membedakannya&lt;br /&gt;dengan adonan roti yang 'kalis').&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Pertama membuat rasa. Jejak yeast (jejak, bukan yeast-nya) dalam&lt;br /&gt;beer bisa memberi rasa gurih. Yeast extract adalah salah satu bahan&lt;br /&gt;yang sering digunakan untuk taste enhancer. Efek taste enhancer beer&lt;br /&gt;memang tidak hanya diperoleh dari jejak yeast (yang sudah difilter&lt;br /&gt;dll), tapi juga bisa berasal dari residu gula, residu resin, bahan&lt;br /&gt;kimia hasil fermentasi dll yang terkandung dalam beer. Yang penting,&lt;br /&gt;ini memberi rasa tambahan pada adonan.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Kedua adalah memberi kerenyahan. Beer dikenal menghasilkan gelembung-&lt;br /&gt;gelembung gas yang halus (tech speak: CO2). Adonan yang melapisi&lt;br /&gt;bawang (in case of onion ring), sebenarnya mengandung butiran halus&lt;br /&gt;gas ini, makanya mengembang. Ketika digoreng, panas akan melepaskan&lt;br /&gt;gas ini ke udara dan mengeringkan adonan. Hasilnya adalah crust yang&lt;br /&gt;kering tapi berongga-rongga halus, tempat gelembung kecil itu&lt;br /&gt;tadinya bersemayam. Ketika digigit, diperoleh gorengan yang kresss,&lt;br /&gt;dan bukan krakkkk alias getas (kering masif).&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Beer bisa diganti!! Paling yang hilang hanya rasa. Tapi kalau anda&lt;br /&gt;memasukkan kaldu ayam bubuk ke adonan, toh subtle taste dari beer&lt;br /&gt;juga akan hilang. Jadi yaa.. gitu deh.. Eh, maksudnya nggak usah&lt;br /&gt;terlalu khawatir dengan efek rasa tambahan dari beer.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Yang penting dicari adalah gelembung gasnya. Gelembung gas bisa&lt;br /&gt;diperoleh dari baking soda atau soda water (ya, air soda buat bikin&lt;br /&gt;soda gembira itu). Sayangnya gelembung gas yang dihasilkan soda&lt;br /&gt;water biasanya agak kasar (gede-gede dan kasar aja di lidah). Merk&lt;br /&gt;ZODA tuh lumayan halus, tapi kalau mau yang haluuus banget pake&lt;br /&gt;sparkling waternya Equil aja (ya.. saya mendengar beberapa orang&lt;br /&gt;berkata "Hayyaahh" :).&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Sprite juga cukup halus gelembungnya cuma rasa manisnya aja&lt;br /&gt;mengganggu. Bisa sih dipake kalau mau bikin pisang goreng. Kalo&lt;br /&gt;Onion ring, nggak banget deh ya..&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Baking soda juga menghasilkan gelembung gas ketika mengalamai&lt;br /&gt;pemanasan. Jadi gelembung-gelembung halusnya baru muncul ketika&lt;br /&gt;proses pemanasan dilakukan, bukan pada saat adonan dibuat. Itu&lt;br /&gt;makanya kue yang pake baking soda ngembangnya di oven, bukan di&lt;br /&gt;baskom (hence the name 'baking' soda). Kesulitannya di onion ring&lt;br /&gt;atau gorengan adalah nentuin seberapa banyak baking soda yang harus&lt;br /&gt;dipake. Tapi kalo udah beberapa kali nyobain mah tau sih (pakainya&lt;br /&gt;dikit kok). Kesulitan kedua adalah timing dan temperature. Pada suhu&lt;br /&gt;dan waktu kapankah gas CO2 dilepas dan pada suhu berapa adonan&lt;br /&gt;mengering. Kalo adonan kering duluan sebelum CO2 terlepas, jadinya&lt;br /&gt;ya gorengan yang getas. Kalau gasnya udah lepas sementara adonan&lt;br /&gt;nggak kerin, jadinya gorangannya lepek..&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Well.. ternyata susah ya? Umm.. nggak juga sih sebenernya.. ini mah&lt;br /&gt;saya aja yang nakut-nakutin.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Anyway, saya nggak minum beer. Cara saya bikin onion ring adalah&lt;br /&gt;terigu, telur, kaldu bubuk diaduk pake soda water sampe rada encer.&lt;br /&gt;Udah. Bawangnya dipotong melingker, dimasukkin freezer sampe beku.&lt;br /&gt;Celupin ke adonan terus langsung plung ke minyak panas. That's it..&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Ngapain bawangnya mesti dimasukkin ke freezer dulu? Well.. tampaknya&lt;br /&gt;itu bisa jadi satu mata kuliah tersendiri :) Pokoknya dengan&lt;br /&gt;demikian, bawangnya nggak cepet lepek..&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;So, soda water plus kaldu bubuk bisa menggantikan beer (hanya untuk&lt;br /&gt;adonan onion ring! Saya nggak rekomendasi anda minum soda pake royco&lt;br /&gt;karena kehabisan stock Budweiser di rumah:)&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Yaaa... gitu deehh...&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;wass,&lt;br /&gt;irvan karta&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;--- In jalansutra@yahoogroups.com, Shirley Perriscilla Sebastian&lt;br /&gt;&amp;lt;s_perriscilla_s@y...&amp;gt; wrote:&lt;br /&gt;&amp;gt; Dear JSers,&lt;br /&gt;&amp;gt;&lt;br /&gt;&amp;gt; Saya mo minta tolong lagi nih T_T, ada yg tau resep untuk membuat&lt;br /&gt;Onion Ring gak ? Saya sudah coba browse, tapi resepnya sedikit aneh,&lt;br /&gt;karena pakai bir, apakah Onion Ring menggunakan bir ? Tolong yah.&lt;br /&gt;Thanks in advance :-)&lt;br /&gt;&amp;gt;&lt;br /&gt;&amp;gt;&lt;br /&gt;&amp;gt; Rgds,&lt;br /&gt;&amp;gt;&lt;br /&gt;&amp;gt; Shirley.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-111837647403236060?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111837647403236060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111837647403236060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2005/06/cooking-tip-fungsi-bir-untuk-onion.html' title='[Cooking Tip] Fungsi Bir untuk Onion Ring'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-111811435152851883</id><published>2005-06-07T10:19:00.000+07:00</published><updated>2005-06-07T10:19:11.530+07:00</updated><title type='text'>Kembang Goela - Resto Peranakan Baru di Tengah Kota  </title><content type='html'>&lt;p class="mobile-post"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;From: "Yohan Handoyo" http://www.yohanhandoyo.com&lt;br /&gt;Date: Mon Jun 6, 2005  10:15 pm&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Jakarta tampaknya tidak pernah berhenti menawarkan pengalaman kuliner baru&lt;br /&gt;bagi para penghuninya. Baru-baru ini saya dan Aryo diundang untuk mencoba&lt;br /&gt;restoran baru di bilangan Semanggi yang menawarkan konsep masakan&lt;br /&gt;peranakan.&lt;br /&gt;Kembang Goela namanya.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Istilah masakan peranakan di Malaysia dan Singapura mengacu pada masakan&lt;br /&gt;peranakan Cina - Melayu atau yang sering disebut sebagai masakan Babah&lt;br /&gt;Nyonya (atau Babah Nonya) atau dalam bahasa Inggrisnya: Strait Chinese.&lt;br /&gt;Konon sejarah masakan ini bermula dari abad ke 15 saat seorang putri dari&lt;br /&gt;Cina dinikahkan dengan seorang pangeran dari Malaka. Saat diboyong ke&lt;br /&gt;negeri&lt;br /&gt;yang baru, sang putri membawa serta ratusan dayang-dayang yang bertugas&lt;br /&gt;merawat dan menemani putri tersebut - dan bukan kebetulan jika&lt;br /&gt;dayang-dayang&lt;br /&gt;ini juga pandai memasak.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Dayang-dayang ini akhirnya juga menikah dengan para pria setempat dan tetap&lt;br /&gt;tinggal di negara yang baru di mana akhirnya terjadi asimilasi budaya baru,&lt;br /&gt;termasuk budaya kuliner. Dari sinilah muncul kombinasi baru teknik masak&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;bahan dari Cina dan Melayu yang mampu menciptakan resep-resep baru yang&lt;br /&gt;lezat. Laksa misalnya. Masakan berkuah ini menggunakan mie yang merupakan&lt;br /&gt;bahan khas dari Cina dan santan, bunga kecombrang, belacan, dan asam yang&lt;br /&gt;banyak melimpah di Malaka - sungguh suatu kombinasi yang baru namun juga&lt;br /&gt;lezat.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Di Indonesia, istilah masakan peranakan ini tidak hanya mengacu pada&lt;br /&gt;masakan&lt;br /&gt;Peranakan Cina-Indonesia, namun juga biasa digunakan untuk menyebut masakan&lt;br /&gt;yang dipengaruhi oleh budaya kuliner Belanda. Secara lebih spesifik jenis&lt;br /&gt;makanan ini sering disebut sebagai masakan peranakan Indo-Belanda, atau&lt;br /&gt;masakan gaya kolonial.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Masakan peranakan Indo-Belanda inilah yang menjadi tema sentral restoran&lt;br /&gt;Kembang Goela meskipun ada juga beberapa masakan yang sangat Indonesia.&lt;br /&gt;Tema&lt;br /&gt;kolonial ini sudah mulai terasa saat kita masuk dalam restoran yang berdiri&lt;br /&gt;di bekas bangunan Kafe Latte di kompleks Plaza Sentral - lantainya&lt;br /&gt;menggunakan teraso ukuran besar, mebelnya khas jadoel (jaman doeloe),&lt;br /&gt;atapnya tinggi dengan cat dinding warna putih yang juga khas rumah kuno.&lt;br /&gt;Bedanya yang ini hawanya adem karena sistem AC yang cukup bagus. Para&lt;br /&gt;pramusaji di sana juga menggunakan setelan putih dan kopiah yang entah&lt;br /&gt;kenapa mengingatkan saya pada baju mahasiswa tahun 1928.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Siang itu Ibu Lily - pemilik restoran ini yang kebetulan juga pemilik&lt;br /&gt;restoran Meradelima - memesankan cukup banyak jenis hidangan untuk kita&lt;br /&gt;cicipi bersama. Awalnya saya diminta datang untuk icip-icip saja tapi&lt;br /&gt;berhubung saya terkesan dengan kelezatannya, akhirnya saya tulis juga&lt;br /&gt;sebagai artikel ini. Menu pertama yang kita cicipi adalah Huzarensalade&lt;br /&gt;dengan potongan bit, wortel, nanas, apel dan potongan ayam yang sangat&lt;br /&gt;terasa segar di makan di siang hari. Kentara sekali bahwa buah dan&lt;br /&gt;sayurannya sangat segar dan berkualitas baik. Sausnya yang diberi judul&lt;br /&gt;home-made Dutch sauce sebetulnya adalah mayonaise gaya khas Indo-Belanda&lt;br /&gt;yang berwarna kuning dan terasa gurih dan segar.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Loempia sayur yang datang kemudian muncul dengan tampilan yang biasa-biasa&lt;br /&gt;saja tapi terasa luar biasa di setiap gigitannya. Gurih, renyah, dan lezat&lt;br /&gt;disajikan dengan saus asam manisnya.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Ikan kerapu goreng asam manis yang datang berikutnya juga sangat enak.&lt;br /&gt;Potongan ikannya terasa kering dan renyah di luar tapi masih menyisakan&lt;br /&gt;tekstur yang "moist" di dalam - tanda bahwa ikan ini digoreng dengan teknik&lt;br /&gt;yang sempurna. Rasanya sendiri agak pedas dan aroma daun jeruk purutnya&lt;br /&gt;sangat wangi dan mampu mengimbangi aroma cabe dan bawang yang sebetulnya&lt;br /&gt;agak kuat. Very nice.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Loempia semarang restoran ini datang dalam presentasi yang sangat menarik.&lt;br /&gt;Lumpianya digulung kecil seperti cheese stick dan disajikan dalam gelas&lt;br /&gt;bersama potongan wortel dan chives sebagai garnish. Rasanya lumayan, namun&lt;br /&gt;saya pribadi lebih suka lumpia ukuran normal karena lumpia langsing model&lt;br /&gt;begini lebih terasa kulit dan minyaknya daripada isinya. Tapi entah mengapa&lt;br /&gt;justru loempia Semarang ini justru jadi salah satu best seller di sana. Ah,&lt;br /&gt;selera orang boleh saja beda, kan?&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Di bagian light meals dan soup sebetulnya ada menu lain khas gaya kolonial&lt;br /&gt;seperti kroket, bitterballen, tomatensoep, dan erwtensoep. Sayang siang itu&lt;br /&gt;saya tidak sempat mencobanya tapi lain kali saya akan datang lagi karena&lt;br /&gt;saya tergila-gila dengan bitterballen.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Menu jagoan saya yang lain siang itu adalah Beef Nederlands Indie yaitu&lt;br /&gt;daging rib eye yang di marinate dengan rempah-rempah dan kemudian di&lt;br /&gt;panggang. Sebetulnya ini adalah modifikasi bistik khas Indo-Belanda,&lt;br /&gt;bedanya&lt;br /&gt;adalah daging dalam menu ini dipanggang (cara orisinalnya adalah dimasak&lt;br /&gt;dalam kuah kaldu dan tomat) dan disajikan dengan tampilan yang sangat&lt;br /&gt;western. Rasanya? Mantap! Sayang ada beberapa potong daging yang dipanggang&lt;br /&gt;terlalu kering.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Tak lama kemudian datang lagi Bebek Boemboe Lengkoeas dengan rasa dan&lt;br /&gt;tampilan yang sangat "lokal". Bebeknya gurih dan kering dan serundeng&lt;br /&gt;lengkuasnya juga terasa cukup enak menemani sepiring nasi putih panas.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Sampai sini sebetulnya perut saya sudah minta istirahat, tapi Kari Hijau,&lt;br /&gt;Roti Jala, dan Daun Singkong Tumbuk yang datang di kloter berikutnya&lt;br /&gt;terlalu sayang untuk dilewatkan. Roti Jalanya menurut saya cukup baik -&lt;br /&gt;tidak terasa "nepung" seperti banyak roti jala lainnya dan cocok untuk&lt;br /&gt;dicocolkan ke kari hijaunya. Untuk saya pribadi, kari hijau di Kembang&lt;br /&gt;Goela&lt;br /&gt;agak terlalu kuat rasanya, saya cenderung lebih suka kari yang karakter&lt;br /&gt;santan dan bumbunya lebih lembut. Daun singkong tumbuk yang saya cicipi&lt;br /&gt;kemudia agak terlalu kuat rasa dan aroma bunga kecombrangnya.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Setelah istirahat beberapa saat, Ibu Lily memesan Tape Goreng dan Es Blande&lt;br /&gt;Kangen untuk saya. Tape gorengnya not bad, tapi es Blande Kangen yang&lt;br /&gt;merupakan campuran kacang hijau, kolang-kaling, dan santan harus saya&lt;br /&gt;acungi&lt;br /&gt;jempol karena terasa segar dan ringan di mulut, tidak membuat eneg meskipun&lt;br /&gt;menggunakan santan.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Sampai sini perut saya betul-betul sudah over capacity, namun saya sempat&lt;br /&gt;membaca beberapa menu lain yang membuat saya berjanji untuk datang lagi&lt;br /&gt;lain&lt;br /&gt;kali. Tapi yang akan betul-betul saya tunggu adalah Rijstaffel nya.&lt;br /&gt;Rijstaffel adalah gaya makan siang khas Kolonial jaman dulu dimana kita&lt;br /&gt;akan&lt;br /&gt;dilayani oleh barisan pelayan yang tiap orangnya membawa berbagai makanan&lt;br /&gt;dan delicacies yang berbeda. Gaya makan seperti ini sudah hampir punah dan&lt;br /&gt;setahu saya restoran lain yang menyajikannya di Jakarta hanyalah Oasis yang&lt;br /&gt;sekarang juga sudah kurang terdengar lagi namanya.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Dengan rasa dan kualitas makanan yang baik serta harga yang masuk akal,&lt;br /&gt;saya&lt;br /&gt;rasa Kembang Goela bisa jadi alternatif baru yang harus dikunjungi oleh&lt;br /&gt;para&lt;br /&gt;penikmat makanan di Jakarta. Saya hanya berharap agar mereka juga bisa&lt;br /&gt;menjaga konsistensi rasa, kualitas, dan pelayanan karena hal ini selalu&lt;br /&gt;menjadi tantangan tiada henti bagi pihak restoran.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;--yohan&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-111811435152851883?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111811435152851883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111811435152851883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2005/06/kembang-goela-resto-peranakan-baru-di.html' title='Kembang Goela - Resto Peranakan Baru di Tengah Kota  '/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-111811408177754822</id><published>2005-06-07T10:14:00.000+07:00</published><updated>2005-06-07T10:14:41.800+07:00</updated><title type='text'>Gurame Bakar ala Minang  </title><content type='html'>&lt;p class="mobile-post"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;From: gatot purwoko&lt;br /&gt;Date: Tue Jun 7, 2005  7:05 am&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Sobats,&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Di Jakarta mudah kita temui gurame bakar ala Pasundan&lt;br /&gt;dengan berbagai aksennya masing masing, di berbagai&lt;br /&gt;“kuring”. Nah, yang satu ini berbeda.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Ikan berukuran 500 sampai 700 gram dibelah searah&lt;br /&gt;pipihnya tubuh sehingga melebar dan terbuka bagian&lt;br /&gt;perutnya. Kemudian tampaknya di lumuri atau bahkan&lt;br /&gt;melalui proses marinade dengan bumbu merah kuning yang&lt;br /&gt;khas Minang, satu aliran dengan bumbu ayam bakar yang&lt;br /&gt;umum terdapat di rumah makan padang.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Gurihnya daging gurame menjadi lebih kompleks&lt;br /&gt;diperkaya oleh spektrum rasa santan bakar. Penggunaan&lt;br /&gt;kunyit yang dominant juga mengkikis habis segala aroma&lt;br /&gt;dan rasa amis ikan air tawar yang kadang mengganggu.&lt;br /&gt;Secara umum cita rasa yang dihadirkan adalah dalam&lt;br /&gt;koridor rasa pedas, gurih dan asin dengan skala yang&lt;br /&gt;lengkap. Tak terasa, dua piring nasi putih diperlukan&lt;br /&gt;untuk menghabiskan seekor ikan tadi.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Restoran tersebut berlokasi di Jl Jend Gatot Soebroto&lt;br /&gt;No 127, Jakarta Selatan. Memasang plang nama&lt;br /&gt;bertuliskan, Restoran “Serba Nikmat”, yang kalau dari&lt;br /&gt;arah Pancoran beberapa meter sebelum persimpangan&lt;br /&gt;Kuningan. Tampak luar maupun tampak dalam, tempatnya&lt;br /&gt;kurang meyakinkan. Puji syukur rasa ragu terhapus oleh&lt;br /&gt;mutu makanan.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Oh ya, dalam satu lokasi halaman besar, di situ ada&lt;br /&gt;tempat cuci mobil. Jadi sambil makan sambil cuci&lt;br /&gt;mobil.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;salam, GP&lt;br /&gt;Jakarta&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-111811408177754822?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111811408177754822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111811408177754822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2005/06/gurame-bakar-ala-minang.html' title='Gurame Bakar ala Minang  '/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-111810963015303752</id><published>2005-06-07T09:00:00.000+07:00</published><updated>2005-06-07T09:00:30.196+07:00</updated><title type='text'>Ambai, Fusion Japanese Resto (The Hidden Delicacy)  </title><content type='html'>&lt;p class="mobile-post"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Posting Lisa Virgiano di milis JS. Thanks Lisa...&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;From: "v1rgy" &amp;lt;v1rgy@...&amp;gt;&lt;br /&gt;Date: Tue Jun 7, 2005  5:51 am&lt;br /&gt;Subject: [REVIEW] : Ambai, Fusion Japanese Resto (The Hidden Delicacy)&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Ambai&lt;br /&gt;Jl. Melawai VIII no. 4, Level floor&lt;br /&gt;Blok M&lt;br /&gt;Telp : (021) 72798463&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;" Weekend kemarin kemana aja, Len?", sapa saya pada Senin pagi&lt;br /&gt;ketika bertemu dengan rekan kantor saya. " Gue ke supermarket Papaya&lt;br /&gt;siang-siang, abis bawa mobil ke bengkel. Gila, gue kayak orang kalap&lt;br /&gt;begitu masuk Papaya, jadi inget ama supermarket Jepang di Seattle&lt;br /&gt;pas gue kuliah dulu..", sahut teman saya kemudian.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Percakapan ini terus berlanjut sampai akhirnya kita berdua menyadari&lt;br /&gt;bahwa Sabtu kemarin kita memiliki 1 tujuan tempat makan yang sama,&lt;br /&gt;yakni Ambai, yang terletak dekat dengan supermarket Papaya. Namun&lt;br /&gt;bedanya, rekan kerja saya tidak cukup beruntung untuk mengunjungi&lt;br /&gt;Ambai karena dia terpaksa makan ke Hazara bersama teman-temannya.&lt;br /&gt;Sementara saya, kebalikannya. Saya menghabiskan malam minggu bersama-&lt;br /&gt;sama dengan beberapa anggota keluarga terdekat, ya..keluarga JS!!&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Pergi ke Ambai sebenarnya bukanlah ide saya. Niat ini tercetus oleh&lt;br /&gt;Tina, ketika saya bertemu kembali dengan rekan-rekan Jsers di Plaza&lt;br /&gt;Senayan pada sore hari setelah kita pergi makan ke Kwetiauw Amung.&lt;br /&gt;Ya…okeylah, saya pikir. Habis perut sudah lapar banget sehabis&lt;br /&gt;melakukan kunjungan kerja ke JCC dan bercuap-cuap sepanjang sore di&lt;br /&gt;sana.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Perjalanan menuju Ambai kami tempuh hanya dalam waktu 20 menit dari&lt;br /&gt;Plaza Senayan. Begitu ketemu lampu merah Blok M Plaza dari arah Jl.&lt;br /&gt;Sisingamangaraja, kita belok kiri menuju Jl. Melawai. Langsung ambil&lt;br /&gt;jalur lambat, belokan pertama belok kiri lagi. Kita langsung melihat&lt;br /&gt;supermarket Jepang, Papaya, di sudut kiri jalan. Tempat parkir sudah&lt;br /&gt;nampak penuh. Kawasan Melawai ini terkenal sekali dengan&lt;br /&gt;sebutan "Little Tokyo". Di kanan kiri jalan nampak kedai-kedai&lt;br /&gt;karaoke dan pub malam yang bernamakan Jepang maupun Korea. Lampu&lt;br /&gt;kelap kelip gedung nampak semakin kontras dengan penampilan malam&lt;br /&gt;yang pekat kala itu.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Kami sedikit kesulitan menemui restoran Ambai. Karena restoran ini&lt;br /&gt;tidak memasang papan nama sama sekali. Restoran ini terletak di&lt;br /&gt;lantai dasar sebuah gedung tinggi berarsitektur modern yang sarat&lt;br /&gt;dengan hiburan malamnya. Kami berhasil menemukan restoran ini karena&lt;br /&gt;bertanya-tanya dulu ke sana kemari. Bila Anda baru pertama kali ke&lt;br /&gt;Ambai, saran saya, tanya saja ke tukang parkir, ketimbang harus&lt;br /&gt;buang waktu mencari-cari restoran ini.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Begitu masuk, ambience modern minimalis makin kental terlihat di&lt;br /&gt;setiap sudut ruangan. Luas ruangan saya perkirakan hanya 200 m2.&lt;br /&gt;Namun pengaturan letak meja dan kursi yang sedemikian rupa, ada yang&lt;br /&gt;menggunakan kursi modern, ada juga yang bergaya lesehan Jepang,&lt;br /&gt;letak cermin, permainan lighting, serta dekorasi bambu yang cantik&lt;br /&gt;membuat ruangan ini nampak luas dan bersahabat.&lt;br /&gt;Begitu melihat menu, kok rasanya hati ini gak sreg sama menu yang&lt;br /&gt;ditawarkan? Bukan apa-apa, alasan pertama adalah karena minimnya&lt;br /&gt;variasi menu yang ditawarkan, saya tidak menemui menu makanan Jepang&lt;br /&gt;kebanyakan, seperti Tepanyaki, Tempura, Shabu-shabu, dll. Yang ada&lt;br /&gt;hanyalah beberapa menu dalam bahasa Jepang plus terjemahan bahasa&lt;br /&gt;Inggris yang sangat minim kata-kata. Alasan kedua adalah mahalnya&lt;br /&gt;harga yang ditawarkan untuk kelas-kelas restoran Jepang di kawasan&lt;br /&gt;ini. Bayangkan 1 mangkok nasi putih ditawarkan 17 ribu rupiah!!!!&lt;br /&gt;Harga makanan berkisar antara Rp. 35.000 sampai dengan Rp. 110.000&lt;br /&gt;dengan porsi yang kecil, hanya cukup untuk 1-2 orang saja.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Alamak, bisik hati saya. Mending gue ke Papaya dulu degh, liat-liat&lt;br /&gt;makanan. Mungkin cara ini bisa menentramkan penolakan yang datang&lt;br /&gt;dari pikiran saya tentang resto ini. Begitu sampai di Papaya, rekan-&lt;br /&gt;rekan Jsers ada yang berburu edamame, kacang yang menyerupai kacang&lt;br /&gt;polong, untuk direbus sebagai camilan kecil. Saya sendiri menemukan&lt;br /&gt;penawaran spesial dari Papaya, yakni semua paket sushi diskon 50%&lt;br /&gt;mulai dari jam 20.00 setiap harinya. Akhirnya, saya membeli 1 paket&lt;br /&gt;californian roll sushi berisi 6 buah ukuran besar yang dibandrol&lt;br /&gt;Rp.11.500 saja (sudah diskon).&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Sepulang dari Papaya, ternyata Tina sudah mulai memesan makanan di&lt;br /&gt;Ambai. Yah, saya sih nurut saja…Sambil menunggu, kita mencicipi 1&lt;br /&gt;buah sweet cheese cake yang dibeli Nathalia di Papaya dengan harga&lt;br /&gt;Rp. 15.600. Uahh, kue ini enak. Teksturnya lembut, tidak creamy,&lt;br /&gt;namun rasa kejunya terasa sekali. Two thumbs up untuk kue ini!!!!&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Tidak lama berselang datanglah rentetan makanan yang menyerbu meja&lt;br /&gt;kita tanpa berhenti. Dengan sepasang sumpit di tangan, saya siap&lt;br /&gt;mencicipi rasa makanan di Ambai ini. Menu pertama yang datang adalah&lt;br /&gt;assorted sashimi. 1 nampan besar berisi 18 potong daging ikan segar&lt;br /&gt;yang nampak cantik dengan penampilannya yang ditata sedemikian rupa.&lt;br /&gt;Wasabi dan pasta jahe berada berdampingan di sisi nampan. Saya&lt;br /&gt;langsung mengambil daging tuna berwarna merah segar. Hmm, dagingnya&lt;br /&gt;segar sekali, kenyal, dan tidak bau amis. Kemudian ada daging ikan&lt;br /&gt;Cod yang sudah diasapi sehingga rasanya sedikit asin, dan daging&lt;br /&gt;ikan lainnya yang tidak terdeteksi oleh mata saya. Totally, kualitas&lt;br /&gt;sashiminya tidak mengecewakan. Assorted sashimi ini seharga Rp.&lt;br /&gt;110.000.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Menu lainnya adalah aburi set, yakni aneka panggangan yang&lt;br /&gt;dipanggang di atas tungku kecil di depan kita. Panggangan itu&lt;br /&gt;terdiri dari tako (gurita), cumi, jamur, tahu, aneka sayur, daging,&lt;br /&gt;dll. IMHO, panggangan ini rasanya biasa saja. Namun masih tertolong&lt;br /&gt;oleh bumbu cair khas Jepang yang makin menambah rasa. 1 set aburi&lt;br /&gt;dibandrol Rp. 98.000.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Kemudian, masih termasuk ke dalam panggangan, ada menu yang bernama&lt;br /&gt;Yaki Cammembert. Ini seperti fondue, makanan khas Swiss, yang&lt;br /&gt;mencelup aneka penganan ke dalam coklat cair atau keju cair. Namun&lt;br /&gt;untuk menu ini, digunakan keju yang dipanggang sampai meleleh di&lt;br /&gt;atas tungku kecil. Keju yang digunakan adalah keju camembert.&lt;br /&gt;Disediakan roti baguette sebagai "lauk"nya. Begitu keju meleleh,&lt;br /&gt;roti diolesi oleh lelehan keju ini. Rasanya hmm…wangi keju bercampur&lt;br /&gt;dengan remahan roti mulai menambah semangat makanan saya kala itu.&lt;br /&gt;Bagi teman-teman yang bertanya, kok di resto Jepang ada menu keju?&lt;br /&gt;Yup, sekali lagi, resto Ambai menganut konsep Japan fusion, dimana&lt;br /&gt;bahan-bahan makanan yang berasal dari Barat, seperti keju,&lt;br /&gt;mayonnaise, dan krim, dipadukan dengan bahan makanan khas Jepang.&lt;br /&gt;Harga menu ini adalah Rp. 45.000.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Tak lama berselang, datanglah lagi sekelompok piring yang teronggok&lt;br /&gt;di meja kami. Ada satu piring yang menarik perhatian saya. Ukurannya&lt;br /&gt;tidak besar, karena merupakan loyang tanpa alas berketinggian&lt;br /&gt;sekitar 2 cm saja yang berbentuk menyerupai oval. Di dalamnya nampak&lt;br /&gt;lumeran keju yang bercampur dengan krim kekuning-kuningan&lt;br /&gt;mengeluarkan aroma khas krim yang aduhai… ketika dipotong-dipotong,&lt;br /&gt;ternyata krim ini berisi aneka jamur. Menu ini bernama Kinoko&lt;br /&gt;Gratin. Rasanya, sudah tidak usah diragukan lagi. Lembutnya krim&lt;br /&gt;berpadu dengan rasa manis dan gurih yang pas. Belum lagi kenyalnya&lt;br /&gt;jamur yang muncul di antara krim keju yang padat, membuat lidah saya&lt;br /&gt;mengirimkan sinyal ke tangan saya untuk mengambil lagi dan lagi.&lt;br /&gt;Harga Kinoko Gratin adalah Rp. 38.000,-. Satu menu lagi yang&lt;br /&gt;menyerupai Kinoko Gratin adalah Jaga Cheese. Kalau Kinoko Gratin&lt;br /&gt;berbahan jamur, Jaga Cheese menggunakan kentang sebagai campuran&lt;br /&gt;krim dan kejunya. Tekstur Jaga Cheese lebih padat bila dibandingkan&lt;br /&gt;dengan Kinoko Gratin. Rasanya juga lebih manis, tapi tetap ok. Harga&lt;br /&gt;Jaga Cheese lebih murah dua ribu dibandingkan dengan Kinoko Gratin..&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Ada lagi menu yang datang… Kali ini tampilannya hanya 2 buah bilah&lt;br /&gt;bambu yang diisi oleh adonan daging ayam yang dihaluskan dan dibakar&lt;br /&gt;sampai berwarna kecoklatan. Rasanya? Ok juga, agak manis dan gurih.&lt;br /&gt;Harga untuk menu Tsukune ini adalah Rp. 38.000.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Menu makanan yang cukup ringan juga mampir di meja kami. Namanya&lt;br /&gt;Zaru Tofu. Yah, ini hanya tahu sutra yang dipotong besar-besar,&lt;br /&gt;dimakan dengan rendaman soyu, jahe yang dihaluskan, dan mungkin&lt;br /&gt;wasabi kalau suka pedas. Rasa tahu ini mengingatkan saya pada rasa&lt;br /&gt;kembang tahu, hanya saja teksturnya lebih padat. Rasanya simple,&lt;br /&gt;namun cukup memberikan nuansa pada keseluruhan menu yang kami pesan&lt;br /&gt;saat itu. Untuk 1 baki bambu (seperti baki dimsum), Zaru Tofu&lt;br /&gt;dibandrol Rp. 45.000 (what a priceee!!!).&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Saya pikir makanan sudah habis dipesan, ternyata….Piring-piring&lt;br /&gt;makanan masih terus deras berdatangan. "For God's sake, elo pesen&lt;br /&gt;apa aja, Tin???", bisik saya dalam hati. Mau tahu menu apa saja lagi&lt;br /&gt;yang berdatangan ke meja kami di Ambai? Saya akan meneruskan tulisan&lt;br /&gt;ini di posting berikutnya. Plus, saya akan memberikan tips khusus&lt;br /&gt;bagi mereka yang ingin makan di Ambai namun tidak rela merogoh&lt;br /&gt;koceknya terlalu dalam.. C U in another Ambai's exhilarating&lt;br /&gt;culinary adventure!!&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Salam,&lt;br /&gt;Lisa Virgiano&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-111810963015303752?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111810963015303752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111810963015303752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2005/06/ambai-fusion-japanese-resto-hidden.html' title='Ambai, Fusion Japanese Resto (The Hidden Delicacy)  '/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-111804304317703352</id><published>2005-06-06T14:30:00.000+07:00</published><updated>2005-06-06T14:30:43.176+07:00</updated><title type='text'>[Caper] Icip-icip di Kota Bertuah Pekanbaru</title><content type='html'>  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Date: Thu, 02 Jun 2005 03:30:16 -0000&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;From: &amp;quot;harry_nazarudin&amp;quot; &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Icip-icip di Kota Bertuah Pekanbaru&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Hari Selasa kemarin, saya ditugaskan  untuk mengunjungi pelanggan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kami di Pekanbaru, Riau. Sebagai seorang  JS sejati, tentu saja saya &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tidak melewatkan kesempatan ini untuk  mencicipi hidangan khas Riau. &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Begitu tugas selesai jam 5 sore dan  saya sampai di hotel, saya &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;memutar otak untuk mencari referensi  di JS. Saya teringat Rusli yang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sering ke daerah Sumatra, dan dia merekomendasikan  sate daging rusa &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;yang konon dijual di tengah hutan. Oke,  tancap!&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sebelum kesana, Pak Nur Haryono, sales  yang mendampingi saya, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;menyarankan saya singgah ke resto Ulam  Sari, Jl. Sudirman no. 760D &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Tangkerang Pekanbaru. Menunya disana  adalah makanan Medan, yaitu mie &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kocok Medan dan sate mengmeng. Mie kocok  a la medan ternyata mirip &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dengan mie Belitung, yaitu mie besar-besar  dengan kuah rebusan udang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;yang asam-gurih. Bedanya, kalau di Belitung  mienya didampingi &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;potongan kentang dan tahu, mie kocok  medan kuahnya agak pedas, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dengan potongan tahu dan tauge ditaburi  kerupuk merah. Rasanya &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;lumayan, gurih dan pedas, sangat mirip  dengan mie Belitung. Sate &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;mengmeng adalah sate sapi dengan bumbu  kacang. Satenya sih biasa &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;saja tetapi bumbu kacangnya memang gurih  dan cukup enak. Untuk &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;minumnya, saya memesan jus terong belanda  yang datang berbuih dengan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;warna merah. Rasanya, segar gar gar  gaaaar!&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sesudah itu, dimulailah perjalanan mencari  sate rusa. Sate rusa &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;hutan yang direkomendasikan Rusli ternyata  di Kerinci, hanya buka di &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;siang hari. Setelah bertanya, Pak Nur  membawa saya ke Warung Era 51, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;jl. Khairudin Nasution 31 (disebut jalan  ke arah bandara), tel (0761) 674679. Sate rusanya tidak ada di menu tapi  kebetulan ada. Seporsi &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;berisi 6 tusuk yang dimakan bersama  seporsi nasi yang dibagi dua &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;untuk diet (!). Sate rusa ini rasanya  sangat enak, diluar dugaan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;saya. Dibakar dengan bumbu kecap, dagingnya  empuk dan wangi, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;teksturnya seperti daging sapi tetapi  rasanya sangat khas karena &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;wanginya itu. Tidak seperti kambing,  tetapi..... pokoknya wangi deh! &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Wanginya sekilas mirip dendeng sapi,  tapi yang ini tanpa bumbu. &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sedap! Nasi dan sate segera habis dalam  sekejap. Sesudah kenyang, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kami mencari dessert. Yah, dessert yang  tepat memang penting untuk &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;diet yang saya jalani. Setelah membayar  total Rp 32.000,- untuk sate &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;rusa, kami segera berangkat untuk mencari  dessert yang sehat dan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;enak yaitu..... duren! &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Ide makan duren sebenarnya datang dari  kenangan saya melihat lemang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;di Malaysia. Karena budaya Melayu yang  dominan di Riau, saya &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;bertanya apakah bisa mencicipi lemang  di Pekanbaru. Ternyata, lemang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;biasanya dimakan dengan durian, sehingga  kami memutuskan untuk makan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;duren saja. Kami memilih sebuah kios  di depan Pizza Hut. Warung yang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;bersih, dengan meja dan kobokan untuk  perlengkapan makan (bandingkan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dengan kios jongkok bin jorok di Pramuka,  Jakarta). Ternyata &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;lemangnya tidak ada, yang ada adalah  ketan durian. Rupanya orang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Melayu biasa makan durian dengan ketan  yang ditaburi kelapa. Durian &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;yang tidak sedang musim dibandrol Rp  15.000,-, kami membeli 2 buah &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dan dimakan dengan ketan. Rasanya ternyata  nikmat, rasa durian yang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;biasanya membuat mulut eneg bisa dinetralisir  dengan ketan yang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;legit. Top! Kombinasi yang pas, meskipun  tidak dapat menghindari &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;efek negatif berupa perut yang panas!&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sesudah makan tiga kali malam itu (yang  begini disebut diet!), kami &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pulang ke hotel dengan perut kenyang  dan panas. Malam itu saya tidur &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dengan nyenyak sekali, karena malam  sebelumnya begadang di Royal &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Brilliant Palace. Saya bermimpi mengunjungi  Siak Inderapura, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;menyusuri kelok sembilan menuju Padang,  dan menjelajahi Kepulauan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Riau dengan jembatan Barelangnya –  semuanya atas biaya kantor! &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Mimpiiiii... kali ye! &amp;nbsp;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&amp;nbsp;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Cheers,&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;-HarryHN-&lt;/font&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-111804304317703352?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111804304317703352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111804304317703352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2005/06/caper-icip-icip-di-kota-bertuah.html' title='[Caper] Icip-icip di Kota Bertuah Pekanbaru'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-111804299386343121</id><published>2005-06-06T14:29:00.000+07:00</published><updated>2005-06-06T14:29:53.863+07:00</updated><title type='text'>[Caper] Bangka-Belitung (4): The Legendary Mr. Asui</title><content type='html'>  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Date: Thu, 02 Jun 2005 03:26:47 -0000&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;From: &amp;quot;harry_nazarudin&amp;quot; &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;The Legendary Mr. Asui dan sunset di  Surga Parai&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Jetfoil yang kami tumpangi berangkat  jam 07.30 dari Pelabuhan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Tanjungpandan. Saya tidak pasti, bukankah  yang disebut jetfoil &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;adalah kapal berlunas ganda? Kapal yang  kami tumpangi tidak berlunas &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;ganda dan menurut saya hanya kapal ferry  biasa. Tiket VIP seharga Rp &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;145.000,- per orang menempatkan kami  di lantai atas dengan AC dan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kursi pesawat. Perjalanan selama kurang  lebih 4 jam diwarnai dengan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;angin kencang dan pemandangan ke arah  laut lepas. Gosip gelombang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;besar yang membuat mual ternyata tidak  terbukti, lautan sangat &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tenang sehingga perjalanan cukup menyenangkan.  Setelah sedikit &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;menyusuri sungai dengan hutan mangrove  di dekat muara, kami sampai &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;di Pelabuhan Tanjungdalam, Pangkalpinang.  Kami langsung dijemput &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;oleh mobil dari Hotel Parai Beach tempat  kami akan menginap. Tujuan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pertama: restoran Hew Ko Sui alias Mr.  Asui karena perut sudah &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;menagih makan siang.&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Kami mendapat kehormatan karena Mr.  Asui sendiri yang membantu kami &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;memesan makanan. Kami memesan tengiri  bakar, pari lempah kuning, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;cumi goreng tepung, kangkung cah terasi,  udang rebus, dan ikan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kerisi bakar. Tengiri bakar bentuknya  sangat khas karena hanya &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;ekornya yang dibakar, dihidangkan dengan  sirip ekor utuh. Rasanya, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;apalagi dicocol bumbu terasinya, mmmmmm  sangat nikmat. Dagingnya &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;fresh dan literally melts in your mouth,  gurih sekali. Saya rasa &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;ikan tengiri bakar ini menjadi king  of the table siang itu. Pari &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;lempah kuning adalah ikan pari, dipotong  kotak-kotak, dimasak dengan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kuah kuning yang asam. Kuahnya tidak  se-dahsyat gangan kepala ikan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Belitung, tapi cukup enak. Daging pari  yang empuk dan banyak &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;mengandung kolagen juga cocok disandingkan  dengan kuah asam. &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Kangkung cah terasinya tidak seenak  Sari Laut karena rasa terasi &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;yang kurang intens. Udang rebusnya sangat  segar sehingga rasanya &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;manis, sedap sekali, bisa dibilang runner  up. Cumi goreng tepungnya &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;juga enak karena kualitas cumi yang  bagus, tapi karena masakan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;ini ‚biasa saja' rasanya jadi tenggelam  karena hidangan lainnya yang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;lebih khas. Ikan terisi bakarnya, yaitu  ikan merah yang berukuran &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kecil, justru rasanya biasa saja, cenderung  hambar karena hanya &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dibakar, mungkin lebih enak dimasak  lempah kuning. Walaupun rasanya &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;cukup enak terutama ekor tengirinya,  tetapi rasanya tidak bisa &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;mengalahkan kesan pertama kami di Belitung  yang lebih dahsyat. Total &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kerusakan adalah sekitar Rp. 250.000,-,  relatif murah untuk &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;mengenyangkan 7 orang, tapi memecahkan  rekor makan siang termahal &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;selama tour kami. Memang highly recommended!&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sebelum ke hotel, lagi-lagi sesuai anjuran  jalansutra, sesudah makan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kami mencari babi panggang di dekat  airport untuk makan malam nanti. &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Instruksi semua orang sama dan membingungkan:  „Di depan airport ada &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;hutan, masuk ke situ dan di dalamnya  ada yang jual babi panggang&amp;quot;. &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;How on earth bisa ada orang jualan babi  panggang di tengah hutan? &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Ternyata sesudah sampai disana, kami  menemukan dua motor diparkir di &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;depan hutan di seberang airport. Tiap  motor memiliki kotak kayu di &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;joknya, yang ternyata berisi the legendary  babi panggang itu. Dua &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;orang penjualnya, Henry dan Asiang,  merupakan teman baik walaupun &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;menjual barang yang sama. Kami membeli  0,5 kg dari masing-masing &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;supaya adil, sambil menyimpan nomor  HP Ko Hendry yang menyediakan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;layanan pesan-antar lewat SMS. Ciamik!&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sesudah babi panggang diperoleh, berikutnya  sasaran kami adalah toko &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;oleh-oleh LCK di Jl. Jend. Sudirman  Pangkalpinang. &amp;quot;Belanjanya tahu &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;diri yah, susah bawanya di pesawat&amp;quot;  kata Tante Inge. &amp;quot;Makin dibilang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;gitu makin banyak belanjanya&amp;quot; sahut  Tante Tientje yang disambut tawa &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kami. Memang, masalah belanja, komposisi  grup yang 5 wanita dan 2 &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pria sangat tidak menguntungkan buat  saya dan ayah saya! Di toko LCK &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;ini dijual macam-macam oleh-oleh khas  Bangka, 70% berupa kerupuk. &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Ada siput gong-gong, kerupuk dari siput,  kemplang udang, ikan, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kerupuk tengiri, opak. Yang agak aneh  ada rusip, cacahan ikan teri &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;(atau udang? BYKS yah) yang difermentasi,  ditempatkan dalam botol &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;aqua (menambah jijik penampilannya yang  sudah parah hehe). Warnanya &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kecoklatan dan berbentuk onggokan basah,  baunya juga luar biasa. Ada &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;juga kue tradisional Bangka bernama  rintak dan merica/lada Bangka &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;yang terkenal itu. Yang cukup eksotis  adalah jamur engphiu, dan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;serpihan kuning berbentuk oval dengan  bandrol yang mengejutkan: Rp &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;600.000,-/ons! Ternyata itu adalah sarang  burung walet kualitas &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;bagus. Ada juga hisit (sirip ikan hiu)  dengan bandrol yang ruarrrr &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;biasa. Toko LCK ini bisa mengirim langsung  ke Jakarta dan memiliki &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tim pembungkus yang sangat piawai dalam  mengepak makanan yang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dipesan. Kami pulang dengan empat kotak  besar dan senyum kecut 2 &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pria yang harus menentengnya. Ups!&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sesudah berkeliling di Pangkalpinang,  &amp;nbsp;akhirnya kami meluncur ke &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sungailiat, tempat Hotel Parai berada.  Saya penasaran karena semua &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;orang memuji hotel ini setinggi langit,  dan ternyata benar juga! &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Setelah menempuh perjalanan sekitar  45 menit, kami disapa oleh lobby &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;hotel Parai dengan desain tropis yang  terbuka dan pantai Parai &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dengan batu-batunya yang cantik.&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sore itu, kami hanya memanjakan diri  dengan berenang di pantai &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;persis di depan kamar (thanks to Arilena,  deluxe beachfront!). &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Rasanya, sore itu adalah sore yang paling  indah dalam tour kali ini. &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Dengan angin sepoi-sepoi dan laut yang  tenang, pasir putih dan empuk &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;yang memanjakan kaki, serta air laut  yang segar dan sinar matahari &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sore yang lembut, kami berenang-renang  di laut sambil mengobrol. &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sementara, batu-batu besar di kiri-kanan  pantai seolah menjaga kami &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dari hantaman ombak, berdiri tegak menjulang  seolah menegaskan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kekuasaannya terhadap laut yang mahaluas.  Cantik! Perlahan-lahan, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;matahari terbenam dan langit semakin  gelap, sehingga kami harus &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pindah ke kolam air tawar yang didesain  cantik di samping lobby. &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Setelah lapar berenang, kami menyantap  babi panggang di lobby Parai &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;(sambil sembunyi2 dan memesan beberapa  masakan untuk cover up, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;hehe). Babi panggangnya memang mantap,  dengan bumbu tambahan yang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;rasanya mirip bumbu opor ayam Pekalongan.  Kulitnya kering renyah &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sementara dagingnya empuk dan gurih,  benar-benar membuat mata merem- melek. Enak! Menjelang malam, kami duduk-duduk  di Cafe The Rock. &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Cafe ini terletak di sebuah ‚pulau'  kecil dari batu yang menjorok ke &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;laut, dihubungkan ke hotel Parai dengan  jembatan buatan. Pencahayaan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;yang cantik membuat Cafe The Rock ini  menjadi sangat indah dan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;romantis di malam hari. Ditimpali angin  depoi-depoi, kami duduk di &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;bale-bale yang tersedia sambil mengobrol  santai, dengan latar &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;belakang deburan pelan ombak pantai  Parai. Dian-dian, eh diam-diam, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;lamunan saya jadi melayang lagi....&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Cheers,&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;-HarryHN-&lt;/font&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-111804299386343121?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111804299386343121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111804299386343121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2005/06/caper-bangka-belitung-4-legendary-mr.html' title='[Caper] Bangka-Belitung (4): The Legendary Mr. Asui'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-111804293590290239</id><published>2005-06-06T14:28:00.000+07:00</published><updated>2005-06-06T14:28:55.906+07:00</updated><title type='text'>[Caper] Bangka-Belitung (3): Menjelang Senja di Bukit Berahu</title><content type='html'>  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Date: Thu, 02 Jun 2005 03:20:57 -0000&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;From: &amp;quot;harry_nazarudin&amp;quot; &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Keluarga JS-ku, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;NOTE: Setelah gonjang-ganjing ketumbar  beres, akhirnya saya bisa &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;melanjutkan caper saya soal Bangka-Belitung.  Selamat menikmati dan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;maaf atas keterlambatannya yah!&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;-------------------------------------------------------------------&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Menjelang Senja di Bukit Berahu – Susahnya  Nyari Kepiting&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Hujan deras yang melanda Belitung sore  itu memang membuat kami BT &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;karena harus segera meninggalkan pantai  Tanjungtinggi. Yah, saya &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pikir, mungkin ini memang takdir bahwa  saya harus kembali lagi ke &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Tanjungtinggi di lain waktu, siapa tahu  kalau datang lagi bersama &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Dian Sastro saya akan ‚diijinkan' untuk  menjelajahi Tanjungtinggi! &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Hehe, ngimpi lagi. Lamunan saya buyar  ketika Wandi menawarkan untuk &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;singgah di Bukit Berahu. Konon, Bukit  Berahu merupakan tempat yang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;paling pas untuk melihat sunset di Belitung.&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Bukit Berahu Resort yang terletak antara  Tanjungtinggi dan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Tanjungpandan merupakan resort yang  relatif baru, dengan bangunan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;utama berupa restoran yang bertengger  di puncak bukit, mirip dengan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;resto Rindu Alam di Puncak. Setelah  kami masuk, wow! Ternyata dari &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;restoran itu kita bisa memandang ke  arah laut lepas hampir di semua &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sisi dengan ketinggian sekitar 200 m.  Di kejauhan nampak pantai &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pasir bersanding dengan hutan mangrove  memagari lautan Selat &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Karimata yang hari itu sangat tenang.  Di kejauhan nampak warna laut &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;abu-abu senada dengan langit yang mendung,  sementara beberapa kapal &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;nelayan mengapung dengan tenang seolah  tertegun oleh senyapnya &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;gelombang laut. Pandangan luas terbentang  seperti ini selalu membuat &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;saya termenung, membayangkan betapa  kecilnya manusia dibanding alam &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;yang terbentang luas seperti ini. Ah,  seandainya Dian ada di samping &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;saya...... &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Lamunan saya bubar lagi ketika adik  saya mengajak untuk turun ke &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pantai. Dibawah bangunan restoran terdapat  kolam renang untuk umum, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kemudian dibawahnya lagi ada dua buah  villa yang disewakan seharga &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Rp. 750.000,- semalam. Villanya cukup  besar, mungkin kuat untuk 10 &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;orang, dengan pemandangan lepas ke pantai.  Di dekat villa ada tangga &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;curam yang akan memandu kita mencapai  pantai. Pantainya kali ini &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;lain, tidak seperti pantai sebelumnya,  pasirnya bukan pasir putih &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tetapi pasir berbulir besar dengan pecahan  kerang, mirip dengan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pasir di Tanjung Lesung, Banten. Pasir  ini kurang cocok untuk &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;berenang tetapi di pantai inilah pertama  kalinya kami melihat begitu &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;banyak kerang yang bagus-bagus berserakan  dimana-mana. Salah satunya &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;saya menemukan kerang yang disebut ‚sea  dollar'. Saya pernah melihat &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kerang bundar dengan motif lima daun  ini di San Francisco. Kalau &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tidak salah menurut Matt waktu itu,  sea dollar hanya terdapat di &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Pasifik sehingga tidak ada di Indonesia.  Ternyata, saya menemukan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dua buah di Belitung ini. Kalau kerang  kecil saja mampu berenang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dari San Francisco ke Belitung, masakan  saya suatu saat nanti tidak &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;mampu bersanding dengan Dian Sastro?  &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Lagi-lagi gara-gara hujan, lamunan saya  buyar dan kita harus &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;meninggalkan Bukit Berahu. Karena hari  sudah sore, dan Harry sudah &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;lapar sehingga banyak melamun, kami  memutuskan untuk kembali ke &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;hotel sebelum sunset dan mencari makan  malam. Setelah sebentar &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;refreshing di hotel (dan memborong 10  biji bacang lagi), kami segera &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;mencari tujuan berikutnya sesuai rekomendasi  Jalansutra: Resto Sari &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Laut. Pak Bondan menyebut resto ini  sebagai `Sinar Laut' di &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;artikelnya, mungkin maksud beliau Sari  Laut yah? Soalnya resto Sinar &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Laut tidak kita temukan. Kami harus  kecewa di Sari Laut karena &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;mereka tidak punya kepiting, sementara  salah satu menu recommended &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;adalah kepiting arak merah. Menurut  Wandi, ada satu lagi resto &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;seafood bernama `Cen-cen' di belakang  Sari Laut. Mungkin karena &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tidak musim, lagi-lagi Cen-cen tidak  punya kepiting. Resto terakhir &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;yang belum kami coba adalah `Pandan  Laut' di dekat Hotel Pondok &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Impian. Akhirnya, disana kami menemukan  kepiting, tetapi karena &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;resto-nya kurang meyakinkan, kami memutuskan  untuk membungkus &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kepiting arak merak dan perkedel kepiting  untuk dibawa ke Sari Laut. Sejam kemudian, kedua masakan kepiting ini selesai  dimasak dan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dengan lapar kami bergegas ke Sari Laut.  Kami memesan angsiu ikan, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;babi tim, fumak arak, kangkung terasi,  plus kepiting masak arak, dan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;manisan kelubi yang kita beli di toko  suvenir. Kelubi adalah makanan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;khas Bangka, yaitu buah kelubi yang  dibuat manisan seperti manisan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Cianjur. Beberapa buah warnanya hitam  ternyata sedikit beralkohol &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;karena fermentasi, sehingga rasanya  manis-asam-pahit. Saya sendiri &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kurang suka karena rasa asamnya yang  sangat intens.&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Makanan yang disajikan cukup memuaskan.  Kepiting masak arak sangat &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;fresh dengan arak yang cukup banyak,  sampai-sampai daging &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kepitingnya berasa agak pahit menggelitik.  Bumbunya berwarna merah &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dan pahit-gurih sehingga rasanya unik,  terasa bahwa jumlah arak yang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;digunakan untuk memasak cukup banyak.  Angsio ikan yang porsinya &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kelihatan besar ternyata ludes dalam  waktu singkat, karena ikan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kakap yang digunakan segar sehingga  rasanya gurih pas dengan kuah &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;asam manis. Yang disebut `babi tim'  ternyata adalah babi hong, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;walaupun enak tapi terasa sangat makteuh  sehingga agak sulit &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;menghabiskannya (walaupun ludes juga).  Hidangan lain biasa saja, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kecuali kangkung cah terasi – menggunakan  terasi Sijuk yang tersohor &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;itu – yang memang rasanya khas dan  sedap.Untuk teman makan, sekali &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;lagi es jeruk kunci yang asam mampu  menetralisir kemakteuhan (waduh &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;istilahnya) di mulut. Oiya, hampir lupa.  Ada perkedel kepiting, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;yaitu adonan daging kepiting dan tepung  yang diletakkan di dalam &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tempurung kepiting, mirip seperti yang  disajikan di Crystal Jade. &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Walaupun centuknya lucu, rasanya biasa  saja mirip dengan kepiting &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;cingkong di Cilacap. Total kerusakan  Rp 160.000,- ditambah Rp &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;80.000,- untuk kepitingnya. Akhirnya,  dengan perut kenyang kami &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pulang ke hotel, bersiap-siap untuk  naik jetfoil ke Bangka keesokan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;harinya. &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Belum puas rasanya sehari semalam di  Belitung, yang sangat &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;mengesankan pada kesan pertama. Tetapi  waktu yang sempit membuat &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kami harus meninggalkan Belitung keesokan  harinya, melalui pelabuhan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;jetfoil di Tanjungbalam. Dian-dian,  eh diam-diam, saya berjanji &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dalam hati, untuk kembali ke Belitung  di lain waktu!&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Cheers,&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;-HarryHN-&lt;/font&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-111804293590290239?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111804293590290239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111804293590290239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2005/06/caper-bangka-belitung-3-menjelang.html' title='[Caper] Bangka-Belitung (3): Menjelang Senja di Bukit Berahu'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-111804284691864218</id><published>2005-06-06T14:27:00.000+07:00</published><updated>2005-06-06T14:27:26.923+07:00</updated><title type='text'>[Caper] Bangka-Belitung (2): Pantai Belitung.... Iya Sih!</title><content type='html'>  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Date: Tue, 17 May 2005 06:35:56 -0000&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;From: &amp;quot;harry_nazarudin&amp;quot; &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Jalan-jalan di Belitung: Pantainya.....  iya sih!&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sesudah menaruh barang-barang di kamar,  kami langsung tancap gas. &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Acara: pantai! Tapi atas petunjuk petugas  hotel, kami mampir dulu ke &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;bekas tambang kaolin di dekat kota bernama  Martapura.&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sepanjang perjalanan kita dapat melihat  bahwa Belitung (dan Bangka) &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;adalah pulau yang kaya bahan tambang.  Terlihat disana-sini galian &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;timah, yang menjadi primadona propinsi  ini sampai sekarang. Timah &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dan kaolin terletak di atas tanah sehingga  tidak perlu menggali &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dalam-dalam, konon sekilo tanah timah  di Bangka dihargai Rp 30.000,-&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;! Begitu pula di Martapura, yang dapat  dicapai kira-kira 20 menit &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dari Tanjungpandan setelah melalui sebuah  jalan tanah. Disini kita &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;bisa melihat gundukan tanah yang berwarna  putih dengan genangan air &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;bekas galian yang berwarna-warni. Jika  kandungan kalsit (CaCO3 atau &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kapur) masih banyak, airnya berwarna  putih, sementara jikair &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;banyak ditumbuhi lumut maka warna air  menjadi hijau. Pemandangan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;yang cukup untuk, mirip dengan Danau  Kelimutu di Flores. Keindahan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;ini sebenarnya semu karena bekas galian  seperti ini dapat menjadi &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;ancaman bagi lingkungan sekitar.&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Berikutnya, kami menuju pantai Tanjung  Kelayang, yang terletak dalam &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;perjalanan ke pantai Tanjung Tinggi.  Begitu sampai, kami disuguhi &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pemandangan yang luar biasa: hamparan  pasir putih yang panjang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dengan batu-batu besar di ujung pantai.  Ombak nyaris tidak ada, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sehingga air laut sangat tenang dan  berdesir pelan. Angin sepoi-&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sepoi bertiup seolah memberikan kelegaan  dari sengatan sinar &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;matahari. Cantik! Saking tenangnya air  laut, ketika kita berjalan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;mencelupkan kaki kita, kita bisa melihat  serombongan ikan kecil yang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;berenang mendahului kita. Batu-batu  besar berbagai bentuk membuat &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pemandangan pantai jadi unik, tidak  seperti di Jawa. Dan pasir &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;putihnya dengan butiran yang halus,  sangat lembut di kaki. Indah!&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Setelah puas foto-foto di Tanjung Kelayang  (kamera saya sempat hang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kepanasan!), kami melanjutkan perjalanan  ke tujuan utama kami: &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tempat shooting iklan sabun Lux Dian  Sastro, Pantai Tanjung Tinggi! &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Pantai ini terletak tak jauh dari Tanjung  Kelayang. Kalau di Tanjung &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Kelayang kami sudah berdecak kagum,  di Tanjung Tinggi kami lebih &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;takjub lagi. Disini, bebatuan yang menjadi  ciri khas pantai Belitung &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;menjulang tinggi sampai 3-4 m. Jumlahnya  lebih banyak, tersebar di &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sepanjang pantai. Pada bagian bawah  batu selalu ada garis bekas &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pasang, sehingga nuansa putih-coklat  yang senada pada bebatuan yang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tersebar sampai sejauh mata memandang  sungguh merupakan pemandangan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;yang menakjubkan. Saya berpikir, sayang  sekali Lux membuat kesan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;seolah-olah pantai Dian Sastro itu di  luar negri dengan memilih &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;aktor berwajah Italia. Padahal, pemandangan  secantik itu (pantai dan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Dian-nya) adalah Indonesia banget, jadi  mestinya ya dibuat kesan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;bahwa tempat itu di Bangka-Belitung  dengan aktor wajah oriental &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;(yang dominan di Bangka) seperti Ferry  Salim atau Roger Danuarta &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;atau.... saya sendiri! Mmmm....Enggak  sih! Hahaha&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sesudah mengkhayal, perut terasa lapar.  Tempat paling pas untuk &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;makan siang adalah kedai seafood yang  banyak terdapat di sepanjang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pantai. Kami memilih salah satu yang  direkomendasikan oleh Wandi, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;supir kami. Pesanan sesuai dengan rekomendasi  JS: gangan kepala &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;ikan, ikan ilak bakar, cumi goreng tepung,  dan tumis genjer (jadi &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;inget Abah Andrew). Genjer adalah sayur  khas Belitung yang karena &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;struktur tanahnya yang kering tidak  memiliki banyak sayur biasa &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;seperti caisim dan kangkung. Setelah  memilih ikan segarnya, kira-&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kira 30 menit kemudian datanglah the  legendary gangan kepala ikan. &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Konon, kalau mencicipi hidangan ini,  kita jadi ingin kembali ke &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Belitung. Ternyata benar! Rasanya sangat  khas, dibuat dari kepala &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;ikan karepet (BYKS banget) yang berlemak.  Kalau gulai kepala ikan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;rasanya cenderung rich dengan banyak  santan, gangan kepala ikan a la &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Belitung kuahnya bening kemerahan, rasanya  asam-segar dan tanpa &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;santan. Kata tante saya, bahan utamanya  adalah kemiri mentah. Bumbu &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;yang sama diduga digunakan untuk ikan  ilak bakar, hanya tanpa air, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;melainkan dioleskan saja diatas ikan  yang dibelah kemudian dibakar. &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Rasanya jadi unik, tetap dengan dominasi  kemiri tetapi dengan nuansa &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;yang berbeda. Ikan ilak juga konon hanya  di Belitung, dagingnya &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;gurih dan renyah mirip kakap tapi kecil.  Tumis genjernya sih biasa &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;saja cenderung berminyak, dan cumi goreng  nampaknya ‚kebanting' sama &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;the king of the table siang itu: gangan  kepala ikan dan ikan ilak &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;bakar. Rasanya sangat unik, one of a  kind, khas Belitung. Mantap! &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Total kerusakan sayangnya cukup besar,  Rp 221.000,- untuk semuanya. &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Harga ini saya rasa terlalu mahal, mungkin  karena kita memesan tanpa &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;menawar dan tidak mengecek timbangan  ikannya. Tapi, honestly, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;keunikan rasanya sangat luar biasa sehingga  kekecewaan kami pun &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tidak terlalu diingat. Benar juga –  sekarang saya jadi ingin ke &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Belitung lagi! &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sayangnya, hujan lebat yang turun sesudah  makan siang mencegah kami &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;untuk berjalan menyusuri pantai. Akhirnya,  dengan berat hati dan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;perut (kekenyangan) kami meninggalkan  pantai Tanjung Tinggi. &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Pemandangan indah plus bisa makan enak  adalah kelebihan pantai &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Tanjung Tinggi, suatu tempat yang wajib  Anda kunjungi kalau ke &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Belitung. Iya sih!&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Cheers,&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;-HarryHN-&lt;/font&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-111804284691864218?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111804284691864218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111804284691864218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2005/06/caper-bangka-belitung-2-pantai.html' title='[Caper] Bangka-Belitung (2): Pantai Belitung.... Iya Sih!'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-111804278402796064</id><published>2005-06-06T14:26:00.000+07:00</published><updated>2005-06-06T14:26:24.030+07:00</updated><title type='text'>[Caper] Bangka-Belitung (1): Selamat Datang di Tanjungpandan</title><content type='html'>  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Date: Tue, 17 May 2005 06:30:54 -0000&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;From: &amp;quot;harry_nazarudin&amp;quot; &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Selamat Datang di Tanjungpandan – The  Best Bacang in the World!&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Welcome to Tanjungpandan! Begitu mendarat  di Bandara Hanandjoeddin &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dan dijemput oleh mobil dari Hotel Martani,  kami langsung menuju Jl. &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sriwijaya. Yang dicari: mie belitung,  pas untuk perut yang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;keroncongan sejak berangkat dari Jakarta  jam 06.45. Rombongan kali &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;ini beranggotakan kedua ortu saya, Daniel  &amp;amp; Ketty Nazarudin, adik &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;saya Erina, dan tante saya Inge, Tientje,  dan Liliana Wilandow. &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Semua tante-tante saya ini jago masak  dan makan (yes, it runs in the &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;family) sehingga perjalanan kali ini  sangat bernuansa kuliner. Yang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pertama kami cari sesuai rekomendasi  adalah mie belitung „A Tep&amp;quot;, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tapi rupanya penjual mie belitung tidak  memasang papan nama. &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Akhirnya setelah mencari-cari, kami  menemukan sebuah warung mie di &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;salah satu gang Jl. Sriwijaya, berjajaran  dengan beberapa kedai kopi &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;es. Penampilan warung kopi es sangat  khas dengan atap diangkat dan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;meja-meja penuh wajah oriental paruh  baya yang menikmati kopi pagi, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;persis di Pasar Petak Sembilan!&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Kedai mie belitung yang kami singgahi  ternyata bukan „A Tep&amp;quot;, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tapi „A Cu&amp;quot;. Ya sudahlah, sudah  kepalang duduk, hehehe. Meluncurlah &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;delapan piring mie belitung ke atas  meja. Rasanya.... wow! One of a &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kind, enak sekali. Mie ini berupa mie  kuah, dengan mie tebal dan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kuah rasa asam-gurih dan wangi udang.  Rupanya bahan dasar kuahnya &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;adalah air rebusan udang, sehingga pas  dicampur dengan mie, potongan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kentang, mentimun, dan ditaburi emping  melinjo. Sekilas mirip pempek &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tanpa pempek! Rasanya benar-benar unik.  Karena penasaran, kami &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;segera pintong ke „A Tep&amp;quot;, untuk  membandingkan rasanya. Hasilnya, &amp;quot;A &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Cu&amp;quot; lebih enak karena kuahnya encer  dan lebih tegas rasanya. Di &amp;quot;A &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Tep&amp;quot; kuahnya agak kental dan manis  sehingga rasanya mirip Lomie di &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Bandung. Tapi, kedai &amp;quot;A Tep&amp;quot;  ini menyediakan jeruk kunci yang manis &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dan segarrrr, pas untuk meredam hawa  panas Tanjungpandan. Jeruk &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kunci ini bentuknya mini, dan `es jeruk  kunci' warnanya bening &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;karena hanya menggunakan 3 atau 4 buah  jeruk. Tapi, tanpa gula, &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;asamnya cukup untuk membuat muka berkerut!  Harga keduanya kurang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;lebih sama, sekitar Rp 5.000,- seporsi.  Waduh, murah!&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Tak jauh dari Mie A Tep, ada sebuah  toko oleh-oleh yang menjual &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;berbagai kerupuk serta toko mainan di  sebelahnya. Nah, di samping &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;toko mainan itu, pada jam 5 sore ada  sebuah kios dengan lemari kaca &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;yang menjual aneka macam kue belitung.  Kami mampir kesitu di sore &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;hari, pas ketika kios itu baru buka.  Di lemari nampak kue-kue jawa &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;seperti semar mendem, kue mangkok, kue  lapis, dan klepon. Kleponnya &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;lain, bentuknya besar berdiameter kira-kira  3 cm, walaupun rasa dan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;isinya (gula jawa) sama. Ada satu kue  Belitung yang berbentuk &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;seperti mangkok warna coklat, bau telurnya  sangat menyengat, saya &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;lupa namanya. Generally sih biasa saja,  sampai sang encim pemilik &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kios mengeluarkan andalannya: bacang!  Bacangnya berukuran mini, kira-&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kira sekepalan tangan. Tapi wanginya  itu... mmmm...semerbak. &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Rupanya, bacang ini dibungkus dengan  daun pandan dan baru saja &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;matang. Dibuat dari ketan yang legit  dan fresh, rasanya bacang ini &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;one of the best yang saya pernah coba.  Harganya? Cuma Rp 1.000,- &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sebuah, murah sekali! Kami beli sepuluh,  yang sudah ludes sebelum &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;mobil mencapai hotel (Cuma sekitar 10  menit hehe). Sorenya kami &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;langsung balik lagi untuk membeli 10  lagi!&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Setelah itu kami cek in ke hotel Martani,  sebuah hotel tua yang &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;bersih dan terawat baik. Kami menyewa  kamar VIP yang dilengkapi AC &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dan lemari es seharga Rp 250.000,- semalam.  Kamarnya luas dan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;nyaman, dan letaknya juga di kota Tanjungpandan  sehingga cukup &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;strategis. Konon, hotel dengan ciri  khas sebuah meriam di depan &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pintunya ini sudah berdiri sejak tahun  1941. &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Cheers,&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;-HarryHN-&lt;/font&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-111804278402796064?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111804278402796064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111804278402796064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2005/06/caper-bangka-belitung-1-selamat-datang.html' title='[Caper] Bangka-Belitung (1): Selamat Datang di Tanjungpandan'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-111804204047590717</id><published>2005-06-06T14:14:00.000+07:00</published><updated>2005-06-06T14:14:00.480+07:00</updated><title type='text'>Kopdar Kecil2an: Amsterdam dan sekitarnya</title><content type='html'> &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Posting dari Tita di milis JS ini perlu dilestarikan dalam blog saya nampaknya...&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Thank you Tita...&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;----&lt;/b&gt;&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Date: Sat, 4 Jun 2005 09:42:39 +0200&lt;/b&gt;&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;From: Dwinita Larasati &lt;/b&gt;&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Subject: Kopdar Kecil2an: Amsterdam dan sekitarnya &lt;/b&gt;&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sudah jauh2 hari Peter Pramono (dari Marseilles, Perancis) &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;memberitahukan rencana kunjungannya ke Belgia dan Belanda, dalam &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;rangka perjalanan tugasnya. Peter bahkan sempat mengirimkan posting &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;ke miils ini untuk meminta rekomendasi untuk tempat2 makan hidangan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Indonesia yang mur-mer di Rotterdam (yang, sayangnya, tidak mendapat &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tanggapan yg cocok: kebanyakan respons malah mengusulkan tempat2 &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;makan di kota2 lain). Namun karena satu dan lain hal, rencana ke &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Rotterdam akhirnya berganti menjadi ke Amsterdam. Saya langsung &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;mengosongkan jadual akhir pekan itu untuk bertemu dengan Peter dan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Vonny (juga anggota Jalansutra, tinggal di Aardenhout), yang tentu &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;saja sama2 bersemangat untuk makan bareng.&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;TOKO MADJOE&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Peter berencana tiba Sabtu pagi (28 Mei) di Amsterdam. Vonny langsung &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;mengusulkan tempat makan siang hari itu: Toko Madjoe di Amstelveen. &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Toko Madjoe ini sebenarnya bukanlah rumah makan, namun sebuah warung &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;makanan siap-saji, di mana orang datang untuk membeli makanan utk &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dikemas dan dibawa pulang. Mereka memang menyediakan tempat duduk, &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tapi hanya sejumlah dua meja kecil (terpisah), masing2 dilengkapi 3 &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;bangku sederhana.&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Saya dengan Dhanu (anak saya, berumur 4 th) menunggu di stasiun &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Amsterdam RAI, tempat Vonny berjanji menjemput, sementara Sybrand &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;(suami saya) dan Lindri (adiknya Dhanu, umur 1,5 th) sudah berangkat &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dari rumah naik sepeda, langsung menuju Toko Madjoe. Ternyata Vonny &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;gagal bertemu Peter sebelum menjemput saya, tapi ia sudah sempat &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;memberi petunjuk pada Peter bagaimana naik kendaraan umum menuju Toko &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Madjoe. Setiba di Toko Madjoe, Sybrand dan Lindri sudah menunggu &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sambil berjalan2 di pelataran deretan toko. Setelah saling berkenalan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;(saya juga baru hari itu bertemu dan berkenalan dengan Vonny), kami &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;mulai masuk toko.&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Interior toko berkesan luas, bersih dan sejuk. Menempel pada dinding &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;di sisi kiri, terdapat rak2 tempat memajang berbagai jenis bahan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;makanan asal Indonesia, dari bahan mentah, bumbu2 instan, hingga &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;berbagai kerupuk yg sudah digoreng dan cemilan lain yang siap &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dimakan. Di sisi kanan terdapat etalase berisi berbagai jenis lauk &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dan makanan kecil (jajanan basah). Para staf toko terlihat sangat &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sibuk meladeni pelanggan, yang sudah membentuk antrian panjang (saat &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;itu sekitar jam satu siang).&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Kami mengambil tempat duduk di salah satu meja. Sambil menunggu &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;giliran, saya melihat2 isi etalase makanan, sementara Vonny sibuk &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;bercakap2 dengan para staf toko yg sudah dikenalnya dengan baik.&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sesuai saran Vonny, kami memesan hidangan andalan Toko Madjoe: &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;lontong cap go meh dan sate kambing. Saya juga pesan lemper dan ...? &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;(lupa namanya, tapi bentuknya segitiga, berkulit risoles, berisi &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;daging cincang &amp;amp; sayuran seperti isian pastel) untuk Dhanu dan Lindri. Peter yg sedang mencari jalan menuju toko menghubungi Vonny lagi, &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;yang lalu berangkat menjemput Peter. Tak lama kemudian mereka tiba di &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;toko. Wah senangnya, tak menyangka kami bisa bertemu lagi secepat ini &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sejak acara Kumpulsutra Strasbourg yang lalu! Peter segera memesan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;hidangan yang sama, dan kami bisa segera mulai makan.&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Ternyata tepat sekali rekomendasi Vonny. Sate kambing yang per &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;porsinya berjumlah 5 tusuk tebal, bergelimang bumbu kacang &amp;amp; kecap, &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;memang terlihat sangat menggiurkan. Dagingnya bertekstur lembut dan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;terasa gurih, bumbunya terasa meresap ke dalam daging, sementara &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;bumbu kacang bercampur kecap, bertabur irisan bawang merah, cabai &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;hijau dan bawang goreng rasanya terpadu dengan tepat. Dhanu doyan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sekali, dan tetap makan dengan tabah meskipun sempat satu-dua biji &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;cabai tergigit.&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Lontong cap go meh datang dalam porsi besar. Lontong di dasar piring &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tak terlihat karena tertimbun daging ayam, daging sapi, telur dan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;berbagai sayuran (tahu, rebung, pete, nangka muda, dan penggembira &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;lain). Kuahnya berasa pedas-gurih menyegarkan. Saya yang biasanya &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;nggak seneng pedes, kali ini luar biasa giat menghabiskan kuah tsb. &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Si kecil Lindri ternyata juga doyan, meskipun jadinya sambil banyak &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;minum juga, karena kepedesan.&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Risoles isi daging pastel dilahap dengan lancar oleh Dhanu, sampai &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;habis. Rasanya memang enak, tapi tidak terlalu istimewa. Demikian &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pula dengan lemper ayamnya. Pak Omar, pemilik Toko Madjoe yang sangat &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;ramah, menyempatkan diri mengobrol dengan kami saat antrian pelanggan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sudah sepi. Pujian akan masakan warungnya kami sampaikan, dengan niat &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;untuk kembali lagi ke Toko Madjoe untuk mencoba hidangan yang lain. &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Suatu penemuan yang berharga! Terima kasih banyak ya Vonny, dan Pak &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Omar :)&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Toko Madjoe&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Amsterdamseweg 183&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Amstelveen&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;T +31 (20) 647 6740&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;AMSTERDAMSE BOS, VENETIA&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Setelah kenyang makan siang di Toko Madjoe, Sybrand pamit pulang &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;bersama Lindri (yg sudah sangat mengantuk). Vonny, Peter, saya dan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Dhanu berangkat juga, ke persinggahan berikutnya untuk ngobrol sambil &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;minum-minum. Cuaca yang sangat cerah dan hangat sangat mendukung &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;suasana ceria - kami bertiga tak henti2nya ngobrol seolah2 bertemu &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dengan teman lama saja.&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Vonny lagi2 memilih tempat yang tepat: Amsterdamse Bos. Hutan buatan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;di pinggiran kota Amsterdam ini adalah hutan kota terbesar &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;se-Belanda. Orang bebas masuk dan menikmati suasana alami, baik untuk &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;bersantai maupun berolah-raga. Terdapat sebuah rumah makan/ cafe tak &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;jauh dari jalan masuk, terletak di tepi danau di mana terlihat &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;beberapa pendayung kayak sedang berlatih.&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Karena matahari sedang cerah2nya, pada awalnya kami memilih untuk &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;duduk di luar. Tapi ternyata anginnya kencang sekali, sampai &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;ngobrolnya harus bicara keras-keras. Akhirnya kami pindah ke dalam, &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;langsung terasa lebih tenang dan sejuk. Teman ngobrol kami hanya &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;gelas2 berisi es teh, espresso dan teh panas, tapi topik obrolan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tidak padam-padam. Sehingga setelah kami siap beranjak pergi, Vonny &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;yang berencana segera pulang malah mengusulkan pindah tempat ngobrol &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;lagi!&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Ini benar2 setopan terakhir untuk acara makan siang hari ini. Vonny &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;mengajak kami ke sebuah warung es krim bernama Venetia. &amp;nbsp;Es krim yang &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;saya pesan, rasa pistacchio dan vanilla, teksturnya lembut dengan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;selingan serpihan pistacchio dan butiran vanilla. Rasa pistacchio dan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;vanilla juga jelas terkecap di lidah, di sela2 segarnya dingin es di &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sore yang panas itu. Peter juga terlihat puas dengan es pilihannya, &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sedangkan Dhanu - nggak usah ditanya - asal es, pasti dia suka! Selesai makan es krim, Vonny mengantar saya, Peter dan Dhanu ke &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;setopan tram terdekat, lalu ia berbalik pulang menuju Aardenhout. &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Terima kasih sekali lagi ya Vonny, memang rasanya nggak rela &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;memutuskan obrolan siang itu :)&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;ALBERT CUYP MARKT, TOKO RAMEE, SARI CITRA&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Kami bertiga naik tram ke rumah, di mana Peter bisa menitipkan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;weekend-bag nya sebelum kami keluar rumah lagi untuk belanja. Kali &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;ini kami (juga Dhanu, yang &amp;nbsp;masih ingin ikut jalan2) berjalan kaki ke &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pasar Albert Cuyp di belakang rumah.&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Pasar Albert Cuyp tahun ini merayakan hari jadinya yang ke-100. &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Beberapa spanduk besar, bergambar foto hitam-putih suasana Albert &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Cuyp di masa lampau, terbentang setinggi tiang lampu di beberapa &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;titik sepanjang jalan pasar. Sebagian besar kios memajang foto-foto &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;(juga hitam putih) suasana pasar di jaman dulu, bahkan suasana &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tenda/kios masing2 semasa masih dikelola oleh ayah atau kakek mereka: &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;para pedagang pertama di pasar Albert Cuyp.&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Seperti biasa, di cuaca yang hangat dan cerah seperti hari itu, pasar &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;penuh sekali dengan pengunjung, baik yang hendak benar2 berbelanja &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;maupun wisatawan. Kami melewati berbagai kios.. kios kentang goreng, &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kios lumpia, kios stroopwaffel yang juga menjual stroopwaffel hangat &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;ukuran raksasa (diameternya lebih lebar daripada kepingan CD), kios &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;haring dan kios keju. Kios kacang2an, kios ayam, ikan, buah2an dan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sayur2an, tenda baju, sepatu, dan mainan. Peter sempat 'terpaksa' &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;menunggu saya membeli ayam dan menawar T-shirt polos sebelum kami &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sampai di ujung pasar, dan masuk ke Toko Ramee.&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sebenarnya Toko Ramee ini bukan pilihan termurah untuk belanja bahan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;makanan asia - setidaknya tidak semurah di supermarket yang berada di &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pecinan Amsterdam (Nieuwmarkt). Tapi Toko Ramee ini mengkhususkan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;diri ke Indonesia, jadi lebih banyak tersedia variasi bumbu dan bahan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;makanan yang sudah kita kenal baik.&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Peter yang sudah berbekal daftar belanjaan dari Yulis segera melihat2 &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dan mengambil2 sana-sini, sementara Dhanu duduk di bangku2 teras toko &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sambil makan kerupuk pemberian pemilik toko. Saya ikutan belanja &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sedikit, menambak stok Teh Botol kotakan untuk di rumah, plus beli2 &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Fruit Tea sekedar untuk 'tombo kangen'.&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Selesai belanja, kita jalan kaki lagi sedikit - selang 3-4 toko &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kemudian, di deretan yang sama, terdapat &amp;quot;Sari Citra&amp;quot;. Sari Citra, &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;yang telah mendapat ponten tinggi dari seorang kritikus makanan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Belanda (8,5 dari 10 point), adalah warung makanan siap-saji, namun &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;juga menyediakan beberapa meja dan kursi bagi pelanggan yang langsung &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;ingin menikmati hidangan yg mereka beli. Warung ini adalah langganan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;saya bila sedang males masak (hanya tinggal buat nasi dan beli lauk &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dari sini). Jenis makanan yg mereka hidangkan sangat beragam, dan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pedasnya pun pas. Kue2 kecilnya (lemper, pastel, dll) juga menjadi &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;andalan warung ini. Kali ini kami mampir untuk mengicipi andalan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;mereka yang lain: cendol.&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Kami bertiga duduk menunggu hingga cendol dihidangkan. Cendol datang &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dalam gelas tinggi langsing yang diameternya melebar ke atas (seperti &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;trompet). Kadang saya merasa gelas ini terlalu tinggi untuk tempat &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;cendol - apalagi melihat Dhanu agak susah mencapai dasar gelas dengan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sendok panjangnya, karena dia sendiri sudah cukup 'tenggelam' di &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;bangkunya (mejanya terlalu tinggi untuk dia). Tapi segelas cendol &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dingin memang pilihan paling tepat setelah jalan2 belanja di siang &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;hari terik. Rasa cendolnya segar (mereka buat sendiri), manisnya pun &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pas.&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sari Citra&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Ferdinand Bolstraat 52&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Amsterdam&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;T +31 (020) 675 4102&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Setelah puas jalan-jalan dan makan-makan hari itu, Peter berpamitan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;untuk kembali ke hotel, beristirahat dan melanjutkan ekslporasinya di &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;malam hari. Kami berjanji untuk bertemu lagi keesokan harinya.&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sangat disayangkan, ternyata Vonny terpaksa &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;membatalkan rencananya untuk berjalan2 lagi &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dengan saya dan Peter. Jadi siang itu saya hanya &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;harus menunggu Peter mampir utk menitipkan tas, &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sebelum kami keluar jalan2 lagi. Saya ingat pesan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Peter jauh hari sebelumnya, lewat e-mail, agar &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dibawa berjalan2 ke tempat2 yang dapat &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;menghilangkan kesannya terhadap Amsterdam sebagai &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kota yang kotor dan kumuh. Haha, memang &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kebanyakan orang berkesan seperti ini karena &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pamor Red Light District dan 'free drugs'-nya, &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;yang memang digembar-gemborkan terus oleh buku2 &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;panduan wisata - padahal buku2 tsb juga &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;menampilkan kekayaan gedung2 pertunjukan dan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;museum di Amsterdam, yang berjumlah ratusan. &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Beres, pikir saya, Peter akan saya bawa ke sisi &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kota yang lebih 'beradab'.&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;MUSEUMPLEIN&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Dari rumah, saya, Dhanu dan Peter berjalan ke &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;arah Museumplein (museum square). Kami tiba di &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kompleks museum itu setelah berjalan santai kira2 &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;10 menit, melewati jalanan sepi dengan toko2 &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tutup (karena itu hari Minggu). Mendekati &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Museumplein, makin banyak terlihat orang &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;berseliweran. Ternyata memang mereka memadati &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;lapangan musuem tersebut.&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Dari arah Museum Heineken (tempat kami tinggal), &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kami mendekati Museumplein dari arah Timur, di &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;mana lapangan terbagi dua oleh jalur sepeda dan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pejalan kaki. Di sisi kiri jalan terdapat &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;lapangan rumput yang luas, di mana orang bisa &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;duduk2 santai atau bermain bola. Di kejauhan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;terlihat Concertgebouw (gedung konser). Di sisi &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;ini terdapat Museum Stedelijk (museum for &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;contemporary arts - yang sedang direnovasi) dan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Museum Van Gogh.&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Di sisi kanan jalan, terbentang lapangan luas &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;beralaskan kerikil halus. Terdapat kolam &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;memanjang di tengah2 lapangan, mengarah ke &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Rijksmuseum.. Di lapangan ini juga terdapat &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;lapangan basket dan &amp;quot;half-tube&amp;quot; (struktur &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;berbentuk separuh silinder), besar dan kecil, &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;untuk main skateboard. Di sekitar lapangan basket &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;terdapat beberapa kelompok orang bermain &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;'pétanque'(?) atau 'jeu de boules' ya? Peter &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tolong BYKS (&amp;quot;Wah, ini sih mainan orang &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Marseilles!&amp;quot; komentar Peter). Di tepi lapangan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;terdapat sebuah restoran/bar/cafe, di mana para &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pengunjungnya terlihat telah memadati bangku2 &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;yang terletak di teras.&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Kami berjalan ke sisi yang lain, di mana terdapat &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;beberapa kios kecil (suvenir dan jajanan), untuk &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;langsung menuju Museum Shop. Toko ini menjual &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;cendera mata khusus dari ketiga museum yang &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;terdapat di sana, jadi tanpa perlu berkunjung ke &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dalam museum pun orang dapat memperoleh kenang2an &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;khusus dari museum2 tsb. Kesempatan bagi Peter &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;untuk memilih2 oleh2 unik dari Amsterdam :)&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;MAX EUWEPLEIN&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Setelah puas merambahi toko museum, kami &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;melanjutkan berjalan meninggalkan Museumplein, ke &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;arah Max Euweplein. Melalui berbagai rumah2 &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pengasahan intan dan deretan toko bergengsi di &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;P.C. Hoofstraat, juga salah satu gerbang &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Vondelpark, taman kota terbesar di Amsterdam.&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Dari depan gerbang Vondelpark tsb, kami belok ke &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kanan, melewati jembatan ke arah Max Euweplein: &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sebuah lapangan kecil yang dikelilingi jalur &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;bersepeda, plus berbagai toko, restoran dan bar &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;(antara lain Holland Casino, Hard Rock &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Cafe/Restaurant dan Wagamama noodle bar). Di &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tengah2 Max Euweplein terdapat bangku2 restoran, &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;dan permainan catur raksasa, di mana terlihat &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sekumpulan orang sedang serius bermain.&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Keluar dari lapangan kecil itu, kami sudah tiba &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;di dekat Leidseplein, namun kami mengambil jalan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pintas untuk langsung menuju jajaran restoran di &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;salah satu jalan kecil yang tersambung ke &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Leidseplein, untuk makan siang.&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;BOJO&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sebenarnya saya jarang ke rumah makan Bojo ini. &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Pernah beberapa tahun yang lalu mampir utk makan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;siang dengan teman2, dan kesannya waktu itu enak2 &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;saja. Jadi rasanya sudah waktunya utk mampir &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;lagi, kali ini sudah dengan mata dan lidah &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Jalansutra :)&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Saya pesan soto ayam ukuran kecil sebagai &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pembuka, dan pangsit goreng untuk Dhanu, serta &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tahu campur sebagai makanan utama. Peter pesan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;nasi kuning. Soto ayamnya seingat saya memang &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;enak, dan masih tetap enak saat saya coba waktu &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;itu. Dhanu makan pangsit gorengnya dengan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;semangat, sampe saya nggak tega ngicip. Baru &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;waktu dia makan pakai nasi (dari porsi tahu &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;campur), akhirnya Dhanu kenyang dan menyisakan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;sepotong pangsit. Kulitnya biasa saja, dan isinya &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;lebih berasa seperti daging sapi (bukan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;udang/ayam). Sayang irisan tahu gorengnya terlalu &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;alot; isian lain dan saus kecapnya cukup enak. &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Peter kelihatannya cukup puas dengan nasi &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kuningnya. Terutama jika ia bandingkan dengan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;makan malamnya di restoran Sukasari (di Damraak) &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;- tapi bagian ini biar Peter sendiri yang cerita &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;:) Secara keseluruhan, menurut saya hidangan di &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Bojo cukup decent. Tidak parah sekali, tapi juga &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;tidak sangat istimewa.&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Bojo Restaurants&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Lange Leidsedwarsstraat 49 en 51&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Amsterdam&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;T +31 (020) 6227434&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;http://www.bojo.nl&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Selesai makan di Bojo, kami kembali berjalan ke &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;arah rumah. Kali ini, kami melewati bagian depan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Rijksmuseum (sebelumnya, Museumplein, adalah &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;bagian belakang Rijksmuseum). Melalui taman dan &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;kanal di sebelah jalan Stadhouderskade dan bagian &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;jalan yang berantakan, sebab sedang ada proyek &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;perpanjangan jalur Metro ke arah selatan. Setiba &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;di rumah, Peter segera beberes dan pamitan untuk &lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;pergi ke Antwerp lagi.&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Terima kasih ya Peter, sudah menyempatkan mampir Amsterdam!&lt;/font&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Tita&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;http://esduren.multiply.com&lt;/font&gt; &lt;br&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-111804204047590717?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111804204047590717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111804204047590717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2005/06/kopdar-kecil2an-amsterdam-dan.html' title='Kopdar Kecil2an: Amsterdam dan sekitarnya'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-111804171637742271</id><published>2005-06-06T14:08:00.000+07:00</published><updated>2005-06-06T14:08:36.380+07:00</updated><title type='text'>Amsterdam: Romantisme Sebuah Sejarah</title><content type='html'>  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Tulisan dari Peter Pramono, seorang  JS-er di Marseilles yang berjalan2 di Amsterdam.&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;---------&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Date: Sun, 5 Jun 2005 02:36:15 -0700  (PDT)&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;From: Peter Pramono &lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Subject: Amsterdam: Romantisme Sebuah  Sejarah&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Belanda (Hollande) selalu memiliki arti  tersendiri bagiku. &amp;nbsp;Sebagai sebuah negara yang pernah menjajah Indonesia  selama 350 tahun, Belanda meninggalkan begitu banyak jejak dan kesan bagi  bangsa Indonesia. &amp;nbsp;Masih banyak generasi-generasi tua di Indonesia  yang mampu berbicara bahasa Belanda, terutama mereka yang pernah mengenyam  pendidikan Belanda di masa muda mereka dulu. &amp;nbsp;Pada kunjungan kali  ini ke Amsterdam, aku menemukan banyaknya kata-kata dalam bahasa Belanda  yang dipakai di dalam percakapan sehari-hari di Indonesia. &amp;nbsp;Sebut  saja kamar (kamer), besuk (bezoek), ongkos, korting, gang (jalan kecil)  dan masih banyak lagi. &amp;nbsp;Semakin diselami semakin banyak kita temukan  kesamaan latar belakang dari dua negara yang terletak jauh terpisah secara  geografis ini.&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Kunjunganku kali ini ke kota Amsterdam  adalah untuk kopi darat dengan dua anggota jalansutra yang tinggal di Amsterdam,  Dwinita Larasati (Tita) dan Vonny Rozen, sekalian mencobai beberapa restaurant  Indonesia yang enak di kota ini.&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Amsterdam tidak bisa dibandingkan dengan  Paris atau Roma yang besar dan memiliki begitu banyak bangunan megah dengan  sejarah yang panjang. &amp;nbsp;Bila tetap ingin dibandingkan dengan kota2  tersebut, Amsterdam bisa dikatakan sebagai kota yang rendah hati. &amp;nbsp;Kota  yang terkenal dengan julukan Venise from the North ini memiliki karisma  tersendiri. &amp;nbsp;Dengan kanal-kanalnya yang banyak, Amsterdam memiliki  pancaran romantisme yang jarang dimiliki oleh sebuah ibukota negara. &amp;nbsp;Kebanyakan  penduduk di kota ini memilih sepeda sebagai sarana transportasi utama.  &amp;nbsp;Pemandangan ini tidak dapat kita temukan di ibukota negara lain,  apalagi yang besar seperti Paris dan Roma. &amp;nbsp;Suhu udara di awal musim  panas yang bersahabat membuatku dapat mengintip lebih jauh kehidupan di  luar ruangan dari penduduk di negara ini. &amp;nbsp;Sambil berjalan-jalan di  taman, tampak beberapa pasangan yang sedang pacaran dengan romantis ditemani  oleh keranjang piknik mereka sambil melihat bebek dan angsa berenang kesana  kemari di kanal di depan &amp;nbsp;mereka.&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sudah bukan rahasia lagi kalau Hollande  adalah negara yang memberikan paling banyak kebebasan kepada warga negaranya.  &amp;nbsp;Marijuana, kepemilikan obat bius, coffee shop yang menjual dan membebaskan  penggunaan ganja bagi pengunjungnya, pernikahan sejenis, pelacuran (Red  Light Distric) adalah hal yang legal di negara ini. &amp;nbsp;Itu sebabnya  bila teman-teman di Perancis atau Belgia tahu bahwa kita akan ke Amsterdam,  maka dengan pandangan nakal mereka akan berujar “Selamat Menikmati yah”  &amp;nbsp;Berdasarkan percakapan dengan Tita, diketahui bahwa kebijaksanaan  seperti ini bertujuan untuk memberikan kebebasan memilih bagi para warga  negara, dan setelah diberlakukan kebebasan ini, toh angka kriminalitas  di Hollande ternyata tidak meningkat tajam dan juga bukan yang paling tinggi  di Europe. &amp;nbsp;Tita menggunakan perumpamaan tentang hubungan orang tua  dan anak &amp;nbsp;dalam hal ini. &amp;nbsp;Anak yang terlalu dikekang akan memberontak,  sementara anak yang diberikan kebebasan akan belajar untuk bertanggung  jawab. &amp;nbsp;Dengan &amp;nbsp;perumpamaan ini, &amp;nbsp;pemerintah Hollande belajar  untuk menjadi orang tua yang memberikan kebebasan kepada warga negaranya.&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Cara berjalan-jalan terbaik di sebuah  kota adalah bersama dengan orang lokal atau teman yang sudah tinggal lama  di kota tersebut. &amp;nbsp;Dengan cara ini, kita akan lebih mudah menyelami  semangat dari penduduk lokal dan juga bisa mengenali sudut2 kota yang jarang  diketahui oleh turis. &amp;nbsp;Khusus untuk Amsterdam, hal ini lebih penting  lagi karena tanpa bantuan dari Vonny dan Tita, kemungkinan besar saya hanya  akan berputar-putar di sekitar Central Station dan nyasar di RLD yang kumuh.  &amp;nbsp;Dipimpin oleh dengan Tita, kami mengunjungi Museum Plein yang luas  dan megah. &amp;nbsp;Melihat penduduk lokal yang sedang main Petangue, sejenis  permainan bola dari besi sebesar kepalan tangan yang berasal dari Perancis  Selatan. &amp;nbsp;Peraturan permainan ini tidak terlalu berbeda dengan permainan  kelereng di Indonesia. &amp;nbsp;Hanya karena ukuran bolanya yang berbeda,  maka bola petangue tidak di sentil dengan jari telunjuk, tetapi dilemparkan  ke udara. &amp;nbsp;Bisa dibayangkan bila bola petangue disentil dengan jari  telunjuk, maka jari &amp;nbsp;Anda mungkin bisa bengkak dan bolanya tetap di  tempat karena berat satu bola sekitar 300-400 gram.&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sebagai ibukota Europe yang paling banyak  ditinggali oleh orang Indonesia, rasanya tidak lengkap bila mengunjungi  Amsterdam tanpa mencicipi restaurant Indonesia yang banyak tersebar di  kota ini. &amp;nbsp;Bagian kedua dari Artikel ini akan bercerita tentang Makansutra  di Amsterdam.&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&amp;nbsp;&lt;/font&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-111804171637742271?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111804171637742271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111804171637742271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2005/06/amsterdam-romantisme-sebuah-sejarah.html' title='Amsterdam: Romantisme Sebuah Sejarah'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-111804123729405978</id><published>2005-06-06T14:00:00.000+07:00</published><updated>2005-06-06T14:00:37.316+07:00</updated><title type='text'>Makansutra di Amsterdam</title><content type='html'>  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Tulisan Peter Pramono, seorang JS-er  yang tinggal di Marseilles, Perancis dan sedang berjalan2 ke Amsterdam...&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Posting ini diambil dari milis Jalansutra&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Date: Sun, 5 Jun 2005 02:40:14 -0700  (PDT)&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;From: Peter Pramono &lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Subject: Makansutra di Amsterdam&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Artikel ini merupakan bagian kedua dari  Amsterdam: Romantisme sebuah Sejarah.&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Sabtu, 28 May 2005, hari itu matahari  bersinar dengan cerah dan suhu udara di Amsterdam hangat bersahabat. &amp;nbsp;Hari  yang indah untuk melakukan visit di kota kanal ini. &amp;nbsp;Dari Central  Station di Amsterdam, aku langsung naik metro menuju Amstelveen, sebuah  kota satelit yang bisa ditempuh dalam 20 menit dari Amsterdam. &amp;nbsp;Tiba  di Toko Madjoe jam 12.45, Tita, Sybrand, Dhanu dan Lindri telah sibuk dengan  Lontong Cap Go Meh-nya. &amp;nbsp;Vonny memesankan aku seporsi Lontong Cap  Go Meh dan juga satu porsi sate kambing yang kami share. &amp;nbsp;Kesanku  terhadap Toko Madjoe ini adalah tokonya bersih dan terang, sangat berbeda  dengan toko2 Asia di Perancis yang seringkali kecil dan agak kumuh. &amp;nbsp;Makanan  disini pun sangat enak, bahkan Lontong Cap Go Meh-nya bisa dibilang lebih  enak daripada yang biasa aku makan di Landmark Building, Jakarta. &amp;nbsp;Sate  kambingnya pun sangat empuk dan lezat. &amp;nbsp;Toko ini sangat direkomendasikan,  terutama untuk take away. &amp;nbsp;Untuk makan ditempat, hanya tersedia 2  meja kecil, jadi kalau mejanya &amp;nbsp;dipakai orang lain, kita harus antri.  &amp;nbsp;Pemilik Toko Madjoe adalah Omar Suama yang merupakan sahabat Vonny.  &amp;nbsp;Karena tidak membayar (kami semua ditraktir oleh Vonny), maka saya  tidak bisa memperkirakan harga makanan di Toko Madjoe ini.&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Toko Madjoe (Omar Suama)&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Amsterdamseweg 183&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;1182 GV Amstelveen&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Te. 020-6476740&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Category: Highly Recommended, but  not so easily accesible by public transport&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Selesai acara makan di toko Madjoe,  kami melanjutkan acara ngobrol-ngobrol sambil minum ice tea dan teh di  Amsterdamse Bos (Bosbaan), lalu makan ice cream di salah satu toko ice  cream Italia di Amsterdam. &amp;nbsp;Sekali lagi, Vonny dengan murah hati mentraktir  kami.&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Di sore harinya, Tita dan Dhanu mengajaku  untuk jalan-jalan di salah satu pasar paling tua di Amsterdam. &amp;nbsp;Setelah  selesai belanja bahan-bahan masakan Indonesia di salah satu toko langganan  Tita, kami makan cendol di Sari Citra. &amp;nbsp;Cendolnya sangat enak, benar-benar  lembut dan bikinan rumahan. &amp;nbsp;Di restaurant yang didekor dengan gaya  Jawa ini juga tersedia makanan-makanan cepat saji dengan harga yang terjangkau.  &amp;nbsp;Sayang, karena perut terlalu kenyang, saya tidak sempat menyicipi  makanan di restaurant ini. &amp;nbsp;Harga Cendolnya per porsi adalah Eur 2.25.&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Sari Citra&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Ferdinand Bolstraat 52&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;1072 LL Amsterdam&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Tel. 020-675 4102&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Category: Recommended untuk Cendolnya&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Malam harinya, aku mencoba restaurant  Sukasari. &amp;nbsp;Dengan service yang cukup baik, restaurant yang didekor  dengan gaya minimalis ini menyediakan mutu makanan yang cukup menyedihkan.  &amp;nbsp;Lemper disajikan dalam keadaan sangat panas tanpa daun pisang, sehingga  tidak dapat segera dimakan. &amp;nbsp;Sementara nasi sukasari-nya, yang seharusnya  merupakan makanan khas dari Restaurant ini, terasa tidak jelas. &amp;nbsp;Nasinya  disajikan seperti nasi goreng, tetapi hanya terasa bumbunya saja, sementara  sayur-mayur dan daging yang menemani nasi ini (rendang, ayam kari, sayur  rebus) didominasi oleh rasa asin. &amp;nbsp;Walaupun datang dalam keadaan lapar,  aku tidak sanggup menghabiskan satu porsi nasi sukasari ini.&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Sukasari&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Damstraat 26-28&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;1012 JM Amsterdam&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Tel. 020 – 6240092&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Category: &amp;nbsp;Not recommended&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Keesokan harinya, bersama Tita dan Dhanu,  kami jalan-jalan di Museumplein yang indah dan dikelilingi oleh berbagai  museum besar di Amsterdam. &amp;nbsp;Setelah belanja oleh-oleh di Museumshop  yang terletak di Museumplein ini, kami mampir untuk makan di Bojo. &amp;nbsp;Museumshop  ini sangat direkomendasikan untuk beli oleh-oleh khas di Amsterdam. &amp;nbsp;Selain  barang-barangnya yang jauh lebih bermutu dan berkelas dibandingkan toko2  souvenir di Central Station, harga barang-barangnya pun relatively reasonable.  &amp;nbsp;Bojo adalah restaurant Indonesia yang terletak di pusat kota dengan  dekor khas Sunda. &amp;nbsp;Makanan yang disajikan memuaskan dengan rasa yg  cukup otentik. &amp;nbsp;Dengan Eur 15 per orang sudah bisa makan dengan kenyang,  termasuk minum. &amp;nbsp;Makanan yang kami pesan pada siang hari itu adalah  Soto ayam, Pangsit Goreng, Nasi Kuning (lengkap), Tahu Tjampur, Cendol,  Ice Tea dan Juice Apel. &amp;nbsp;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Museumshop&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Paulus Potterstraat 3&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;1071 CX Amsterdam&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Tel. 020-4700686&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Category: Highly Recommended for  souvenirs&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Bojo&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Lange leidsedwarsstraat 49-51&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;1017 NG Amsterdam&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Tel. 020-6268990 atau 020-6227434&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Category: Recommended&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Tanpa kira-kira, selesai makan kenyang  dari Bojo, Tita mentraktirku untuk makan kue enak di salon de the yang  pernah direview oleh Tita di salah satu komiknya. &amp;nbsp;Salon de the yang  didekor dengan sangat unik ini menyajikan berbagai macam kue yang tampak  sangat menarik dan lezat. &amp;nbsp;Teh yang disajikan pun beraneka ragam dari  merk +AZO (salah satu teh Kosher yang biasanya dapat ditemukan di toko  makanan khas Yahudi). &amp;nbsp;Ada rasa Tazo Chai, Earl Grey, sampai teh relaksasi  pun disajikan disini. &amp;nbsp;Bila memesan satu teko air hangat, maka mereka  akan memberikan bbrp sachet teh, agar kita bisa ganti-ganti mencicipi teh  dengan berbagai rasa. &amp;nbsp;Tempatnya sangat meriah dan kuenya sangat enak.  &amp;nbsp;Cocok untuk duduk-duduk santai di sore hari. &amp;nbsp;Yang agak disayangkan  adalah tidak adanya larangan merokok di dalam salon de the ini (biasanya  salon de the di perancis tidak memperbolehkan orang merokok). &amp;nbsp;Saran  saya bila Anda ingin mampir di salon de the ini adalah sebaiknya Anda mampir  dalam keadaan perut cukup &amp;nbsp;kosong untuk meng-appreciate kue2 lezat  mereka yang disajikan dalam porsi cukup generous.&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;De Taart Van m’n Tante&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Ferdinand Bolstraat 10&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;1072 LJ Amsterdam&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Tel. 020-7764600&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Category: Highly Recommended&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Wah, dua hari di Amsterdam aku isi dengan  acara makan-makan terus, benar2 jalansutra nih, pikirku. &amp;nbsp;Untuk mengakhiri  tour ke Amsterdam kali ini, tidak lupa aku ambil tour perahu meyusuri kanal  Amsterdam sambil mendengarkan cerita tentang sejarah kota tua ini. &amp;nbsp;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Amsterdam adalah kota yang menyenangkan  dan Tita dan Vonny telah menguatkan Amsterdam menjadi kota yang hangat  dan bersahabat. &amp;nbsp;Thanks to Vonny, Tita and family yang telah begitu  baik menerimaku di kota kanal yang indah ini.&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;Untuk melihat foto-foto di Amsterdam,  please visit our new website:&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;For the photos of Amsterdam City:  http://ppramono.multiply.com/photos/album/6&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;For the photos of Tita and Dhanu:  http://ppramono.multiply.com/photos/album/5&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;It’s quite a pity that I did not have  any chance to take the photo of Vonny, Omar and Paiso (the cooker in Toko  Madjoe). &amp;nbsp;I blame the delicious Lontong Cap Goh Meh for making me  forget everything.&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Peter Pramono &amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;Marseille, France&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;  &lt;br&gt;&lt;font size=2 face="sans-serif"&gt;&lt;b&gt;http://ppramono.multiply.com/&lt;/b&gt;&lt;/font&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-111804123729405978?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111804123729405978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111804123729405978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2005/06/makansutra-di-amsterdam.html' title='Makansutra di Amsterdam'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-111777473563796659</id><published>2005-06-03T11:58:00.000+07:00</published><updated>2005-06-03T11:58:55.666+07:00</updated><title type='text'>Makanan Semarang</title><content type='html'>&lt;p class="mobile-post"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;From: Hianoto Santoso&lt;br /&gt;Date: Wed May 25, 2005  7:32 am&lt;br /&gt;Subject: Re: [Jalansutra] Mohon info - Semarang&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Tuesday, May 24, 2005, 11:10:01 AM, you wrote:&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Makan pagi/siang:&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;* Soto Kudus Mbak Lien di dekat RS Telogorejo; jualnya pagi sampai&lt;br /&gt;siang. Kuahnya kental dan sangat gurih, dengan potongan sayur kuchai&lt;br /&gt;dan bawang goreng yang banyak. Asesorisnya harus dicoba karena sangat&lt;br /&gt;nendang gitu, sate ayam dan kerang yang besar2 dan mantap, paru goreng&lt;br /&gt;yang digoreng crispy. Baca http://weblogs.hianoto.net/?p=74&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;* Nasi Goreng Babat Pak Taman di Stadion (Stadion ini merupakan suatu&lt;br /&gt;tempat olahraga di dekat MT Haryono, saya sendiri kurang tahu nama&lt;br /&gt;jalannya, tapi kalau ngomong ke supir taxi or tukang becak mestinya&lt;br /&gt;mereka tahu). Disini kita punya option untuk pesan nasi goreng babat,&lt;br /&gt;sebenarnya Anda bisa pesan beraneka jerohan sapi, mulai dari babat&lt;br /&gt;tebal, babat sumping, iso (usus), paru, dll. Bila Anda kurang suka&lt;br /&gt;jerohan sapi, bisa minta diganti daging ayam. Ada juga masakan&lt;br /&gt;babat/iso gongso, yang dimasak dalam kuah kecap yang kental. Ada juga&lt;br /&gt;emping manis dan kerupuk udang. Minumannya bisa pesan es kelapa muda,&lt;br /&gt;sueeger banget. Baca http://weblogs.hianoto.net/?p=5&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;* Asem-asem Koh Liem di Jl Karanganyar is worth to try. I won't&lt;br /&gt;explain much about it because Ine and Christin has highlighted it.&lt;br /&gt;Tapi cumi2, kodok goreng, maupun jerohan ayamnya pun layak dicoba;&lt;br /&gt;disajikan dengan saus kecap inggris yang lezat. Baca&lt;br /&gt;http://weblogs.hianoto.net/?p=12&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;BTW, coba juga kue lekker di pintu masuk SMA Loyola (seberang Koh&lt;br /&gt;Liem), nama penjualnya Paimo; kebetulan liburan hari selasa kemarin&lt;br /&gt;saya juga makan disana. Menu andalannya Kue Lekker Telur Sosis, bila&lt;br /&gt;Anda suka pedas, minta dikasih sambal yang banyak (but please be&lt;br /&gt;carefull, pedes bener boookkk).. yang prefer makanan ringan, pesan&lt;br /&gt;saja Kue Lekker Pisang Coklat Keju, mantappp.. harganya agak lebih&lt;br /&gt;mahal, tapi kualitas bahan sangatlah bagus (adonan kue yang lebih&lt;br /&gt;kental, keju Kraft, dll)&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Pada jalan yang sama, Anda bisa mencicipi Rujak Marem Pak Man. Dia&lt;br /&gt;menggunakan potongan pisang hijau (dan terkadang belimbing), kacang,&lt;br /&gt;dan terasi dalam pembuatan sambalnya. Bisa pesan rujak iris ataupun&lt;br /&gt;rujak cacah (buah2 dipotong sangat tipis dengan alat pasah, dicampur&lt;br /&gt;langsung dengan sambal rujak, dan sangat segar). Baca&lt;br /&gt;http://weblogs.hianoto.net/?p=116&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;* Lunpia Gang Lombok harus dikunjungi, tapi yang asyik adalah&lt;br /&gt;tetangga2nya.. Anda bisa pesan es buah segar yang pakai manisan&lt;br /&gt;mangga, cincao, kelapa muda, dll; lalu pesan Mie Pangsit Goreng Siang&lt;br /&gt;Kie dan sebagai penutup, Lunpia Goreng Gg Lombok :-) Baca&lt;br /&gt;http://weblogs.hianoto.net/?p=22&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;* Tahu Pong di Jl Gajahmada, dekat perempatan Depok. Tahu pong itu&lt;br /&gt;semacam tahu kosong yang digoreng, bisa ditambahkan Gimbal Udang dan&lt;br /&gt;Telur; disajikan dengan kuah petis dan bawang dan acar lobak. Ada pula&lt;br /&gt;tahu kopyok, yaitu tahu mentah yang dihancurkan dan dicampur dengan&lt;br /&gt;telur; lalu digoreng. Baca http://weblogs.hianoto.net/?p=42&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;* Ngoyang, Keekian, dan Babi Panggang di Moh Suyudi (warning: tidak&lt;br /&gt;halal). Ada lidah, kuping, usus, daging, jerohan, dll. Anda juga bisa&lt;br /&gt;mendapatkan acar lobak.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;* Es Dawet Kampung Kali, depan sekolah Theresiana. Es dawetnya cukup&lt;br /&gt;istimewa dan Anda bisa menikmati betapa teduhnya daerah itu dengan&lt;br /&gt;begitu banyak pohon rindang. Bila pas musim, Anda pun bisa memesan&lt;br /&gt;durian dicampur di es dawetnya. Baca http://weblogs.hianoto.net/?p=61&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;* Es Kelapa Muda Kartika, terletak di MT Haryono sangat dekat dengan&lt;br /&gt;pertigaan Jl Petolongan. Kelapa mudanya sungguh berkualitas tinggi,&lt;br /&gt;disajikan dalam gelas besar dengan sirup Kartika. Anda pun bisa makan&lt;br /&gt;pisang goreng (ini sangat recommended), bakmi/bihun goreng dalam daun&lt;br /&gt;pisang, lunpia goreng, dll. Ada pula variasi Blewah (kalau pas musim).&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Bila tidak enggan untuk pergi rada jauh, bisa ke Ungaran (kira2 30-40&lt;br /&gt;menit dari Simpanglima) dengan menu:&lt;br /&gt;* Sate sapi Pak Kempleng, ada begitu banyak warung yang menggunakan&lt;br /&gt;nama ini (mungkin saudara2nya, baik dekat maupun jauh &amp;lt;g&amp;gt;), tapi saya&lt;br /&gt;pribadi cukup cocok dengan yang di Jl Diponegoro Ungaran sebelah kiri&lt;br /&gt;kalau dari Semarang, dekat RM Aneka Sari.&lt;br /&gt;* Soto sapi Pak Keri, jangan khawatir, mangkoknya begitu kecil&lt;br /&gt;sehingga Anda bisa mencicipinya dengan masakan Pak Kempleng :-)&lt;br /&gt;* Kepiting di dekat Polres Ungaran, ada kepiting taoco maupun goreng&lt;br /&gt;mentega. Hati2, pada hari Minggu/besar cenderung sangat ramai sehingga&lt;br /&gt;sangat disarankan untuk melakukan pemesanan lewat telpon dulu&lt;br /&gt;setidaknya 1 jam sebelumnya&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Karena sudah di Ungaran, ada baiknya mampir ke Bandungan yang&lt;br /&gt;merupakan tempat tetirah (semacam Puncak gitu lah), tidak jauh dari&lt;br /&gt;Ungaran (kurang dari 30 menit); anak2 bisa naik kuda keliling, ibu2&lt;br /&gt;bisa belanja sayur-mayur dan buah2an di pasar, dan JS-ers bisa makan:&lt;br /&gt;* Bakso Pojok Bandungan, terletak di dalam pasar dan paling pojok&lt;br /&gt;* Tahu Campur, semacam tahu dengan bakwan, disajikan dengan irisan kol&lt;br /&gt;dan sambal kacang. Klo bisa, minta mereka gorengkan tahu/bakwan yang&lt;br /&gt;baru, sehingga crispy. Klo suka, juga bisa pesan irisan kol yang&lt;br /&gt;digoreng.&lt;br /&gt;* Wedang Ronde disamping Tahu Campur&lt;br /&gt;* Tahu Goreng dan Susu Kedelai di pabriknya langsung, lokasinya&lt;br /&gt;didekat jual tanaman bunga2&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Makan malam:&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;* Nasi Ayam Bu Wido di Jl Kemuning, dekat kantor polisi. Wah ini&lt;br /&gt;benar2 nasi ayam kegemaran saya, kuah opor yang begitu pas di lidah,&lt;br /&gt;sambal goreng jipang yang asyik punya, dan aksesoris-nya begitu&lt;br /&gt;lengkap (sate saren, ati-rempela, usus, dll). Baca&lt;br /&gt;http://weblogs.hianoto.net/?p=21&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;* Nasi Gandul Pak Memet di Jl Dr Cipto, lebih dekat dari arah Citarum.&lt;br /&gt;Kuahnya enak dan gurih. Disana Anda bisa pesan tambahan lauk seperti&lt;br /&gt;daging, koyor, telur, dll.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;* Lesehan aneka Bandeng di Puri Anjasmoro. Ada 2 tempat, yaitu Baron&lt;br /&gt;dan Victory; namun saya pribadi prefer Victory karena lebih bersih,&lt;br /&gt;tempat lebih nyaman, masakan pun tidak kalah dengan Baron yang memang&lt;br /&gt;lebih terkenal. Ada bandeng goreng, bandeng keropok dll. BTW,&lt;br /&gt;bandengnya bukan presto lho, tapi untuk masakan tertentu (goreng)&lt;br /&gt;durinya cukup aman untuk dimakan. Mohon bila ajak anak kecil, awasi&lt;br /&gt;durinya yah.. BTW, kepiting telur dan kepiting lemburinya pun cukup&lt;br /&gt;enak lho.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;* Lesehan bandeng juga di RM Kampung Laut dekat PRPP (Puri Anjasmoro).&lt;br /&gt;Masakan sih hampir serupa dengan yang diatas, tapi dengan view yang&lt;br /&gt;lumayan indah dan romantis. Jangan lupa untuk naik perahu yah, IIRC 5&lt;br /&gt;ribu untuk tiap orang, minimal 3 orang sekali angkat. Anda bisa&lt;br /&gt;melihat betapa bandeng2 berloncatan masuk ke perahu, wah asyik banget.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;* RM Alam Indah di Gombel, masakannya sih lumayan tapi view-nya yang&lt;br /&gt;asyik.. bisa melihat Semarang dari atas, paling asyik dikunjungi kalau&lt;br /&gt;malam hari karena bisa melihat lampu2 yang begitu indah. Kalau pas ada&lt;br /&gt;event tertentu, dia kasih atraksi pesta kembang api.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;* Sate Kambing Pak Rony, di daerah Pecinan kira2 seberangnya Gg Baru.&lt;br /&gt;Tapi ini makan di kursi pinggir jalan, sambil melihat2 sekian banyak&lt;br /&gt;orang makan2 didaerah sana. Di daerah Pecinan, ada banyak makanan lain&lt;br /&gt;sebenarnya, sate sapi (lupa namanya, tapi cukup enak), es Marem (ini&lt;br /&gt;es campur, dengan tape kering dll), sate babi (maaf, tidak halal)&lt;br /&gt;dengan bakut sayur asin yang begitu yummy, Mie Jowo (lupa namanya),&lt;br /&gt;Mie Pak Min (maaf tidak halal, ini mie dengan daging titee, bakso, dan&lt;br /&gt;pangsit basah/goreng dan porsinya kecil), dll&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;* Aneka bubur di Jagalan; hanya bisa dibungkus lho. Anda bisa&lt;br /&gt;mencicipi bubur delima, candil, sumsum, jewawut (?), dll. Dia juga&lt;br /&gt;jual Lontong Opor yang rasanya sungguh mama-mia :-) Hati2 sangat pedas&lt;br /&gt;lho sambal gorengnya.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;* Kue Bandung Jagalan, ini porsinya besar dan takaran coklat/keju-nya&lt;br /&gt;sangat banyak. Bisa juga coba Kue Bandung Thien-Thien Lay di Moh&lt;br /&gt;Suyudi, juga Kue Pukisnya (ini enak sekali)..&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;* Aneka wedang di Istana Wedang, Jl Pemuda disamping hotel Novotel.&lt;br /&gt;Ada wedang ronde yang menghangatkan, wedang kacang hijau/kacang tanah,&lt;br /&gt;dll. Makanan pun cukup enak, ada galantine, lontong opor capgomeh,&lt;br /&gt;dll. Baca http://weblogs.hianoto.net/?p=89&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;* Es krim di Lind's Cafe di Pondok Indrapasta. Tempatnya cukup&lt;br /&gt;romantis di taman, dengan banyak lampu. Es krimnya cukup enak. Anda&lt;br /&gt;juga bisa pesan kroket, kentang, dll yang memang enak dan layak&lt;br /&gt;dicoba.&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;* Bubur Sukabumi Depok. Well, jauh2 ke Smg koq makan masakan Sukabumi&lt;br /&gt;sih ?? Soalnya dengan segitu banyak makanan gorengan tentu membuat&lt;br /&gt;tenggorokan menjadi panas. Bubur Sukabumi disajikan dengan potongan&lt;br /&gt;ayam tim, saren, tahu kuning, sayur asin, dan timun. Wah enak bener.&lt;br /&gt;Baca http://weblogs.hianoto.net/?p=31&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Sebenarnya masih pengen nambah info yang banyak, tapi saya sudahi dulu&lt;br /&gt;karena masih sibuk urusan kantor. Ntar kalau waktu memungkinkan, akan&lt;br /&gt;saya sambung lagi. Ada masukan rekan2 lain ??&lt;/p&gt;&lt;p class="mobile-post"&gt;Salam,&lt;br /&gt;Hian&lt;br /&gt;http://weblogs.hianoto.net/index.php?cat=3 - Blogs Ngiras&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-111777473563796659?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111777473563796659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111777473563796659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2005/06/makanan-semarang.html' title='Makanan Semarang'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-111286169425451530</id><published>2005-04-07T15:14:00.000+07:00</published><updated>2005-04-07T15:14:54.256+07:00</updated><title type='text'>[ReRe] Resto Ayam Paska "Ellen"</title><content type='html'>&lt;p class="mobile-post"&gt;                                                                         &lt;br /&gt;                                                                         &lt;br /&gt;                                                                         &lt;br /&gt; From: "harry_nazarudin" &lt;harry_nazarudin@...&gt;                           &lt;br /&gt; Date: Wed Apr 6, 2005  8:14 pm                                          &lt;br /&gt; Subject: [ReRe] Resto Ayam Paska ”Ellen”                                &lt;br /&gt;                                                                         &lt;br /&gt;                                                                         &lt;br /&gt;                                                                         &lt;br /&gt; [ReRe] Resto Ayam Paska "Ellen"                                         &lt;br /&gt; Jl. Jend. A Yani, Subang                                                &lt;br /&gt;                                                                         &lt;br /&gt; Kalau ke Bandung lewat Subang, makan dimana? Buat saya, cuma ada        &lt;br /&gt; satu pilihan: resto "Ellen". Saya kenal resto ini sejak SMA, waktu      &lt;br /&gt; sering touring naik motor beramai-ramai dari Bandung. Kami sengaja      &lt;br /&gt; memilih rute Bandung-Subang yang sepi dan pemandangannya indah,         &lt;br /&gt; melalui perkebunan teh dan pemandian air panas Ciater. Kalau dari       &lt;br /&gt; arah Jakarta, sangat mudah menemukannya. Ikuti saja petunjuk kearah     &lt;br /&gt; Bandung sampai Anda menemukan perempatan dengan lampu setopan. Di       &lt;br /&gt; perempatan itu arah Bandung belok ke kanan, nah pas sesudah belok       &lt;br /&gt; kanan itu, resto Ellen terletak di kanan jalan. Restonya kecil tapi     &lt;br /&gt; punya papan nama yang cukup jelas terlihat.                             &lt;br /&gt; Menunya? Menu unggulan pasti adalah ayam paska. Saya tidak tahu         &lt;br /&gt; kenapa namanya paska, kalau tidak salah pernah dibahas yaitu            &lt;br /&gt; berhubungan dengan nama lama tempat resto ini berada. Ayam paska        &lt;br /&gt; adalah ayam utuh (hanya bisa dipesan per ekor) yang dimasak khusus      &lt;br /&gt; (dipanggang), kemudian dimakan dengan sambel, merica, dan garam         &lt;br /&gt; sebagai kondimen. Artinya daging ayam terlebih dahulu dicocolkan ke     &lt;br /&gt; garam, merica, sambal, baru dimasukkan ke mulut bersama sekepal nasi    &lt;br /&gt; panas. Walaupun menggunakan ayam kampung, daging ayam paska selalu      &lt;br /&gt; empuk dan gurih, pas dengan kondimen yang disajikan. Kualitas           &lt;br /&gt; ayamnya selalu baik, tidak pernah terlalu berlemak. Selain ayam         &lt;br /&gt; paska, resto ini juga menyediakan kodok goreng mentega, kodok kuah      &lt;br /&gt; tauco, dan sop (bukan s0pjagung! Yang ini tidak dijual bebas, hehe).    &lt;br /&gt; Kodok goreng menteganya lumayan, tapi kesukaan saya adalah kodok        &lt;br /&gt; kuah tauco, karena kuahnya gurih dan kental. Terasa bahwa kualitas      &lt;br /&gt; tauconya baik dan ditambah lagi gorengan bawang putih sehingga mirip    &lt;br /&gt; dengan maestro kodok kuah tauco di Jatiwangi. Saya biasanya memesan     &lt;br /&gt; kodok kuah tauco dan seporsi ayam paska, yang selalu disambut           &lt;br /&gt; keheranan pemiliknya. "Ini ayamnya satu ekor lho" katanya               &lt;br /&gt; mengingatkan. Saya bilang gak papa, sisa ayamnya dibungkus kok.         &lt;br /&gt; Padahal, ayamnya ludes bersama kuah tauconya juga, dan                  &lt;br /&gt; saya `terpaksa' memesan satu lagi ayam paska untuk di rumah. Belon      &lt;br /&gt; tau dia, orang Jalansutra tankinya besaaar! Hehehe                      &lt;br /&gt; Masalah harga, ayam paska memang dibandrol agak mahal. Seporsi Rp       &lt;br /&gt; 42.500,-, untuk ukuran Subang lumayan mahal. Kodok kuahnya dibandrol    &lt;br /&gt; Rp 12.500,-, nasi Rp 2.500,-. Lumayan reasonable. Yang unik adalah      &lt;br /&gt; menu yang disajikan sejak dari dahulu tidak berubah dan tetap gak       &lt;br /&gt; nyambung: kodok dan ayam. Tapi, semuanya sejauh ini enak, dan kata      &lt;br /&gt; adik saya sop-nya pun enak juga. Jadi, kalau perut keroncongan saat     &lt;br /&gt; mau ke Bandung lewat Subang, singgah deh di Ellen. Highly               &lt;br /&gt; recommended!                                                            &lt;br /&gt;                                                                         &lt;br /&gt; Cheers,                                                                 &lt;br /&gt;                                                                         &lt;br /&gt; -HarryHN-                                                               &lt;br /&gt;                                                                         &lt;br /&gt;                                                                         &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-111286169425451530?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111286169425451530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111286169425451530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2005/04/rere-resto-ayam-paska-ellen.html' title='[ReRe] Resto Ayam Paska &quot;Ellen&quot;'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-111119842164799738</id><published>2005-03-19T09:13:00.000+07:00</published><updated>2005-03-29T10:03:27.226+07:00</updated><title type='text'>Resto Review: Warung Cirebon &amp; Resto Hoki Baru Pesanggrahan - Jakarta Barat</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Warung Cirebon Pesanggrahan (Jalan Raya Pesanggrahan, Gunther: 33I37)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa meter sebelum naik ke jembatan Pesanggrahan (arah Puri Indah ke Hero Kebun Jeruk), ada Warung Cirebon dalam bentuk ruko. Berbagai makanan Cirebon ada di situ dan nampaknya cukup komplit. Di sebelah Rumah makan ini ada Pastel Ma'Cik yang amat disukai Dr. Sindiarta Mulya. Saat mengunjungi warung ini, saya sempat mencoba Tahu Gejrot, nah yang ini cukup istimewa karena bawang putih dan merahnya generous sekali, demikian pula cabe rawitnya. Sehingga rasanya nendang pisan euy... Mereka juga menjual Nasi Jamblang dengan macam2 lauk seperti biasa, ada tahu aneka rupa (semur, goreng), cumi, aneka telur (dadar mini, semur),&lt;br /&gt;dendeng, sambal dari cabe merah diris memanjang bungkus daun (tepatnya&lt;br /&gt;mirip sambal goreng cabe), paru goreng, rendang, ayam, perkedel dll.&lt;br /&gt;Semuanya dalam bentuk ukuran mini seperti di Cirebonnya sana. Nasinya&lt;br /&gt;sendiri biasanya dibungkus daun Jati dalam porsi2 kecil. Dinamakan Nasi&lt;br /&gt;Jamblang karena di daerah asalnya sana di pinggiran kota Cirebon, nasi&lt;br /&gt;campur-campur model seperti ini berasal dari daerah Jamblang. Di daerah&lt;br /&gt;asalnya sana, pengunjung duduk berhadapan dengan penjualnya sambil memilih&lt;br /&gt;dan mengambil sendiri masing-masing lauk yang telah tersedia. Barangkali&lt;br /&gt;saking mininya ukuran nasi dan sambalnya, harus makan minimal 3 porsi baru&lt;br /&gt;sedikit kenyang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Nasi Lengko, di sini kurang ok. Nasinya sangat sedikit justru&lt;br /&gt;taoge-nya buanyaaakk banget, karena saya mengidap asam urat, maka saya jadi&lt;br /&gt;serasa belum makan. Bumbu Lengkonya rasanya kurang mantap. Nasi Lengko&lt;br /&gt;adalah nasi dengan potongan tahu, tempe goreng, diberi taoge dan disiram&lt;br /&gt;dengan bumbu kacang. Dengan dressing kecap manis di atasnya dan kerupuk&lt;br /&gt;terung (kerupuk mie) sebagai pelengkap. Nasi Lengko ini khas daerah Cirebon&lt;br /&gt;dan Tegal. Rujak Buah di rumah makan ini cukup ok, potongan buahnya besar2 dan segar.&lt;br /&gt;Bumbu yang terbuat dari gula jawa dan kacang cukup kental dan manis. Nah di&lt;br /&gt;warung ini ada pula tersedia makanan yang saya belum pernah coba, namanya&lt;br /&gt;Docang.  Sate Kalong dan Empal Gentong juga tersedia di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Restoran Hoki Baru (Jalan Raya Pesanggrahan, Gunther: 33H36) &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih di jalan Pesanggrahan, restoran ini terletak di sisi seberang Warang&lt;br /&gt;Cirebon tadi. Sekitar 200 meter sebelum belokan ke perumahan Puri Indah,&lt;br /&gt;ada banyak ruko yang menjual bermacam-macam makanan. Setelah melewati Ayam&lt;br /&gt;Goreng Suharti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali atas rekomendasi teman kami Felicia, kami berkunjung ke Hoki&lt;br /&gt;Baru. Chinese food yang ditawarkan resto model Ruko ini cukup banyak.&lt;br /&gt;Sekitar 150 menu kira-kira dan cukup bervariasi. Tapi saat itu kami hanya&lt;br /&gt;datang berdua dan dalam kondisi tidak enak badan, sehingga hanya memesan&lt;br /&gt;Mie Goreng dan Ayam Goreng Terasi. Mie Gorengnya biasa saja, nothing special, seperti mie goreng kucai di beberapa resto chinese food kebanyakan. Mienya tipis-tipis. Sedangkan Ayam Goreng terasinya lumayan. Tadinya kami pikir aroma terasi pasti keluar. Ternyata semacam ayam berpotongan kecil-kecil digoreng sangat kering.&lt;br /&gt;Rasanya cukup asin dan crispy sekali, tapi kok terasinya nggak terasa ya?&lt;br /&gt;Walaupun ruko, ternyata resto ini panjang sekali karena untuk non smoking&lt;br /&gt;area dipisahkan dan diletakkan di bagian belakang lengkap dengan AC. Untuk&lt;br /&gt;setiap masakan ada beberapa ukuran yang tersedia, yaitu ukuran S, M dan L. Agaknya positioning resto ini memang amat wide, mulai dari personal-resto sampai dengan family-resto untuk facilitating for those family yang kuat banget giginya a.k.a "makan meja".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-111119842164799738?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111119842164799738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111119842164799738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2005/03/resto-review-warung-cirebon-resto-hoki_19.html' title='Resto Review: Warung Cirebon &amp; Resto Hoki Baru Pesanggrahan - Jakarta Barat'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-111096104220372287</id><published>2005-03-16T15:15:00.000+07:00</published><updated>2005-03-16T15:17:22.206+07:00</updated><title type='text'>Casper(Catatan Singkat Perjalanan): Beijing in 2003</title><content type='html'>Saya masih ingat benar jawaban atas e-mail saya di Jalansutra dan secara pribadi ke &lt;strong&gt;Om Bondan&lt;/strong&gt; mengenai rekomendasi makanan di Beijing. Saat itu &lt;strong&gt;Om Bondan&lt;/strong&gt; menjawab bahwa pengalamannya di Beijing amat mengecewakan. Jauh dari apa yang diharapkan, sampai-sampai ia harus rela masuk ke Resto Korea, yang - lagi-lagi - juga mengecewakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah minggu terakhir Februari 2003 itu, saya tetap berangkat ke Beijing atas memenuhi undangan Microsoft untuk menjadi International Judge pada Asia-Pacific Microsoft .NET Competition 2002. Kami berangkat lepas matahari terbenam, transit sebentar di Singapore, dan sampai di Beijing pagi hari sekitar jam 5 pagi. Pelayanan SQ yang terkenal memuaskan membuat perjalanan tidak terasa membosankan karena personalized entertainment system di tiap seat  membuat setiap passenger betah berlama-lama memilih puluhan film dengan berbagai genre, musik beraneka aliran, maupun games Playstation bermacam rupa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu kami langsung disambut cuaca Beijing yang amat dingin. Saat itu winter. Suhunya di bawah 10 derajat celsius. Hari masih pagi, belum lagi pukul 7. Udara demikian dingin, langit demikian mendung, hujan turun rintik-rintik disertai angin yang cukup kencang. Hiruk pikuk penumpang di bandara diwarnai dengan kedatangan kontingen sebelas negara peserta lain dalam kompetisi ini dengan jam kedatangan yang berbeda-beda. Acara saling tunggu tak sampai lebih dari satu jam. Peserta yang datang dibawa bus besar menuju Shangri-la Hotel tempat kompetisi dan sekaligus akomodasi. Jarak tempuh kira-kira 1 jam dengan bus membuat kami dapat menikmati keindahan Beijing di pagi hari. Jalan-jalan di pusat kota lebar tidak terkira. Beijing sudah modern, jauh dari bayangan kami semula. "Bandwidth" jalanannya amat lebar. Jalan yang lebar dapat mencapai 4-5 jalur untuk satu sisi, berarti 10 jalur bolak balik. Mobil memenuhi jalan tapi tidak macet. Tata kota telah memikirkan bandwidth jalan dengan jumlah mobil, tentu saja. Semua teratur antri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sampai di Shangri-la dalam keadaan lapar berat. Saya keluar hotel dengan jaket tebal untuk mulai bereksplorasi mencari lokasi "sekoci-sekoci penyelamat" perut di sekitar hotel in case of emergency. Keluar dari Shangri-la, ke sebelah kanan sekitar 60 meter ada mal kecil, kira-kira 4 lantai. Saya tidak tahu namanya karena di sini semuanya menggunakan aksara Cina.  Demikian pula saat mencari restoran ataupun foodcourt dalam mal ini, amat sulit walaupun berkali-kali bertanya kepada pramuniaga beberapa toko: karena mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Alamak! Bagaimana ini? Terpaksa kami pakai bahasa ibu yang tidak perlu diajarkan. Ya, apalagi kalau bukan bahasa isyarat? Dengan bahasa isyarat yang menandakan "makan" yaitu dengan gerakan tangan kanan dan kiri seperti bergantian memegang sendok dan garpu masuk ke mulut, membuat merekapun mengernyitkan dahi karena tak paham. Wah, bagaimana ini? Tapi akhirnya ada yang tahu maksud saya juga. Foodcourt ada di basement, turun satu lantai dari lantai tempat kami masuk, padahal kami sudah di lantai teratas berkeliling dan memasuki supermarket. (Aha, barusan saya sadar, mereka makan dengan chopstick, bagaimana mungkin gesture kedua tangan menggunakan spoon and fork saya dimengerti mereka? pantas mereka bingung :-))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foodcourtnya tradisional sekali. Ada sekitar 5-6 outlet yang buka di situ. Satu warung menjual mie, saya pikir, tentunya enak-lah mi di China, wong katanya noodle berasal dari Cina. Saya memesan mi, lagi2 dengan bahasa "tunjuk". Kita boleh memilih macam2 daging sebagai lauk mi. Saya lupa apa yang saya pilih waktu itu. Tapi yang jelas, it was not a good start! Kuahnya kuning, malah terasa seperti jamu. Herbs yang dipakainya kira-kira apa ya? Di foodcourt ini kami jadi tontonan aneh mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siangnya, kami berempat, saya dan tiga orang mahasiswa, berjalan kira-kira 2 km ke sebelah kanan Shangri-la. Udara masih dingin, tapi hari tidak hujan. Gedung2 besar banyak yang dibangun. Nampak para pekerja bangunan berhelm proyek melepas lelah untuk makan siang. Rata-rata mereka membawa sendiri makanannya. Serantang penuh nasi putih hingga rata lurus dengan rantang, mengintip di kejauhan. Demikian banyak karbohidrat yang mereka konsumsi karena mereka memang pekerja berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa resto di ruas jalan tsb. Pilihan kami jatuh pada sebuah resto Seafood dengan etalase kaca lebar plus Akuarium yang nampak dari luar. Interiornya masih sederhana kalau tidak dibilang konvensional. Meja kursi rumahan layaknya resto2 kecil di Jawa Tengah. Kembali lagi acara memesan bikin jengkel, karena - lagi-lagi - tidak ada yang bisa berbahasa Inggris maupun menunya tidak bertulisan Inggris. Dengan penuh perjuangan kami bisa mendapatkan ca sayuran hijau (kay lan), masakan iga berwarna coklat (kami tidak tahu iga apa ini), dan seekor ikan segar yang dimasak coklat seperti saus tiram. Tak perlu diragukan lagi, kami makan dengan lahap dan hidangan iga siang itu yang menjadi favorit kami. Ikan yang dihidangkan sangat banyak durinya sehingga sulit dimakan. Nampaknya ikan air tawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya, kami sempat ke Wang-Fu-Ching. Orang bilang, ini kawasan pedestrian mall paling ok di Beijing. Berhubung sudah amat larut, saat kami ke sana, semua toko sudah tutup. Jadi yang tinggal cuma pedestriannya saja. Sekitar jam 11 malam itu, kami makan di sebuah warung yang buka sampai larut malam. Nampaknya yang dijual di sini adalah aneka Dim Sum dan Noodle. Kami pesan tiga macam dim-sum dishes. Lumayan, ada menu berbahasa Inggris. Kami pilih Chicken Dumplings, Pork Dumplings, dan Char-Siu Bun. Sizenya lumayan besar. Not bad at all, tapi Dimsum di Samudra Jakarta is a far above the par absolutely!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, karena penasaran, saya menyeberang ke depan Shangri-la hotel dan menemukan restoran yang cukup ramai di waktu lunchtime. Saya mencoba Peking Duck yang otentik. Hidangan datang dengan potongan2 Roast Duck yang tidak begitu garing (jayus!) dan side-dishnya yaitu semacam kulit lumpia basah atau mirip dengan kulit pangsit rebus. Roast Ducknya cukup enak. Mild dan Melt in your mouth. Di antara duck skin dan dagingnya terdapat lemak yang tidak dapat dilupakan karena cukup tebal, dan (maaf), aromanya agak kurang sedap, mungkin karena armpit duckling memang demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata cara makan Peking Duck yang benar adalah dengan membentangkan Spring roll skin tersebut dan meletakkan roast duck piecesnya di tengah, dan diberi potongan onion spring. Kemudian di garnish dengan saucenya yang mirip dengan Lee-Kum Kee sauce untuk Hoisin, thick, sweet, brown sauce, lalu dimakan setelah skinnya ditutup. Ya ampun... jadinya kayak Lunpia atau Kebab nih cara makannya... Tutorial singkat cara makan yang benar itu saya dapatkan dari waitressnya :) Tentu saja porsinya kelewat besar untuk saya yang kemari sendirian! Kalau tidak salah roasted ducknya setengah ekor. Bayangkan saja! Akhirnya saya hanya makan beberapa *potong* sebelum saya minta dikemas dalam container untuk dimakan sorenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinner kami terakhir sebelum pulang adalah semacam farewell party bagi semua peserta kompetisi. Kami di bawa jauh dari hotel untuk ke suatu restoran Yunan. Yunan adalah salah satu provinsi di China. Di sini saya takjub karena orang2 Yunan mirip sekali dengan Chinese Indonesian. Baik dari segi skin colour maupun eyesnya yang bulat lebar. kami duduk dalam meja2 dan makan secara set. Ada sekitar 10 menu yang kami makan dan rasanya superb! Memang ada beberapa menu yang nampaknya komposisi bahannya aneh, karena kesannya ada sayur yang terbuat dari kelopak2 bunga, jadi rasanya kita seperti makan bunga (emang dukun!), untung saja setelah itu kami tidak mengalami OBE (Out of Body Experience) seperti paranormal kebanyakan! Secara detil saya tidak ingat apa saja yang kami makan saat itu, karena sudah lamaaaaa sekali, but overall, its a unique dining experience! Selama acara makan berlangsung, hiburan tradisional Yunan yaitu lagu dan tari-tarian setia menghibur kami, lengkap dengan pakaian tradisionalnya. Di penghujung acara para penari wanita ini mencari pasangan dari para tamu untuk menari berpasangan dengan aturan tertentu meloncati dua bilah bambu panjang di dasar lantai yang digerakkan secara bersamaan tetapi tidak beraturan dari dua penari yang memegang bambu tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Overall, dengan keterbatasan eksplorasi selama di Beijing, hipotesa saya menyimpulkan bahwa apa yang diceritakan &lt;strong&gt;Pak Bondan&lt;/strong&gt; tidak sepenuhnya meleset. Memang kuliner Beijing tidak demikian istimewa. Nampaknya mahzab / aliran Chinese food di Beijing agak beda dengan yang kita temui secara kebanyakan dengan Chinese food di Indonesia. Nampaknya Chinese food di Indonesia banyak terpengaruh ke mahzab Hongkong-style atau malah Singaporean/Malaysian Style dan sudah terpengaruh dengan apa yang kita namakan masakan Babah/Peranakan (aka Rahim). Sedangkan Chinese food di Beijing ini - kalau boleh saya berpendapat - a little bit traditional...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-111096104220372287?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111096104220372287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111096104220372287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2005/03/caspercatatan-singkat-perjalanan.html' title='Casper(Catatan Singkat Perjalanan): Beijing in 2003'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-111095909836311694</id><published>2005-03-16T14:41:00.000+07:00</published><updated>2005-03-16T14:44:58.366+07:00</updated><title type='text'>Resto Review: Red Ginger</title><content type='html'>Beberapa waktu lalu (2004 awal) saya mengunjungi Red Ginger. Lokasinya di KH Ahmad Dahlan. Dekat Radio Dalam. Kunjungan ini sifatnya kebetulan, karena hari sudah siang, perut kelaparan, sudah jauh-jauh tadinya mau ke Sushi Tengoku di Radio Dalam karena banyak yang bilang ok, eh malah tutup... belakangan baru tahu kalau bukanya hanya untuk Dinner. Lhadalah! untung nggak ditungguin :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Red Ginger ini resto semi cafe. Tidak begitu besar, nampaknya berasal dari Ruko yang diubah jadi Cafe. Interiornya ok, cosmo banget. Lightingnya juga pas. Ada Upright Piano yang bisa dimainkan di dalam Resto. Mungkin untuk Live Performance saat Dinner time. Tables dan Chairs konfigurasinya ada yang standard resto biasa berhadap2an, ada pula beberapa sofa empuk. Magazines juga ada untuk yang mau santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanannya lebih banyak ke Hawker's Food a la Malay dan Singapore. Untuk Entry ada Roti Jala dan Roti Prata dengan Curry Chicken. Lumayan enak. Curry gravynya sangat thick dan spicy sekali karena herbsnya terasa banget. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian untuk main course kami pesan Mie Goreng India dan Nasi Lemak. Sedangkan untuk Jessica, putri kami yang berusia 3 tahun, seperti biasa dipilihkan makanan yang relatively aman dan sehat, yaitu Sapo Tahu Seafood (akhirnya saya yang makan juga sih hehehe...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mie Goreng Indianya mirip Mee Malaysia di Eaton atau resto2 lain. Hanya saja ada komponen Red Peppernya yang cukup ok. Mienya berukuran besar seperti Hokkian Mie. Sizenya cukup besar. Nasi Lemaknya biasa saja, malah kata istri saya sangat kurang ok. Kurang otentik. Sedangkan Sapo Tahu Seafood-nya saya bilang cukup ok. Prawn dan Squidnya cukup tender, succulent, dan fresh. Demikian pula gravynya diolah dengan rasa yang cukup ok, thick but not too spicy. Tidak begitu asin, tidak begitu manis. Just right. Ice Barley-nya kurang nendang banget. Untuk urusan Sapo ini saya beri nilai 8 deh. Mie Indianya mungkin 7. Sedangkan Nasi Lemaknya 6. Ini semua dalam skala 1 - 10 (10 = terbaik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Overall saya kira resto ini cukup recommended. Banyak sekali makanan lain yang standard cafe nampaknya perlu dicoba, misalnya Oxtail Soup, Char Kway Teow dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harganya standar cafe biasa, untuk main course mulai dari 15-20K-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan saat membayar saya baru tahu, ternyata resto ini masuk dalam promo Goldcard Food Festivalnya Citibank, sehingga malah dapat diskon.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-111095909836311694?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111095909836311694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111095909836311694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2005/03/resto-review-red-ginger.html' title='Resto Review: Red Ginger'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-111000627371822635</id><published>2005-03-05T13:52:00.000+07:00</published><updated>2005-03-13T21:45:42.903+07:00</updated><title type='text'>Investasi TI 2005</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;em&gt;(versi terdahulu dari artikel yang dimuat di Majalah WartaEkonomi, February 2005)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Selamat Tahun Baru 2005. Dapat dikatakan bahwa 2005 ini akan menandai 10 tahun usia Internet mulai merambah Indonesia. Di tahun 1995 lah dapat dibilang Internet mulai masuk ke Indonesia dengan eksistensi beberapa ISP. Dilihat dalam kerangka lifecycle pengembangan produk melalui kurva S, mestinya waktu 10 tahun adalah waktu sudah cukup lama untuk meng-edukasi pelanggan, apalagi dengan ratusan martyr dotcom yang sudah ada. Demikian pula Internet di Indonesia sudah makin banyak diakses dan dilihat manfaatnya oleh masyarakat. Kini saatnya untuk mulai menciptakan dan menawarkan business value yang lebih bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ingin melakukan refleksi, maka maju mundurnya TI di dunia maupun di Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun terakhir tidak dapat dilepaskan dari pengaruh Internet. Alhasil, Internet telah merevolusi dan memberi arti lain bagi definisi aplikasi komputer, perkembangan bisnis, maupun kehidupan kita sekalipun. IT yang tadinya hanya sebagai supporting tools untuk reporting, sudah dapat berfungsi untuk menjadi enabler, bahkan dapat menciptakan model bisnis baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari peristiwa traumatis kegagalan dotcom dengan bubble economy-nya, rendahnya penetrasi komputer dan akses ke Internet di Indonesia, tingginya persentase kegagalan projek TI, mahalnya investasi TI, berkurangnya kepercayaan CEO terhadap manfaat TI karena CIO-nya kurang mampu meyakinkan maupun me-manage TI secara bisnis, dan kendala-kendala lainnya, namun TI tetap saja mampu menjadi sandaran utama perangkat untuk mengelola data dengan lebih efektif dan efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jurus-jurus TI yang tergolong baik, murah dan menguntungkan bagi bisnis di Indonesia untuk tahun 2005? Berikut ini ada beberapa prediksi yang mungkin dapat membangkitkan ide-ide Anda untuk menyambut 2005 dengan penuh optimisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobile Application. Dengan PDA, laptop, dan mobile devices lain, maka efisiensi dapat dilakukan dengan lebih mudah dan murah. Seorang client kami, seorang dokter yang sering mobile misalnya, dapat meng-update data historical record terbaru dari pasien-pasiennya dengan cukup melakukan sinkronisasi PDA-nya dengan server sebelum bepergian. Sehingga konsultasi dapat dilakukan di mana saja melalui telepon. Salesman dan sopir perusahaan consumer goods yang memiliki ribuan distribution points juga dapat memanfaatkan PDA untuk mencatat hasil distribusi barang di setiap titik setiap harinya. Di akhir hari, PDA tersebut tinggal di-sinkronisasi dengan server.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wireless. Wi-Fi, Wi-MAX, Voice over Wi-Fi. Ketiga teknologi ini akan turut meramaikan 2005. Dengan WiMAX yang mampu melayani koneksi data hingga radius 50 km, maka perusahaan dapat melakukan penghematan dari segi biaya komunikasi suara melalui Voice Over Wi-Fi terhadap semua stafnya. Kita tunggu apakah teknologi ini akan cukup feasible dan dapat menjangkau Indonesia di tahun 2005 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASP (Application Service Provider) &amp;amp; SME Software. Orang banyak beranggapan krisis ekonomi mendidik kita untuk lebih kreatif mencari solusi2 yang efisien. Demikian pula dengan tingginya biaya pengembangan software. Tingginya investasi TI akan membuat perusahaan berfikir keras untuk mencapai solusi murah tetapi efektif. ASP merupakan solusi yang cukup feasible apabila perusahaan ingin memiliki sistem informasi dengan biaya yang murah. Sebagai contoh, mulai banyak perusahaan yang menggunakan ASP untuk aplikasi payroll dan pajaknya. Isu yang menarik tentunya adalah tarik ulur pertimbangan terhadap kerahasiaan data perusahaan. Demikian pula dengan perangkat lunak untuk Small Medium Enterprise yang mulai menjamur. Solusi2 miniatur ERP untuk SME misalnya, mulai banyak dipakai oleh SME lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Peer-to-peer. Konsep Peer-to-peer barangkali adalah pelajaran terbaik yang kita dapatkan dari ditemukannya Internet. Disintermediasi atau membuang perantara tak hanya mampu memotong rantai pasok maupun rantai distribusi seperti pada Amazon sehingga pelanggan dan toko langsung dapat berhubungan. E-bay, KaZaa dan Skype tak hanya memposisikan TI sebagai enabler saja, tetapi justru telah menciptakan model bisnis baru. Konsep disintermediasi dengan adanya Peer-to-peer benar-benar harus diimbangi dengan perombakan dalam manajemen perusahaan yang birokratis dan sentralisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkatkan CRM dalam arti seluas-luasnya. Meningkatkan relasi yang baik dengan pelanggan tak harus dengan teknologi maupun investasi software CRM yang mahal-mahal. Jangan pernah menggantungkan kesuksesan CRM perusahaan terhadap kesuksesan software CRM semata. Tengok terlebih dahulu prinsip-prinsip dasar bagaimana me-maintain services terhadap customer Anda. Banyak sekali investasi CRM yang sia-sia akibat dari tidak adanya perubahan dari cara kerja maupun budaya perusahaan dalam melayani customernya. Benahi terlebih dahulu Performance Indicators ataupun Metrics dari perusahaan secara konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tingkat penetrasi akses Internet yang belum mencapai 10% jumlah penduduk Indonesia, serta kebiasaan mengakses dari warnet dan kantor yang mencapai 80% pengguna, maka janganlah pernah mengharapkan bahwa ”the last mile” untuk mengakses Internet adalah melalui PC. Sadarkah Anda sepenuhnya bahwa melalui ponsel – yang persentase kepemilikannya lebih dari 30% - kita justru telah mampu ”menyentuh” pelanggan kita dengan lebih personal? Apalagi dengan SMS yang pertumbuhannya sangat pesat berkembang di Indonesia, kita dapat berhubungan dengan pelanggan sangat cepat dan efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini pula saatnya untuk melakukan survei dan pembenahan, sejauh manakah keefektifan penggunaan e-mail, situs web, hotline services, CSR, dan semua contact points untuk mendengarkan keluhan dan saran pelanggan. Tak jarang masih banyak sekali kesia-siaan penggunaan e-mail untuk melayani pelanggan karena e-mail hanya benar-benar dianggap sebagai tools untuk menghantarkan informasi saja, tanpa diimbangi dengan kecepatan respon yang memadai. Di era Internet, ”bad news must travel fast, and to be responded fast” tidak dapat ditawar lagi. Namun banyak perusahaan yang memberi respon terhadap email lebih dari 1 hari. Padahal, ekspektasi pelanggan untuk mendapat jawaban lebih cepat dengan mengirim email tentu saja sangat tinggi. Dapat dilihat sekali lagi bahwa birokrasi panjang dalam perusahaan harus segera dipangkas karena tidak sesuai dengan konsep peer-to-peer yang melakukan disintermediasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Anda mengukur berapa lama waktu tunggu yang diperlukan customer untuk menyampaikan keluhannya melalui hotline services Anda? Berapa besar rasio CSR dibanding jumlah komplain? Pernahkah Anda menganalisanya secara berkala? Hampir semua GSM Provider dan banking, di Indonesia sangat lemah di bidang ini. Pelanggan setengah mati menyampaikan keluhan ataupun sekadar pertanyaan, mengantri lebih dari 10 menit bukanlah pelayanan yang dibilang bagus. Mengapa tidak berani memasang e-mail atau justru SMS-services untuk menjawab kebutuhan pelanggan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan situs web perusahaan Anda? Setiap berapa lama diupdate dengan informasi terbaru? Seberapa banyak customer mengetahui alamat URL-nya? Seberapa banyak email yang masuk untuk sekedar bertanya, memberi masukan atau malah ingin mendapatkan layanan? Apakah e-mailnya masih beralamat ke webmaster dan bukan staf CSR Anda? Tentu saja ini bukan ide yang bagus. Apakah pengunjung web selalu dicatat dan difollow-up?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa artikel saya di “Bisnis Maya Laba Nyata”, saya sangat percaya bahwa “Individualized/Personalized Marketing” dapat segera diterapkan di Indonesia melalui SMS. Namun sampai sekarang belum terlihat perusahaan yang memanfaatkan iklannya melalui SMS. Bekerjasama dengan GSM Provider untuk mengirim iklan melalui SMS secara permisif terhadap pelanggan ponsel dengan benefit pengurangan biaya abonemen ataupun diskon pembayaran mungkin layak dipertimbangkan sebagai alternatif biaya iklan Anda. Selain lebih cepat mencapai target customers, tentu saja SMS bisa lebih cepat menjangkau customers serta lebih personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda terprovokasi? Inilah saat yang tepat untuk mengimplementasikan itu semua. Kalau tidak sekarang, kapan lagi saudara?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-111000627371822635?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111000627371822635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/111000627371822635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2005/03/investasi-ti-2005.html' title='Investasi TI 2005'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-110327569495159062</id><published>2004-12-17T16:28:00.000+07:00</published><updated>2005-03-13T21:47:06.900+07:00</updated><title type='text'>SmartNavigator won in APICTA (Asia Pacific ICT Awards) in Hongkong, 7-11 Dec 2004</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Buatan Indonesia &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;(KOMPAS, 13 Desember 2004)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;APA yang terjadi kalau tiga mahasiswi berkumpul di Universitas Bina Nusantara yang selama ini dikenal sebagai sekolah pendidikan komputer terbaik di negeri ini? Membuat aplikasi yang disebut sebagai Smart Navigator: Solusi Terintegrasi untuk Pusat Perbelanjaan yang terdiri dari SmartParking System, SmartMall System, dan SmartShopping System.&lt;br /&gt;Dan hasil karya Ferawati, Gabriel Maymona, dan Yuliany Setiawan dengan bimbingan dosen mereka Hanny Santoso yang menjadi idea creator and business analyst berhasil meraih Merits Awards dalam kompetisi internasional Asia Pacific ICT Awards (APICTA) yang diselenggarakan di Hongkong awal bulan Desember ini.&lt;br /&gt;Merits Award yang diraih ketiga mahasiswi ini hanya terpaut 5 persen dari juara utama dalam kompetisi yang terbagi dalam 14 kategori. Aplikasi SmartNavigator yang dikendalikan melalui PDA Ipaq buatan Hewlett Packard ini bersaing tidak hanya pada kategori pelajar, tetapi juga bersaing dengan perusahaan komersial.&lt;br /&gt;SmartNavigator memanfaatkan fitur Bluetooth dan nirkabel yang ada pada berbagai seri Ipaq, serta kemampuan GPRS pada Ipaq 6365. Aplikasi ini merupakan sebuah sistem bagi pusat perbelanjaan yang juga bekerja pada ponsel.&lt;br /&gt;Gagasan mengembangkan SmartNavigator ini dimaksudkan sebagai sebuah solusi digital yang kesulitan untuk mencari tempat parkir, kesulitan mencari produk belanjaan tertentu yang diinginkan, serta menata kegiatan belanja.&lt;br /&gt;Adapun di sisi bisnis, aplikasi SmartNavigator ini juga akan membantu meningkatkan penjualan karena memiliki kesempatan untuk mempromosikan produknya, dan bagi para manajer pertokoan meningkatkan pendapatannya.&lt;br /&gt;Banyak aplikasi turunan yang terdapat dalam sistem SmartNavigator ini. Tujuannya memang mempermudah cara kita berbelanja, memperluas cara orang berjualan, serta menertibkan sistem perparkiran yang menyita waktu.&lt;br /&gt;Keberhasilan ketiga mahasiswi Universitas Bina Nusantara ini kita acungkan jempol. Setidaknya, teknologi di negara ini ada yang buatan Indonesia. (rlp)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0412/13/tekno/1433208.htm"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;http://www.kompas.com/kompas-cetak/0412/13/tekno/1433208.htm&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/teknologi/news/0412/07/182818.htm"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;http://www.kompas.com/teknologi/news/0412/07/182818.htm&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.swa.co.id/primer/manajemen/sdm/details.php?cid=1&amp;id=1604"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;http://www.swa.co.id/primer/manajemen/sdm/details.php?cid=1&amp;amp;id=1604&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.gatra.com/2004-12-06/artikel.php?id=50090"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;http://www.gatra.com/2004-12-06/artikel.php?id=50090&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-110327569495159062?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/110327569495159062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/110327569495159062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2004/12/smartnavigator-won-in-apicta-asia.html' title='SmartNavigator won in APICTA (Asia Pacific ICT Awards) in Hongkong, 7-11 Dec 2004'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-110327500037725721</id><published>2004-12-17T16:16:00.000+07:00</published><updated>2005-03-13T21:28:19.716+07:00</updated><title type='text'>Pentingnya Mengukur Value dari Investasi TI</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;(versi yang telah diedit dimuat di SWA no 24/November 2004)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Show me the money" -- Jerry Maguire&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa yakinkah Anda akan manfaat TI terhadap keunggulan bersaing&lt;br /&gt;(competitive advantage) bagi perusahaan? Pertanyaan ini dapat ditulis ulang&lt;br /&gt;dalam versi yang lebih tajam yaitu "Seberapa besar pengaruh investasi TI&lt;br /&gt;terhadap peningkatan value perusahaan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar masyarakat bisnis masih meyakini teori Manajemen Strategik&lt;br /&gt;populer dari Begawan Michael Porter sebagai salah satu teori yang masih&lt;br /&gt;relevan saat ini. Porter yakin bahwa untuk mampu memenangkan persaingan,&lt;br /&gt;suatu perusahaan harus memiliki minimal satu dari 3 strategi generik:&lt;br /&gt;Menjadi Cost-leader, Melakukan diferensiasi, dan Fokus mengincar&lt;br /&gt;Ceruk-pasar tertentu (niche).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum adanya TI, barangkali teori "pilih satu" ini masih dapat dianggap&lt;br /&gt;benar. Karena kenyataannya, kadang-kadang TI malah dapat membantu&lt;br /&gt;perusahaan melakukan ketiga-tiganya sekaligus. Dell.com dan Amazon.com&lt;br /&gt;misalnya, sembari memangkas proses bisnis menjadi sangat efisien, juga&lt;br /&gt;membuat biaya operasinya juga menjadi murah. Demikian pula diferensiasinya&lt;br /&gt;sangat menawan. Pelayanan belanja via Amazon sangatlah individualized,&lt;br /&gt;customer-oriented, sarat informasi berharga sebagai panduan membeli,&lt;br /&gt;lengkap informasinya, dan harganya lebih murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian perusahaan, TI merupakan diferensiasi penting, tapi perlu&lt;br /&gt;diingat pula bahwa diferensiasi amat terkait dengan keunikan. Dengan kata&lt;br /&gt;lain, apabila diferensiasi Anda dengan mudah ditiru pesaing Anda, maka&lt;br /&gt;hilanglah diferensiasi Anda tersebut karena menjadi tidak unik lagi. Contoh&lt;br /&gt;termudah adalah pemberian fasilitas e-mail yang tadinya menjadi killer-apps&lt;br /&gt;dan diferensiasi, tetapi karena mudah ditiru maka menjadi tidak unik lagi&lt;br /&gt;karena semua situs dotcom mulai menawarkan fasilitas e-mail gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 2003 lalu, artikel Nick J. Carr yang berjudul âIT Doesnât Matterâ di&lt;br /&gt;Harvard Business Review sempat menimbulkan polemik berkepanjangan. Tak&lt;br /&gt;urung banyak praktisi maupun pengamat TI seperti John Hagel, Paul&lt;br /&gt;Strassman, Warren McFarlan turut berdebat. Lewat tulisan ini, Nick berujar&lt;br /&gt;bahwa sebenarnya saat ini TI bukan lagi suatu diferensiasi yang memberi&lt;br /&gt;keunggulan kompetitif bagi perusahaan. Ia melihat TI telah menjadi&lt;br /&gt;komoditas dan bukan merupakan diferensiasi lagi. TI tak ubahnya adalah&lt;br /&gt;seperti perangkat infrastruktur lain seperti listrik ataupun rel kereta&lt;br /&gt;api. Lebih lanjut Nick juga menyarankan agar perusahaan lebih baik menjadi&lt;br /&gt;follower dan menghindari inovasi dengan memaksakan diri menjadi leader&lt;br /&gt;berinvestasi dengan TI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolom kali ini tidak untuk membahas polemik artikel Carr ini dengan lebih&lt;br /&gt;detil, melainkan memposisikan artikel Carr ini sebagai provokasi yang&lt;br /&gt;relevan terhadap pentingnya melakukan alignment antara investasi TI dengan&lt;br /&gt;value yang dihasilkannya. Belakangan ini, investasi TI kian dirasakan makin&lt;br /&gt;tinggi biayanya untuk aplikasi2 yang canggih, misalnya SCM, ERP, Business&lt;br /&gt;Intelligence, CRM, dst. Bagi sebagian perusahaan implementor, hasil yang&lt;br /&gt;diperoleh tak kunjung memuaskan. Dalam berbagai survei, angka 70% malah&lt;br /&gt;diterima sebagai kompromi atas kegagalan yang telah diterima bersama dalam&lt;br /&gt;berbagai proyek TI. Standish Group menyatakan hanya 10% perusahaan yang&lt;br /&gt;berhasil menerapkan ERP, 35% proyek dibatalkan dan 55% mengalami&lt;br /&gt;keterlambatan. Meta Group menyatakan 55% - 75% proyek CRM gagal. CRM Forum&lt;br /&gt;menyatakan lebih dari 50% proyek CRM di US serta lebih dari 85% di Eropa&lt;br /&gt;dianggap gagal. Walaupun demikian, survei dari Morgan Stanley terhadap 225&lt;br /&gt;CIO di tahun 2002 menunjukkan bahwa 80% dari mereka tetap merencanakan&lt;br /&gt;proyek TI baru dan banyak yang memprioritaskan CRM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga aplikasi2 tersebut cukup tinggi karena bukan merupakan aplikasi&lt;br /&gt;komputer biasa, melainkan telah melibatkan dan menyelaraskan proses bisnis&lt;br /&gt;kompleks dari fungsi-fungsi bisnis holistik dalam perusahaan. Di sini peran&lt;br /&gt;TI bukan hanya untuk support dan otomatisasi saja, tetapi telah menjadi&lt;br /&gt;Business Enabler. Vendor dan konsultan aplikasi TI sendiri, terkadang dalam&lt;br /&gt;menjual aplikasinya seolah-olah merupakan solusi sempurna untuk semua&lt;br /&gt;masalah perusahaan. Padahal, kesuksesan aplikasi bersifat enabler justru&lt;br /&gt;sangatlah bergantung pula terhadap willingness dan peran serta perusahaan&lt;br /&gt;tersebut untuk berubah. Tak jarang aplikasi mahal tidak dapat digunakan&lt;br /&gt;karena pengguna tidak siap berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, secara perhitungan finansial, dengan semakin tingginya&lt;br /&gt;investasi TI maka dengan sendirinya TI harus mampu menciptakan value yang&lt;br /&gt;tinggi setelah diimplementasi dalam waktu yang singkat, sesuai dengan&lt;br /&gt;prinsip ROI. Bila kini mulai banyak diperbincangkan hubungan antara&lt;br /&gt;besarnya investasi TI dengan value yang dihasilkannya, tentunya hal ini&lt;br /&gt;sangatlah masuk akal. Tekanan ekonomi global serta finansial perusahaan&lt;br /&gt;menyebabkan biaya belanja TI haruslah terkontrol secara efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode finansial generik/tradisional semacam Cashflow, NPV, ROI, ROA dapat&lt;br /&gt;memberikan gambaran manfaat terhadap nilai investasi fisik TI-nya.&lt;br /&gt;Pertanyaannya sekarang adalah: Bagaimana menghitung nilai (value) dari&lt;br /&gt;Informasi yang yang dihasilkan dari investasi TI itu sendiri? Sebagaimana&lt;br /&gt;yang kita ketahui, Informasi merupakan hal abstrak dan sulit diukur. Oleh&lt;br /&gt;karena itulah untuk mengukur manfaat investasi TI dibutuhkan metode yang&lt;br /&gt;lebih spesifik, seperti Information Economics, TCO (Total Cost of&lt;br /&gt;Ownership), TVO (Total Value of Ownership), IVA (Information Value Added),&lt;br /&gt;IP (Information Productivity), dsb. TCO lebih fokus menghitung investasi TI&lt;br /&gt;dari segi cost, sebaliknya TVO lebih banyak mengukur manfaat atau value&lt;br /&gt;yang didapat oleh customer. Kalau TCO dapat dikatakan sasarannya adalah&lt;br /&gt;ROI, sedangkan TVO lebih ke arah ROCS (Return of Customer Satisfaction),&lt;br /&gt;yaitu seberapa besar hasil dari implementasi TI dipandang sangat bermanfaat&lt;br /&gt;oleh para customers, sehingga pada saatnya nanti, secara tidak langsung&lt;br /&gt;bila seorang customers puas misalnya, maka ia akan memberikan testimoni&lt;br /&gt;positif ataupun membantu company kita dengan word-of-mouth ke calon&lt;br /&gt;customer lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam semangat Corporate Governance yang kian menghangat belakangan ini,&lt;br /&gt;tidaklah berlebihan apabila IT Governance juga turut mengemuka sebagai&lt;br /&gt;bagian resiko yang yang harus di-manage dan diperhitungkan dengan baik.&lt;br /&gt;Overspending terhadap TI hanya karena "Me too strategy" tanpa metriks&lt;br /&gt;terhadap kinerja (Performance metrics) yang jelas dan terencana merupakan&lt;br /&gt;kecerobohan, terlebih lagi bila value yang dihasilkan tidak diperhitungkan&lt;br /&gt;dengan baik. Bukankah prinsip kehati2an (prudent) merupakan tindakan yang&lt;br /&gt;amat bijak?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-110327500037725721?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/110327500037725721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/110327500037725721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2004/12/pentingnya-mengukur-value-dari.html' title='Pentingnya Mengukur Value dari Investasi TI'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-109688471634025717</id><published>2004-10-04T17:06:00.000+07:00</published><updated>2004-10-04T17:11:56.340+07:00</updated><title type='text'>Jalansutra Goes To Bandung</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Berikut ini adalah catatan persiapan, sneakpreview dan perjalanan saat rombongan Jalansutra pergi ke Bandung. Semua posting di bawah ini diambil dari milis Jalansutra.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;-----------&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Date: Mon, 27 Sep 2004 13:35:33 +0700&lt;br /&gt;  From: "Abul A'la ALMAUJUDY" &lt;almaujudy@indo.net.id&gt;&lt;br /&gt;Subject: [MEMO ADMIN]JALANSUTRA GOES TO BANDUNG, EUY!&lt;br /&gt;JALANSUTRA GOES TO BANDUNG, EUY!&lt;br /&gt;2 - 3 Oktober 2004&lt;br /&gt;Coba baca deretan menu berikut dalam satu tarikan nafas! Yak..&lt;br /&gt;Mulai!!&lt;br /&gt;Pisang molen Kartika Sari, Kaasbrood van Het Snoephuis, Brownies-nya&lt;br /&gt;Prima Rasa, Bolu Gulung toko Sweetheart, Kopi Aroma, Warung Mak Uneh,&lt;br /&gt;Batagor, Baso Tahu, Es Krim Rasa, Martabak manis, Nasi pepes, Bubur&lt;br /&gt;ayam Mang Oyo, Nasi Liwet, Nasi Kuning Bu Omoh, Kupat Tahu Gempol,&lt;br /&gt;Colenak, Ketan Bakar...&lt;br /&gt;Sanggup? Bagaimana jika anda ditantang untuk menikmati semuanya,&lt;br /&gt;dalam Jalansutra Goes to Bandung?&lt;br /&gt;Inilah jawaban atas penantian panjang kita untuk menikmati Bandung&lt;br /&gt;ala Jalansutra. Mata, hati, lidah dan perut anda akan dimanjakan&lt;br /&gt;dengan acara yang padat berisi. Coba liat susunan acaranya. Padet&lt;br /&gt;pisan euy!&lt;br /&gt;Hari 1 (Sabtu, 2 Oktober 2004)&lt;br /&gt;06:35 Berangkat dari Jakarta dengan menggunakan kereta api Argogede&lt;br /&gt;09:30 Sampe Bandung yeuh!&lt;br /&gt;Sarapan:&lt;br /&gt;* Pisang Molen Kartika Sari&lt;br /&gt;* Kaasbrood van Het Snoephuis&lt;br /&gt;* Brownies Prima Rasa&lt;br /&gt;* Bolu gulung toko kue Bawean (d/h Sweetheart)&lt;br /&gt;10:15 Berkunjung ke Paberik Kopi Aroma di Banceuy&lt;br /&gt;* Sampling kopi, 5 jenis untuk dibawa pulang&lt;br /&gt;12:30 Makan siang di kantin masakan sunda Mak Uneh Setiabudhi&lt;br /&gt;14:00 Check in ke Hotel Bumi Asih&lt;br /&gt;* Apakah bunga flamboyan sudah mulai mekar? Hmmm...&lt;br /&gt;15:00 Nasi pepes dan Perang Batagor&lt;br /&gt;* Komparasi Head to Head antara Batagor Riri, Kingsley (Bungsu) dan Abuy&lt;br /&gt;(Lengkong)&lt;br /&gt;* Sampling nasi pepes&lt;br /&gt;* Disegarkan dengan Es Krim dari PT Rasa&lt;br /&gt;18:00 Bandung Nite Vision&lt;br /&gt;* Baso Tahu Tulen Sin Sien Hin&lt;br /&gt;* Explorasi kawasan Cibadak (makanan di china town Bandung)&lt;br /&gt;20:00 Martabak manis Nikmat - Juara Nasional Kompetisi Martabak Blue&lt;br /&gt;Band&lt;br /&gt;* Martabak tipis-keju dan jagung-keju sepesial&lt;br /&gt;21:00 Pulang ke Hotel&lt;br /&gt;Hari 2 (Minggu, 3 Oktober 2004)&lt;br /&gt;07:00 Sarapan ala Bandung (dibawain ke hotel deh!)&lt;br /&gt;* Bubur ayam Mang Oyo&lt;br /&gt;* Kupat Tahu Gempol&lt;br /&gt;08:30 Roemah Strawberry&lt;br /&gt;* Sampler Nasi Kuning Bu Omoh ti Pasar Cihapit&lt;br /&gt;* Jus Stroberi tentunya&lt;br /&gt;* Brunch (bahasa sundanya "mumuluk") Nasi Liwet kumplit&lt;br /&gt;* Niis alias ngadem!&lt;br /&gt;11:00 Kukurilingan di Lembang&lt;br /&gt;* Silakan eksplorasi Pasar Lembang dan sekitarnya. Banyak tukang jualan&lt;br /&gt;makanan yang enak-enak.. dibekelin peta ajah yah?&lt;br /&gt;14:30 Jalan-jalan di Bandung (waktu bebas)&lt;br /&gt;* Mau ke FO?&lt;br /&gt;* Mau ke cafe?&lt;br /&gt;* Punya tempat jajan "rahasia" di Bandung yang ingin dibagi?&lt;br /&gt;* Mau beli oleh-oleh?&lt;br /&gt;17:00 Berangkat ke Stasiun kereta&lt;br /&gt;18:05 Berangkat ke Jakarta dengan kereta Argogede&lt;br /&gt;Dengan ongkos cuma 650 ribu rupiah saja, anda bisa menikmati seluruh&lt;br /&gt;makanan dan minuman yang tercantum dalam daftar acara (heu-euh..&lt;br /&gt;seluruhnya! Edan euy!), termasuk tiket Argo Gede dan hotel Bumi Asih&lt;br /&gt;yang nyaman.&lt;br /&gt;Belum lagi tambahan dongeng dari JS-er asal Bandung (Adi Si Tukang&lt;br /&gt;Masak, Harry The Alchemist, Irvan Karta, Tante Sofia Mansoor dll)&lt;br /&gt;berisi kisah-kisah seru seputar kota tercintanya dan cerita-cerita&lt;br /&gt;soal makanan yang tak akan anda dapatkan kalau anda ngeluyur&lt;br /&gt;sendirian. Lagipula, ngelayap sendirian mah ga asik atuh..&lt;br /&gt;Pokoknya mah rugi pisaaan kalo ga ikut, karena Jalansutra Goes to&lt;br /&gt;Bandung ini disusun dengan falsafah ASI (Air Susu Ibu) yaitu: "Banyak&lt;br /&gt;manfaatnya.. menarik kemasannya!"&lt;br /&gt;Tempat sangaaaat terbatas. Dibatesin maksimum 36 orang sajah!! Jadi&lt;br /&gt;sok atuh buruan daftar lewat Wasis Gunarto (japri euy!) di&lt;br /&gt;wasisgunarto@yahoo.com, ato di jalansutra-owner@yahoogroups.com&lt;br /&gt;Ditunggu yah..&lt;br /&gt;Jalansutra Goes to Bandung, euy!&lt;br /&gt;*Teks By Irvan Karta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Date: Mon, 27 Sep 2004 05:33:33 -0000&lt;br /&gt;  From: "harry_nazarudin" &lt;harry_nazarudin@yahoo.com&gt;&lt;br /&gt;Subject: [SneakPreview] Toko Roti Bawean (d.h. Sweetheart) Bandung&lt;br /&gt;Toko Roti Bawean (d.h. Sweetheart)&lt;br /&gt;       Bandung kan banyak bakery enak, terus kalo orang Bandung&lt;br /&gt;biasa beli kue dimana? Salah satu jawabannya adalah di Toko Roti&lt;br /&gt;Bawean, yang dulu bernama Sweet Heart. Toko roti yang kini dikelola&lt;br /&gt;oleh keluarga Herdy ini merupakan salah satu bakery `senior' di&lt;br /&gt;Bandung yang memang sejak dulu terkenal dengan kualitasnya yang&lt;br /&gt;prima. Bawean memiliki dua outlet, yakni di Jl. Bawean dan di Jl.&lt;br /&gt;LREE Martadinata. Nama aslinya Sweet Heart, sesuai dengan simbol&lt;br /&gt;berupa hati. Ketika nama asing dilarang pada awal dekade '90-an&lt;br /&gt;(BYKS), pemiliknya memutuskan untuk mengganti namanya menjadi&lt;br /&gt;Bawean, sesuai dengan nama jalan tempat pusat bakery ini berada.&lt;br /&gt;Bahan-bahan yang digunakan adalah bahan kelas satu yang selalu&lt;br /&gt;terasa fresh dan tahan lama.&lt;br /&gt;       Kalau di keluarga saya ada yang berulang tahun, atau untuk&lt;br /&gt;merayakan hari besar seperti Imlek dan Natal, kami selalu membeli&lt;br /&gt;satu loyang lapis legit dari Sweet Heart. Lapis legitnya menurut&lt;br /&gt;saya the best in the world, mungkin karena disantap dalam suasana&lt;br /&gt;gembira. Lapis legitnya tidak terlalu `makteuh' tetapi cukup&lt;br /&gt;berminyak dengan tekstur lembut dan padat, sehingga&lt;br /&gt;rasanya `mantap' – cukup sepotong saja rasanya sudah mengenyangkan.&lt;br /&gt;Selain itu, favorit kami adalah lapis malang (kue tiga lapis –&lt;br /&gt;kuning,coklat,kuning, dengan selai strawberry diantaranya). Wangi&lt;br /&gt;menteganya begitu harum, sangat memanjakan lidah saat kue ini&lt;br /&gt;diletakkan di mulut. Teksturnya juga lembut dan rasa selai&lt;br /&gt;strawberry-nya tidak terlalu asam seperti kebanyakan lapis malang&lt;br /&gt;berkualitas rendah. Salah satu trade mark Bawean adalah penggunaan&lt;br /&gt;rum dalam jumlah banyak untuk kue taart-nya. Itulah sebabnya ada&lt;br /&gt;beberapa orang yang kurang suka dengan taart Bawean, tetapi buat&lt;br /&gt;saya rum ini menciptakan citarasa tersendiri. Walaupun&lt;br /&gt;kontroversial, tapi Bawean sampai sekarang tetap&lt;br /&gt;mempertahankan `tradisi' rum ini.&lt;br /&gt;       Selain kue-kue ukuran besar, Bawean juga membuat kue kecil&lt;br /&gt;untuk snack. Salah satunya adalah bolu gulung, yang bakal&lt;br /&gt;dihidangkan sebagai salah satu welcome snack Jalansutra Goes to&lt;br /&gt;Bandung. Bolu gulung sebenarnya merupakan `versi mini' dari kue&lt;br /&gt;lapis malang, hanya untuk bolu gulung ada yang rasa mocca (dengan&lt;br /&gt;warna coklat). Selain itu ada cheese stick mini yang ditaburi gula,&lt;br /&gt;kue buah (fruit cake), dan wafer coklat. Wafer ini buatan sendiri,&lt;br /&gt;disiram dengan coklat yang rasanya smooth dan enak. Karena keluarga&lt;br /&gt;kami kenal cukup dekat dengan keluarga Herdy, kami sering diberi&lt;br /&gt;coklat wafer ini secara gratis jika kami membeli lapis legit. Jadi&lt;br /&gt;sudah manis, renyah, enak, gratis lagi, kurang apa lagi? Penasaran?&lt;br /&gt;Ayo ikut Jalansutra Goes to Bandung!&lt;br /&gt;Toko Roti Bawean&lt;br /&gt;Jl. Bawean no.4&lt;br /&gt;Bandung&lt;br /&gt;Cheers,&lt;br /&gt;-HarryHN-&lt;br /&gt;Date: Tue, 28 Sep 2004 03:11:59 -0000&lt;br /&gt;  From: "harry_nazarudin" &lt;harry_nazarudin@yahoo.com&gt;&lt;br /&gt;Subject: [SneakPreview] Kartika Sari Bandung&lt;br /&gt;Kartika Sari – Bandung's Success Story&lt;br /&gt;       Setiap orang Jakarta pasti tahu Kartika Sari. Nama ini sudah&lt;br /&gt;menjadi fenomena tersendiri, karena begitu terkenal di kalangan&lt;br /&gt;masyarakat. Kunjungan ke Bandung belum lengkap rasanya tanpa mampir&lt;br /&gt;ke Kartika Sari, untuk sekedar membeli pisang mollen atau cheese&lt;br /&gt;stick sebagai oleh-oleh. Saking populernya tempat ini, sampai-sampai&lt;br /&gt;menimbulkan masalah kemacetan di Jl. Kebon Kawung (yang membuat saya&lt;br /&gt;harus cari jalan alternatif untuk pulang ke rumah!). Bahkan kini&lt;br /&gt;banyak penjual makanan tradisional yang ikut terkenal&lt;br /&gt;karena `nebeng' nama Kartika Sari (KS) – misalnya peuyeum Bandung di&lt;br /&gt;depan KS Kebon Kawung dan sale pisang mini yang dititipkan di KS Jl.&lt;br /&gt;Kebon Jukut. Luar biasa!&lt;br /&gt;       Mungkin banyak orang tidak mengetahui bahwa KS dimulai dari&lt;br /&gt;sebuah humble beginning. Keluarga saya mengenal keluarga pemilik KS&lt;br /&gt;karena salah satu anaknya, Henry, adalah teman seangkatan saya di&lt;br /&gt;SMA St. Aloysius. KS dimulai dari sebuah bakery rumahan kecil yang&lt;br /&gt;terletak di Gg. Haji Akbar, yang sekarang menjadi outlet KS Jl.&lt;br /&gt;Kebon Kawung, dekat stasiun kereta api. Bakery ini dimulai dengan&lt;br /&gt;segala keterbatasan, sampai-sampai sang suami harus mengantarkan&lt;br /&gt;sendiri pesanan pisang mollen dan cheese stick dengan skuter ke toko-&lt;br /&gt;toko dan pelanggan lain. Mereka betul-betul memulai usaha dari nol,&lt;br /&gt;mengalami jatuh bangun dan berbagai macam kesulitan. Namun, dengan&lt;br /&gt;kerja keras dan ketekunan, nama KS terus menanjak hingga kini mampu&lt;br /&gt;memiliki outlet di Jl. Dago yang prestisius dengan harga milyaran&lt;br /&gt;rupiah!&lt;br /&gt;       Apa sih istimewanya pisang mollen ini? Pisang mollen memang&lt;br /&gt;sudah lama ada di Bandung, biasanya ditemukan di gerobak penjual&lt;br /&gt;gorengan. Terbuat dari pisang yang dibungkus dengan lilitan kulit&lt;br /&gt;adonan tepung (Blaetter Teig dalam bahasa Jerman). Biasanya karena&lt;br /&gt;digoreng begitu saja, rasanya manis dan agak keras, manisnya&lt;br /&gt;bergantung pada kualitas pisang yang digunakan. KS kemudian&lt;br /&gt;melakukan [R]evolusi pisang mollen dengan membungkus pisang dengan&lt;br /&gt;kulit tipis tanpa dililit, menyelipkan sebatang keju pada pisang,&lt;br /&gt;dan memilih pisang kualitas tertentu sehingga selalu empuk dan&lt;br /&gt;manis. Kuenya juga dipanggang dalam oven sehingga rasanya sangat&lt;br /&gt;unik, campuran antara manisnya pisang, rasa asin dari keju,&lt;br /&gt;dilengkapi dengan juice dari pisang dan minyak sehingga pisang&lt;br /&gt;mollen menjadi empuk dan nikmat.&lt;br /&gt;       Menurut saya, sukses KS bukan hanya sekedar resep saja. KS&lt;br /&gt;juga mampu menangkap peluang dan meningkatkan kemampuannya dalam&lt;br /&gt;melayani pelanggan dengan cepat. Oven baru dan peralatan canggih&lt;br /&gt;segera dibeli sehingga pelanggan tidak perlu menunggu terlalu lama&lt;br /&gt;(tidak seperti `Roti Unyil' Bogor). Kualitas pun dijaga dengan baik&lt;br /&gt;walaupun kini kapasitas mereka meningkat puluhan kali lipat&lt;br /&gt;dibanding pada waktu mereka mulai dulu. Langkah inilah yang jarang&lt;br /&gt;dilakukan oleh penjaja makanan tradisional, dengan dalih `nasib saya&lt;br /&gt;memang sudah segini'. Padahal, kalau setiap penjaja makanan&lt;br /&gt;tradisional berani melakukan modernisasi dan memperbesar kapasitas&lt;br /&gt;mereka, tidak tertutup kemungkinan makanan tradisional kita akan&lt;br /&gt;mengalahkan franchise asing. Buktinya adalah KS – Bandung's success&lt;br /&gt;story, karena ketika pertama kali mencicipi kue KS waktu saya SMP&lt;br /&gt;dulu, tidak pernah terbayang oleh siapapun kalau KS akan jadi&lt;br /&gt;sebesar sekarang. Jadi, tunggu apa lagi? Ayo kita cicipi sekali lagi&lt;br /&gt;pisang mollen Kartika Sari di JalanSutra Goes to Bandung!&lt;br /&gt;Kartika Sari&lt;br /&gt;Outlet 1        :Gg. Haji Akbar, Jl. Kebon Kawung&lt;br /&gt;Outlet 2        :Ruko Jl. Kebon Jukut&lt;br /&gt;Outlet 3        :Jl. Dago, dekat pom bensin Dago&lt;br /&gt;Cheers,&lt;br /&gt;-HarryHN-&lt;br /&gt;Date: Fri, 01 Oct 2004 04:36:18 -0000&lt;br /&gt;  From: "harry_nazarudin" &lt;harry_nazarudin@yahoo.com&gt;&lt;br /&gt;Subject: [Sneak Preview] Sarapan di Bandung : Kupat Tahu Gempol &amp; Bubur Ayam Mang Oyo&lt;br /&gt;Sarapan di Bandung&lt;br /&gt;Kupat Tahu Gempol &amp;amp; Bubur Ayam Mang Oyo&lt;br /&gt;Pagi hari di kota Bandung. Hawa dingin, suara hujan rintik-rintik&lt;br /&gt;menambah keinginan untuk menarik selimut dan tidur lagi. Tetapi&lt;br /&gt;ketika jendela dibuka, angin sepoi-sepoi yang lembab dan dingin&lt;br /&gt;masuk ke kamar. Sambil menghirup udara segar tiba-tiba... perut&lt;br /&gt;terasa lapar! Sarapan apa yah di Bandung? Jalansutra Goes to Bandung&lt;br /&gt;menghadirkan dua menu utama sebagai sarapan pagi: kupat tahu Gempol&lt;br /&gt;dan bubur ayam Mang Oyo.&lt;br /&gt;Kupat tahu adalah jajanan khas Bandung yang sudah saya kenal sejak&lt;br /&gt;kecil. Ketupat, tahu, tauge, diberi bumbu kacang yang manis dan&lt;br /&gt;teksturnya padat, lalu dibubuhi kerupuk merah. Kupat tahu yang&lt;br /&gt;terkenal adalah kupat tahu Gempol. Dulu waktu masih kecil dan lucu,&lt;br /&gt;saya ingat selalu ikut ibu saya pagi-pagi atau pulang gereja untuk&lt;br /&gt;beli kupat tahu di Gempol. Sampai sekarang, walaupun sudah besar dan&lt;br /&gt;tidak lucu lagi, saya kadang2 juga mengantar ibu saya untuk beli&lt;br /&gt;kupat tahu disana. Gempol adalah nama jalan di daerah dekat Jl.&lt;br /&gt;Bahureksa &amp; Trunojoyo. Kata teman yangsa yang keluarganya sudah lama&lt;br /&gt;tinggal disana, tadinya Gempol adalah jalan melingkar dengan sebuah&lt;br /&gt;taman di tengahnya. Kemudian taman ini mulai dihuni dan banyak orang&lt;br /&gt;berjualan, hingga menjadi Pasar Gempol sekarang.&lt;br /&gt;Nah, di depan pasar ini, ada seorang ibu-ibu yang berjualan kupat&lt;br /&gt;tahu, persis di ujung jalan jika Anda masuk dari Jl. Wira Angun-&lt;br /&gt;Angun (BYKS). Si ibu hanya berjualan dengan lapak tetapi larisnya&lt;br /&gt;bukan main. Alasannya adalah karena kualitas bahannya yang sangat&lt;br /&gt;baik: tahu dan ketupat pilihan yang besar2. Bumbu kacangnya pun&lt;br /&gt;bertekstur lembut dan manis, tetapi tidak terlalu berminyak.&lt;br /&gt;Sebenarnya yang paling saya sukai adalah kerupuk acinya yang&lt;br /&gt;warnanya merah, dan jika tercampur dengan bumbunya menjadi empuk.&lt;br /&gt;Dimakan hangat-hangat waktu pagi, sangat nikmat dan mengenyangkan!&lt;br /&gt;Bubur Ayam Mang Oyo, yang direkomendasikan oleh Adi dan Irvan,&lt;br /&gt;merupakan alternatif yang disediakan panitia. Sayang saya sendiri&lt;br /&gt;belum pernah mencoba, tapi saya yakin pasti juga memiliki citarasa&lt;br /&gt;tersendiri. Asal tahu saja, bubur ayam a la Bandung lain dengan&lt;br /&gt;bubur ayam a la Mangga Besar. Buburnya biasanya agak encer dengan&lt;br /&gt;bulir yang masih terasa, plus tambahan berupa cakue, jeroan ayam,&lt;br /&gt;dan kadang2 dicampur dengan telur. Penasaran? Ayo kita coba di&lt;br /&gt;Jalansutra Goes to Bandung!&lt;br /&gt;Cheers,&lt;br /&gt;-HarryHN-&lt;br /&gt;Date: Wed, 29 Sep 2004 06:53:58 -0000&lt;br /&gt;  From: "harry_nazarudin" &lt;harry_nazarudin@yahoo.com&gt;&lt;br /&gt;Subject: [SneakPreview]Resto Sunda Ma' Uneh : The Real Sundanese Food&lt;br /&gt;Resto Sunda Ma' Uneh&lt;br /&gt;The Real Sundanese Food&lt;br /&gt;       Apa yang Anda ingat ketika menyebut masakan Sunda? Ayam&lt;br /&gt;goreng, lalapan, karedok, tahu dan tempe goreng. Kalau cuma segitu,&lt;br /&gt;betapa miskinnya kuliner Sunda, karena hampir semua makanan yang&lt;br /&gt;disebut tadi nyaris tidak berbumbu atau bahkan tidak dimasak sama&lt;br /&gt;sekali. Masak sih cuma segitu yang disebut makanan Sunda? Itulah&lt;br /&gt;sebabnya mengapa saya agak enggan makan di resto Sunda di Jakarta,&lt;br /&gt;yang secara salah kaprah disebut `kuring'. Kuring sebenarnya&lt;br /&gt;artinya `saya', sehingga banyak resto Sunda mengadopsinya, misalnya&lt;br /&gt;menjadi `Rasa Kuring', yang maksudnya `My Taste'. Akhirnya menurut&lt;br /&gt;saya banyak restoran `kuring' yang hanya berkonsep `kuring oge'&lt;br /&gt;atau `mee too'.&lt;br /&gt;       Sebenarnya, kuliner Sunda kaya akan berbagai macam teknik&lt;br /&gt;dan citarasa yang khas. Citarasa inilah yang dicoba dihadirkan oleh&lt;br /&gt;resto Sunda `asli' di Bandung seperti resto Ma' Uneh. Resto ini&lt;br /&gt;terletak di Jl. Pajajaran, di belakang sebuah rumah sakit bersalin&lt;br /&gt;baru yang dulunya bengkel Mercedes. Walaupun harus masuk gang dulu,&lt;br /&gt;resto mungil ini selalu padat pengunjung, sampai-sampai pernah&lt;br /&gt;digosipkan menggunakan `karyawan gaib'! Tenang saja, Jalansutra&lt;br /&gt;dibawa kesana bukan untuk uji nyali, melainkan untuk mencicipi&lt;br /&gt;kuliner Sunda yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;       Lalu seperti apa kuliner Sunda yang sesungguhnya? Beberapa&lt;br /&gt;contoh masakan yang dihidangkan di Mak Uneh misalnya adalah&lt;br /&gt;kalilipa, haremis, atau semur jengkol. Kalilipa adalah jeroan sapi&lt;br /&gt;yang dibuat seperti gepuk, dengan rasa khas karena seratnya lain&lt;br /&gt;dengan gepuk daging, dimakan dengan serundeng sehingga rasanya manis-&lt;br /&gt;gurih. Haremis adalah sejenis kerang, memang mahal harganya tetapi&lt;br /&gt;rasanya unik. Haremis yang betuknya bulat kecil hanya digoreng lalu&lt;br /&gt;dimakan dengan nasi. Tentu saja last but not least adalah semur&lt;br /&gt;jengkol – yang membuat orang rela membayar `harga' baunya untuk&lt;br /&gt;mendapatkan kenikmatan citarasanya yang khas! Rasa jengkol, menurut&lt;br /&gt;saya, setara dengan foie gras, truffel, atau makanan fancy lainnya :&lt;br /&gt;saking uniknya sampai sulit dideskripsikan. Ada juga berbagai macam&lt;br /&gt;pepes, yaitu seni memasak dengan membungkus daun pisang dan&lt;br /&gt;memanggang diatas api. Tapi gaya pepes Bandung lain dengan gaya&lt;br /&gt;pepes Walahar di Karawang. Kalau Walahar menonjolkan bumbu yang&lt;br /&gt;tajam dan rasa cenderung asin, pepes Mak Uneh tidak terlalu tajam&lt;br /&gt;rasanya, melainkan lebih cenderung manis. Pepes jamur Mak Uneh&lt;br /&gt;termasuk makanan kesukaan saya, apalagi disantap dengan kalilipa dan&lt;br /&gt;nasi. Kemudian ada juga nasi timbel, nasi yang ditanak dengan&lt;br /&gt;dibungkus daun pisang.&lt;br /&gt;       Varian nasi timbel adalah nasi liwet, yang diwakili oleh&lt;br /&gt;nasi liwet `Orgasmic' Rumah Strawberry yang pernah kita bahas di&lt;br /&gt;forum ini. Nasi liwet ini juga merupakan kuliner Sunda yang asli.&lt;br /&gt;Nasi diliwet (atau dimasak tanpa uap tetapi langsung diatas api) di&lt;br /&gt;dalam panci dengan bumbu-bumbu herbal seperti sereh dan belimbing&lt;br /&gt;wuluh. Aroma bumbu akan diserap oleh nasi dan air secara efektif&lt;br /&gt;karena pemanasan yang perlahan-lahan. Hasilnya adalah paduan nasi&lt;br /&gt;yang bertekstur lembut cenderung lengket dan aroma herbal yang&lt;br /&gt;nikmat. Nasi liwet kemudian disantap bersama the usual gang: ayam&lt;br /&gt;goreng, lalapan, tahu dan tempe goreng. Walaupun lauknya biasa,&lt;br /&gt;tetapi karena aroma liwetnya yang luar biasa, citarasa akhir yang&lt;br /&gt;diberikan sungguh-sungguh unik.&lt;br /&gt;       Jadi, jangan lagi menyebut ayam goreng dan lalapan untuk&lt;br /&gt;mewakili kuliner Sunda, karena status mereka hanyalah `kondimen'&lt;br /&gt;untuk `main course' yang lebih elegan, seperti yang terdapat di&lt;br /&gt;resto Sunda Ma' Uneh. Penasaran? Ayo ikut Jalansutra Bandung. We'll&lt;br /&gt;show you the REAL kuring!&lt;br /&gt;Resto Sunda Ma' Uneh&lt;br /&gt;Outlet 1        : Jl. Pajajaran&lt;br /&gt;Outlet 2        : Jl. Setiabudi&lt;br /&gt;Bandung&lt;br /&gt;Cheers,&lt;br /&gt;-HarryHN-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Date: Mon, 04 Oct 2004 02:29:40 -0000&lt;br /&gt;  From: "irvankarta" &lt;irvankarta@hotmail.com&gt;&lt;br /&gt;Subject: JS Goes to Bandung: Babak 1 - Tour de Braga&lt;br /&gt;Hai..hai..&lt;br /&gt;Takut keburu lupa, basi or both :) Berikut laporan pandangan mata&lt;br /&gt;dan kecapan lidah dari JS Goes to Bandung (JSGTBDG). Babak pertama,&lt;br /&gt;Tour de Braga.. Insya Allah, babak kedua dan saterusnya menyusul.&lt;br /&gt;Rada panjang, jangan bosen aja..&lt;br /&gt;========&lt;br /&gt;Tour de Braga&lt;br /&gt;Kereta Argogede tepat akan berangkat dari Stasiun Gambir ketika&lt;br /&gt;HarNaz (Harry Nazarudin - Ketupat JSGTBDG) menerima "panggilan&lt;br /&gt;rindu" dari Wasis ('panggilan rindu' adalah bahasa Indonesia&lt;br /&gt;dari "Missed Call" :). Ketika ditelpon balik, diperoleh&lt;br /&gt;laporan "Grace berhasil ditemukan, kami sekarang sudah di atas&lt;br /&gt;kereta". Alhamdulillah.. Sebelumnya, kami mendapat laporan kalau&lt;br /&gt;Grace terjebak macet di pasar (Ciputat apa Cipete sih?) dan&lt;br /&gt;tampaknya mustahil bisa tiba di Gambir on-time. Rupanya supir taksi&lt;br /&gt;yang ditumpangi adalah Michael Schumacher, maka Grace berhasil&lt;br /&gt;selamat, tiba tepat pada waktunya .&lt;br /&gt;Kereta tiba di Bandung juga tepat pada waktunya (hebat euy PTKAI!).&lt;br /&gt;Rombongan dari Jakarta disambut oleh JS-er Bandung. Adi si tukang&lt;br /&gt;masak, Cindy the ceret, Ibu Tante Ceu Sofia Mansoor, Julian, Sienny,&lt;br /&gt;dan Mbak Anne, peserta JSGTBDG yang sudah menanti sejak hari Jumat.&lt;br /&gt;Wasis asli tidak percaya waktu saya beritahu kalau para panitia ini&lt;br /&gt;baru saling berjumpa dan kenalan pada hari Sabtu pagi!&lt;br /&gt;Setelah berfoto bersama di Stasiun Bandung, kami meluncur ke Jalan&lt;br /&gt;Braga. Di atas bus peserta memperolah sekotak sarapan berisi bolu&lt;br /&gt;gulung coklat dari Toko Bawean (d/h Sweetheart), seiris brownies&lt;br /&gt;keju dari Prima Rasa dan mini molen dari Kartika Sari. Andrew,&lt;br /&gt;peserta JSGTBDG yang kenal banget Bandung, keukeuh dengan gigih&lt;br /&gt;meminta sarapan lain. "Mie kocok euy.. mie kocok..." he..he.. tapi&lt;br /&gt;kue di kotak abis juga tuh.&lt;br /&gt;Bus diparkir di dekat Sarinah Braga, di sebrang almarhum sebuah toko&lt;br /&gt;kue (?) yang bernama Baltic. Dari kejauhan kami melihat Mr. Bond&lt;br /&gt;berjalan mendekati bus bersama seorang pengawalnya yang agak&lt;br /&gt;menyeramkan. Oops, ternyata Yohan.. :)&lt;br /&gt;Tour de Braga pertama dimulai dengan kunjungan ke Gedung Merdeka&lt;br /&gt;tempat diadakannya Konferensi Asia-Afrika tahun 1955. Gedung Merdeka&lt;br /&gt;ini dulunya adalah Societeit Concordia, tempat gaul para londo,&lt;br /&gt;dansa, main billiard atau sekedar ngobrol. Tour guide kami, Mbak&lt;br /&gt;Windy, dengan tangkas menjelaskan sejarah peristiwa Konferensi Asia-&lt;br /&gt;Afrika. Foto-foto dan display yang dipajang sungguh menarik.&lt;br /&gt;Ternyata Prince Norodom Sihanouk waktu mudanya ganteng banget lho..&lt;br /&gt;Dan makanan yang disajikan waktu itu cukup beragam. Dari foto hitam&lt;br /&gt;putih yang dipajang, saya berhasil mengenali rolade daging dan stup&lt;br /&gt;sayuran (dasar JS!). Eh, tahun depan ada peringatan besar 50 tahun&lt;br /&gt;Konferensi Asia-Afrika lho.. JSGTBDG lagi yuk!&lt;br /&gt;Karena gumaman Andrew semakin kencang ("mie kocok..mie kocok..")&lt;br /&gt;maka kami segera meluncur menuju toko Sumber Hidangan (d/h Het&lt;br /&gt;Snoephuis). Di sini peserta memperoleh Kaasbrood yang masih anget&lt;br /&gt;(roti dengan keju krim di dalamnya). Adi kemudian memperkenalkan&lt;br /&gt;minuman bernama Fosco yang hanya bisa diperoleh di toko SH . Ada&lt;br /&gt;fosco soda yang mirip milk shake dengan tambahan soda, dan fosco&lt;br /&gt;susu yang persis banget milk shake doang. Tapi ada rasa unik, spicy&lt;br /&gt;dan gurih yang tidak muncul pada milk shake biasa. Berhubung para&lt;br /&gt;peserta JSGTBDG masih pada jaim, maka 4 gelas fosco soda dan fosco&lt;br /&gt;susu dengan terpaksa (asli terpaksa!) dihabiskan oleh Adi.. dan saya!&lt;br /&gt;Sebelum melanjutkan perjalanan, Tante Sofia berhasil&lt;br /&gt;mendapatkan "buntut"-nya roti tawar yang freshly baked untuk&lt;br /&gt;dicicipi. Roti tawar dengan crust yang tipiiis tapi renyah,&lt;br /&gt;sementara bagian dalamnya lembut dan harum. Lumayan buat&lt;br /&gt;membersihkan sisa-sisa fosco di lidah.&lt;br /&gt;Next stop: Maison Bogerijn atau Braga Permai. Dulunya ini adalah&lt;br /&gt;cafe yang tumpah ke jalan. Salah satu sajiannya yang unik adalah&lt;br /&gt;strawberry dengan whipped cream. Mr. Bond bilang, kalau pesan menu&lt;br /&gt;ini, biasanya tidak akan langsung dihabiskan tapi digelar dulu&lt;br /&gt;dimeja. Maksudnya biar orang yang lewat pada liat... Tidak lupa&lt;br /&gt;disampingnya digelar (dengan sangat sengaja) rokok 555, jatah khusus&lt;br /&gt;AURI. Adeuuuhh.. gaya euy!&lt;br /&gt;Ketika keluar dari Braga Permai, kami baru sadar ada beberapa&lt;br /&gt;peserta yang belum terkumpul. Beberapa orang memang berbelok ke Jl.&lt;br /&gt;Kejaksaan untuk membungkus Mie Rica yang kondang itu. Alhamdulillah,&lt;br /&gt;dengan satu putaran sweeping, para peserta berhasil kembali ke dalam&lt;br /&gt;bus dan siap menuju Jalansutra Goes To Bandung: Babak 2 - Ma' Uneh.&lt;br /&gt;bersambung...&lt;br /&gt;wass,&lt;br /&gt;irvan karta&lt;br /&gt;ps. Di sebelah Braga Permai, ada restoran Jepang yang jual sushi&lt;br /&gt;yang cukup baik dengan harga yang bersahabat. Namanya Momiji.&lt;br /&gt;Menunya kumplit, tidak hanya sushi/sashimi, tapi juga soba, ramen&lt;br /&gt;dan udon.. hmm.. jadi pengen..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Date: Mon, 04 Oct 2004 07:03:07 -0000&lt;br /&gt;  From: "irvankarta" &lt;irvankarta@hotmail.com&gt;&lt;br /&gt;Subject: JS Goes to Bandung: Babak 2 - Ma' Uneh&lt;br /&gt;Hai..hai..&lt;br /&gt;ini lanjutannya&lt;br /&gt;=====&lt;br /&gt;Ma' Uneh&lt;br /&gt;Dari Jalan Braga, rombongan JSGTBDG melanjutkan ekspedisi menemukan&lt;br /&gt;kebenaran tentang masakan sunda. Menurut tulisan yang diposting&lt;br /&gt;Harry tentang Ma' Uneh, disinilah kita bisa lihat variasi masakan&lt;br /&gt;sunda diluar pakem ayam/ikan goreng, sambel-lalap.&lt;br /&gt;Rombongan tiba di Jalan Pajajaran, dekat stadion atletik. Di ujung&lt;br /&gt;gang kami disambut oleh.. Ma' Uneh.. he..he.. Maksudnya Tante&lt;br /&gt;Sofia.. Tante Sofie dan Cindy memang segera ngebut dari Braga untuk&lt;br /&gt;memastikan bahwa makanan di Ma' Uneh siap diserbu.&lt;br /&gt;Warung ini sangat bersih dan efisien. Ada hal unik di sini. Di&lt;br /&gt;dinding saya melihat ada sejenis lemari kabinet dengan beberapa&lt;br /&gt;pintu. Petugas warung dengan sigap memasukkan piring kotor&lt;br /&gt;ke "lemari" itu lalu menutup pintunya. Penasaran, saya intip lemari&lt;br /&gt;tersebut. Ternyata "lemari" itu adalah jendela menuju ruang cuci&lt;br /&gt;piring yang disamarkan sedemikian rupa dengan cerdas.&lt;br /&gt;Kami menempati ruang khusus di warung Ma'Uneh. Di sini, rombongan&lt;br /&gt;disambut dengan mode penyajian "gek-sor". Begitu "gek", duduk..&lt;br /&gt;langsung aja "golosor".. makanan disajikan. Dalam sekejap, dua meja&lt;br /&gt;panjang ala galia penuh terisi dengan semur jengkol, tumis haremis,&lt;br /&gt;tumis paria, ulukutek leunca, lalapan, pais (pepes) jambal, pais&lt;br /&gt;tahu dan pais telur asin. Ada juga babat raweuy, gepuk dan kalilipa.&lt;br /&gt;Semur jengkolnya.. hmmm.. cook to perfection (katanya, saya nggak&lt;br /&gt;sempet nyobain.. perlawanan rekan-rekan terlalu tangguh!). Tumis&lt;br /&gt;haremisnya unik. Kerang kecil-kecil (air tawar?) ditumis dengan&lt;br /&gt;bumbu kuning dan dimasak hingga agak kering. Ulukutek leunca dimasak&lt;br /&gt;dengan doneness yang perfect. Leuncanya masih bulet-bulet dan tidak&lt;br /&gt;sampa layu, sehingga masih meledak ketika dikunyah.&lt;br /&gt;Pais jambal, tahu dan telur asin.. buat saya pais telur asin&lt;br /&gt;juaranya. Si kuning telurnya teh meni geulis... cantik banget.&lt;br /&gt;Warnanya oranye terang dikelilingi oleh putih telur yang sangat&lt;br /&gt;halus dengan permukaan kehijauan karena kelunturan daun pisang.&lt;br /&gt;Ahhh.. a feast for the eye.. Masalah rasa, lebih juara lagi. Kuning&lt;br /&gt;telur yang asin gurih dengan tekstur yang crumbly berpadu dengan&lt;br /&gt;tekstur putih telur yang silky smooth beraroma sereh nan segar..&lt;br /&gt;Babat raweuy berwarna hitam berminyak dengan rasa agak manis, gepuk&lt;br /&gt;yang agak dry (ini menu yang paling 'biasa') dan kalilipa goreng&lt;br /&gt;yang mantap, benar-benar pasangan yang tepat dengan nasi hangat.&lt;br /&gt;Overall, tarikan masakan Ma' Uneh cenderung agak manis, tidak&lt;br /&gt;terlalu pedas dan berat. Tapi body yang berat ini membuat kita&lt;br /&gt;menambah nasi lagi dan lagi untuk menyeimbangkannya. Walhasil di&lt;br /&gt;meja saya, tingkat kerusakan cukup parah. Hampir semua hidangan yang&lt;br /&gt;disajikan, musnah.&lt;br /&gt;Di meja Adi, rupanya pergerakan massa kurang bertenaga. Masih banyak&lt;br /&gt;tumisan yang tidak tersentuh dan pais yang belum dibuka. Ia sampai&lt;br /&gt;berkomentar "Anak JS ternyata makannya tidak sedahsyat yang&lt;br /&gt;dibayangkan!". Tapi Adi terpaksa meralat ucapannya ketika&lt;br /&gt;mengunjungi meja sebelahnya. Setelah "menghabisi" masakan Ma' Uneh&lt;br /&gt;dengan sukses, beberapa penunggu meja ini membuka bungkusan Mie Rica&lt;br /&gt;yang dibeli Grace dan Sisca!!&lt;br /&gt;Sebagai urang sunda, saya baru tau kalau masakan sunda itu sangat&lt;br /&gt;cocok jika ditutup dengan dessert berupa.. bakmi!!!&lt;br /&gt;Main course, dessert dan free flowing teh anget berhasil&lt;br /&gt;diselesaikan dengan gemilang. Rombongan lantas bersiap menuju hotel&lt;br /&gt;Bumi Asih untuk memasuki pertarungan berikutnya.. JSGTBDG: Babak 3 -&lt;br /&gt;Ngadu Batagor!&lt;br /&gt;wass,&lt;br /&gt;irvan karta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-109688471634025717?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/109688471634025717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/109688471634025717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2004/10/jalansutra-goes-to-bandung.html' title='Jalansutra Goes To Bandung'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-108841002730712121</id><published>2004-06-28T15:07:00.000+07:00</published><updated>2004-06-30T10:17:46.203+07:00</updated><title type='text'>Resto Review: Sop Buntut Ibu Samino</title><content type='html'>Siang ini saya mencoba Sop Buntut Ibu Samino di belakang Hotel Atlet&lt;br /&gt;Senayan. Atas petunjuk jalannya Pak Andrew Mulianto beberapa waktu&lt;br /&gt;lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud hati tadinya memang sudah ada rencana mau makan sama Pak&lt;br /&gt;Walikota (Yohan), Mas Arie, maupun teman2 JSers lain... tapi Pak Wali&lt;br /&gt;belum nentuin tanggal cuman sudah agree, makanya saya ubah sedikit&lt;br /&gt;rencana belakangan karena saya mau nyobain dulu saja deh, supaya&lt;br /&gt;kalau enak baru bisa recommend, kalau kurang enak kan kasihan Pak&lt;br /&gt;Walikotanya jauh2 ke sini :) jadinya laporan di bawah ini adalah&lt;br /&gt;semacam Finding and Recommendation report sebelum sowan kemari...&lt;br /&gt;dari tim TGPFSB (Tim Gabungan Pencari Fakta Sop Buntut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasinya tepat di selipan antara Pintu masuk Plasa Senayan dan Hotel&lt;br /&gt;Atlet. Lumayan muter2 dikit karena lokasinya nampaknya baru pindah ke&lt;br /&gt;Kantin BMW di area Gedung Serbaguna Senayan. Parkirnya pakai Secure&lt;br /&gt;Parking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung jam 12-an sampai di sini, sudah banyak orang2 bercucuran&lt;br /&gt;keringat dan air mata makan Sop Buntut yang jadi menu andalannya (di&lt;br /&gt;samping ada Soto Ayam, Sop Ayam dan Soto Sapi)... Nampak di etalase&lt;br /&gt;gorengan Iso (Usus Sapi), Ayam, Paru, dan Empal yang sangat well-done&lt;br /&gt;dan mengundang. Macam2 krupuk dan emping ada di masing2 meja, kacang&lt;br /&gt;mete, wah, asam urat semua nih...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Saminonya nampaknysa sangat friendly terhadap semua tamu, dan&lt;br /&gt;tidak bisa diam karena terus memberikan joke2 lucu saat ada tamu&lt;br /&gt;datang atau minta sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesanan datang dalam 1 menit (cepet sekali bo'), semangkok Sop Buntut&lt;br /&gt;isinya adalah dua potong buntut ukuran sedang, warnanya hitam legam,&lt;br /&gt;kuah, beberapa iris tomat mentah yang dimasukkan dalam kuah, dan&lt;br /&gt;potongan daun bawang serta bawang goreng. That's it. Emping - dalam&lt;br /&gt;kuliner persopbuntutan (piye sih nulisnya) Jateng - memang tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dagingnya cukup empuk, tapi belum sampai pada taraf "moprol" alias&lt;br /&gt;lepas sendiri alias masih ada yang nempel2 di tulang sehingga harus&lt;br /&gt;ada perlawanan serius supaya dapat makan dengan tuntas-tas-tas...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuahnya, bening banget, light, encer, rasanya agak tawar, kurang -&lt;br /&gt;ngaldu, jadi kesannya sehat banget lah yauw (read between the lines,&lt;br /&gt;you know what I mean :)) barangkali membuatnya tidak pakai fatnya&lt;br /&gt;sama sekali...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya tambah beberapa sendok sambel rawit belanda (warna oranye),&lt;br /&gt;dan sedikit lada, lhadalah, puanase rek di lidah... ternyata ada&lt;br /&gt;chain-reaction yg kuat antara sambal ini dengan kuahnya... setelah 10&lt;br /&gt;menit tapinya... jadi pedesnya belakangan setelah ditambahin beberapa&lt;br /&gt;sendok...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Overall, saya kurang puas untuk makan di sini, nampaknya Sop&lt;br /&gt;Buntutnya Pak Sangid di Hotel Borobudur still da best in town.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kualitasnya seperti ini, nampaknya Pak Walikota tidak perlu&lt;br /&gt;jauh2 sowan kemari, justru nampaknya Sop Buntut Ma Emun yang&lt;br /&gt;diceritakan Pak Wali perlu dicoba...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian laporan kecapan lidah (dan pandangan mata) TGPFSB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-108841002730712121?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108841002730712121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108841002730712121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2004/06/resto-review-sop-buntut-ibu-samino.html' title='Resto Review: Sop Buntut Ibu Samino'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-108684903055524620</id><published>2004-06-10T13:21:00.000+07:00</published><updated>2005-03-13T22:24:30.060+07:00</updated><title type='text'>Kuliner Pemalang</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img height="300" alt="sate-kering.jpg" hspace="0" src="http://mail.lecturer.binus.ac.id/~hannys1253/sate-kering.jpg" width="380" vspace="2" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Sate Kering (Ati Ampla)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img height="300" alt="sate-basah.jpg" hspace="0" src="http://mail.lecturer.binus.ac.id/~hannys1253/sate-basah.jpg" width="380" vspace="2" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Sate Basah (Paha/Dada)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img height="300" hspace="0" src="http://mail.lecturer.binus.ac.id/~hannys1253/kupatndekem.jpg" width="380" vspace="2" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Kupat Ndekem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img height="300" hspace="0" src="http://mail.lecturer.binus.ac.id/~hannys1253/nasibogana.jpg" width="380" vspace="2" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Nasi Bogana ala Yanci Pemalang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-108684903055524620?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108684903055524620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108684903055524620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2004/06/kuliner-pemalang.html' title='Kuliner Pemalang'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-108684280427438690</id><published>2004-06-10T11:24:00.000+07:00</published><updated>2004-06-10T13:16:09.973+07:00</updated><title type='text'>Tes Image</title><content type='html'>Tes...&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img alt="jessica.jpg" src="http://mail.lecturer.binus.ac.id/~hannys1253/jessica.jpg" width="380" height="300" hspace="0" vspace="2"&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Tes...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-108684280427438690?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108684280427438690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108684280427438690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2004/06/tes-image.html' title='Tes Image'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-108511470274736814</id><published>2004-05-21T11:45:00.000+07:00</published><updated>2004-05-21T11:45:02.746+07:00</updated><title type='text'>Golden Boat</title><content type='html'>Ada resto baru di jalan Panjang (terusan arteri Pondok Indah), lokasinya di&lt;br /&gt;Hero Supermarket, seberang Pom bensin yg buka 24 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya GoldenBoat. Dari jalan Panjang tak terlihat ada resto sebesar ini,&lt;br /&gt;karena terletak di lantai 4, dan tak nampak plang yang mencukupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menyediakan Chinese Food juga sedia Dimsum, untuk dimsumnya saya&lt;br /&gt;sudah 2 kali coba, rasanya ok, lumayan banget, mau dicompare head-to-head&lt;br /&gt;dengan Samudra nggak kalah. Udangnya untuk siomai/hakau/lumpia kulit tahu&lt;br /&gt;dll ukurannya lebih besar daripada Samudra. Sehingga tadinya saya pikir&lt;br /&gt;harganya per porsi lebih mahal, ternyata malah nggak mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interiornya menawan hati lengkap dengan jendela2 dan pintu beraksen China&lt;br /&gt;di samping kiri dan kanan resto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbuat dari kayu2 dengan warna Maple coklat-merah-sedikit purple, muat&lt;br /&gt;hingga 800 orang dan ada juga untuk function di lantai 4 yg muat lebih&lt;br /&gt;banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk gathering masal JSMania tempat ini highly-recommended.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hannysan."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-108511470274736814?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://groups.yahoo.com/group/jalansutra/message/5361' title='Golden Boat'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108511470274736814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108511470274736814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2004/05/golden-boat.html' title='Golden Boat'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-108511462174336383</id><published>2004-05-21T11:43:00.000+07:00</published><updated>2004-05-21T11:43:41.743+07:00</updated><title type='text'>Harta Karoen Semarang</title><content type='html'>meneer-moeffrow,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saia joega baroe sadja dikasi tahoe saorang teman jang soeka&lt;br /&gt;koempoelin benda-benda koeno dan photo2 koeno, bole djadi ini&lt;br /&gt;meroepakan harta karoen djang tiada ternilai harganja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;silakan akses tempo doeloe-nja semarang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.semarang.nl&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;teman2 yang poenya kenangan tersendiri atas semarang: pak bondan,&lt;br /&gt;yohan handoyo, pak john, ibu widya, philip, pak toni, dll - semoga&lt;br /&gt;terhiboer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga beloem basi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hannysan."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-108511462174336383?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108511462174336383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108511462174336383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2004/05/harta-karoen-semarang.html' title='Harta Karoen Semarang'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-108511453873095671</id><published>2004-05-21T11:42:00.000+07:00</published><updated>2004-05-21T11:42:18.730+07:00</updated><title type='text'>Geef Mij Maar Nasi Goreng!</title><content type='html'>Barangkali ada teman2 yang pernah dengar lagu Tempo Doeloe berjudul&lt;br /&gt;Nasi Goreng ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dulu selalu mendengar lagu ini saat makan di Restaurant Trio,&lt;br /&gt;jalan RP Soeroso (Gondangdia-Cikini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya Trio adalah Chinese Food restaurant yang ok di Jakarta.&lt;br /&gt;Masakannya banyak yang tidak kita jumpai lagi di resto2 chinese lain,&lt;br /&gt;karena macamnya cukup banyak (300-500), namanya unik2, masih ditulis&lt;br /&gt;dalam ejaan lama. Setiap kali makan di sana selalu ada saja orang-&lt;br /&gt;orang yang sudah lanjut umurnya dan selalu ada juga orang bule datang&lt;br /&gt;berkunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu riang yang penuh nama makanan Tempo Doeloe ini dinyanyikan&lt;br /&gt;Wieteke van Dort alias Tante Lien. Seorang Belanda yang lahir di&lt;br /&gt;Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu2 yang dinyanyikan oleh Tante Lien ini banyak sekali dan sebagian&lt;br /&gt;ada yang berbahasa Indonesia, seperti macam Lenggang Kangkoeng, Ajoen&lt;br /&gt;Ajoen, Sastrokoro, Si Boeng, De Bioscoop in Soerabaja, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru dapat kiriman MP3 dari lagu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hannysan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wieteke van Dort: Geef mij maar nasi goreng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Print Verstuur&lt;br /&gt;Toen wij repatrieerden uit de gordel van smaragd&lt;br /&gt;Dat Nederland zo koud was hadden wij toch nooit gedacht&lt;br /&gt;Maar 't ergste was 't eten. Nog erger dan op reis&lt;br /&gt;Aardapp'len, vlees en groenten en suiker op de rijst&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;refr.:&lt;br /&gt;Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei&lt;br /&gt;Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij&lt;br /&gt;Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei&lt;br /&gt;Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geen lontong, sate babi, en niets smaakt hier pedis&lt;br /&gt;Geen trassi, sroendeng, bandeng en geen tahoe petis&lt;br /&gt;Kwee lapis, onde-onde, geen ketella of ba-pao&lt;br /&gt;Geen ketan, geen goela-djawa, daarom ja, ik zeg nou&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;refr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ik ben nou wel gewend, ja aan die boerenkool met worst&lt;br /&gt;Aan hutspot, pake klapperstuk, aan mellek voor de dorst&lt;br /&gt;Aan stamppot met andijwie, aan spruitjes, erwtensoep&lt;br /&gt;Maar 't lekkerst toch is rijst, ja en daarom steeds ik roep&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;refr.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-108511453873095671?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://groups.yahoo.com/group/jalansutra/message/7753' title='Geef Mij Maar Nasi Goreng!'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108511453873095671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108511453873095671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2004/05/geef-mij-maar-nasi-goreng.html' title='Geef Mij Maar Nasi Goreng!'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-108511440236191113</id><published>2004-05-21T11:40:00.000+07:00</published><updated>2004-05-21T11:40:02.360+07:00</updated><title type='text'>Tempat Makan di Tangerang dan Petanya</title><content type='html'>Masih dengan Sistem Peta Gunther Holtorf, ini adalah daftar makanan yang lumayan&lt;br /&gt;terkenal di Tangerang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laksa Ayam Tangerang ---&gt; sepanjang jalan Moch&lt;br /&gt;Yamin, di depan LPK Wanita 30B:Y37&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asinan Lanjin, Kwetiau Medan, Bebek Tim, Sate B2 di Pasar Lama dan&lt;br /&gt;Kelenteng Boen Tek Bio (?)---&gt; 30B:V33 Pasar lama [kota cina] di sisi&lt;br /&gt;kiri jalan Kisamaun - masuk di sebelah Bank Lippo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakso Sapi Depan Varia 'Mas Gino' ---&gt; 30B:V33 seberang Lippo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bubur Ayam (malam saja) depan Toko Roti Tiffany ---&gt; 30B:V33&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisamaun adalah jalan satu arah ke arah Utara ---&gt; 30B:W35 hingga V32&lt;br /&gt;Jalan kebalikannya (circular) adalah Damyati - MT Haryono ---&gt;&lt;br /&gt;30B:V32-W32 ke selatan s.d. W35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakmi DO pagi hingga sore (mie lebarnya enak, bisa Ayam / B2) ---&gt;&lt;br /&gt;Jalan Sasmita 30B:U31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakmi Medan pagi hingga malam (dengan Charsiu) ---&gt; Jalan Baharudin&lt;br /&gt;30B:W31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasi Campur (model Kenanga) ---&gt; Jalan Baharudin samping Bakmi Medan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasi Campur Pontianak ---&gt; Jalan Baharudin sekitar Bakmi Medan"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-108511440236191113?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108511440236191113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108511440236191113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2004/05/tempat-makan-di-tangerang-dan-petanya.html' title='Tempat Makan di Tangerang dan Petanya'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-108511388285190158</id><published>2004-05-21T11:31:00.000+07:00</published><updated>2004-05-21T11:31:22.850+07:00</updated><title type='text'>Noodle City</title><content type='html'>Lokasi resto ini ada di kompleks ruko Grahamas(?), yaitu kompleks&lt;br /&gt;ruko yang terletak di sebelah kompleks Ranchmarket samping tol Kebun&lt;br /&gt;Jeruk - Jakarta Barat(nah bingung kan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kompleks Grahamas ini terdapat COCA SUKI dengan signage yang&lt;br /&gt;besar sekali, SUPER KITCHEN (not recommended, Roasted duck-nya bau&lt;br /&gt;armpit banget), LA MIEN, YONG KEE SEAFOOD, BAKMI AGOAN (recommended)&lt;br /&gt;dan BAKERI OA (franchisee dari Singapore - recommended for roti&lt;br /&gt;flossnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke pokok pembicaraan, saya sudah 3 kali ke NOODLE CITY sejak&lt;br /&gt;dibuka tahun lalu. Resto ini terletak dalam ruko 3 lantai.&lt;br /&gt;Interiornya lumayan cozy dan agak funky, warna-warna yg dipakai&lt;br /&gt;spotlight dan cerah seperti orange. Desain logonyapun cosmo banget.&lt;br /&gt;Lagu2 yang disetel agak Jazzy dan kadang Classic. Lightingnya&lt;br /&gt;lumayan, dengan lukisan2 besar di dinding yang mengartikulasikan&lt;br /&gt;target market dari resto ini lebih ke customers yang dinamis.&lt;br /&gt;Presentasinya atas menu cukup bagus karena semuanya ada fotonya yang&lt;br /&gt;cukup menarik selera. Kira2 ada 150 macam masakan termasuk soup,&lt;br /&gt;appetizer, salad, main meal, dessert (CMIIW). Dengan cara demikian&lt;br /&gt;pelanggan sekaligus dapat belajar dan memilih dengan benar, karena&lt;br /&gt;rata2 menu yang ditawarkan adalah masakan asing dan belum dikenal&lt;br /&gt;luas oleh pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(OOT: Saya sangat mengapresiasi hal semacam ini dilakukan di resto2&lt;br /&gt;Indonesia, karena walaupun seringkali kita sudah jelas tahu&lt;br /&gt;masakannya, tapi kenyataannya sometimes penyajian masakan di&lt;br /&gt;Indonesia tidak sesuai dengan yang dibayangkan customers. Walaupun&lt;br /&gt;bukan jaminan bahwa dengan foto maka 100% akan sama dengan yang&lt;br /&gt;disajikan, karena ada pula resto yang "over promise under deliver".)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resto ini menyediakan menu yang cukup progresif, selalu bertambah&lt;br /&gt;setiap kunjungan saya. Terakhir malah ada Roasted Duck. Dari namanya,&lt;br /&gt;nampak bahwa resto ini spesialisasinya di Noodle. Dan ternyata macam-&lt;br /&gt;macam mie ada di sini. Ada masakan mi ala hawker's food, macam2 pasta&lt;br /&gt;dan spaghetti, soup, dan terakhir malah diversifikasi ke beberapa&lt;br /&gt;chinese food. Ada Char Kuey Teow Singapore, Char Hor Fun, Mee Goreng&lt;br /&gt;Malaysia (dengan garnish kacang dll),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda suka makan di Eaton's karena menyukai hidangan mi a la&lt;br /&gt;Singapore, Malaysia, ataupun Hongkong, maka di Noodle City rata2&lt;br /&gt;masakan yang ditawarkan lebih lengkap lagi, and one thing for sure:&lt;br /&gt;the portion is bigger! more generous. Mengenai harganya bisa dibilang&lt;br /&gt;rata2 mirip dengan Eaton (untuk noodle antara 15K - 25K, average 17-&lt;br /&gt;18K).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carbonara sauce untuk Fettucini-nya kental dan yummy. Seingat saya,&lt;br /&gt;selama saya makan Pasta-pasta di Jakarta, baru sekali ini ada yang&lt;br /&gt;sangat memorable karena yummynya. Chicken Cordon Blue-nya yang&lt;br /&gt;dibandrol sekitar 30K cukup besar, diserve dengan french fries yang&lt;br /&gt;generous, steamed carrot dan vegies lain, dan ditambah Fettucine&lt;br /&gt;Carbonara. Jadi cukup mengenyangkan. Beberapa rupa Steak standar juga&lt;br /&gt;tersaji di sini. Kunjungan pertama saya tahun lalu menghasilkan&lt;br /&gt;sekelumit informasi dari ownernya yang saat itu standby: kokinya&lt;br /&gt;masih muda lulusan Australia, yg pernah bekerja sebagai chef di Resto&lt;br /&gt;Australia sebelum dihijack.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayanan di Noodle City cukup bagus. Waiters cukup tanggap dan&lt;br /&gt;cekatan dalam melayani, dan yang paling penting: cukup ramah dan&lt;br /&gt;ramahnya nampak tulus from their heart(tidak dibuat2). Dalam&lt;br /&gt;kunjungan terakhir malah saya cukup kagum dengan keberanian sang&lt;br /&gt;kasir memberikan keputusan yang mungkin tidak pernah terjadi di&lt;br /&gt;resto/toko2 Indonesia lainnya. Saat kami memesan Mushroom Soup dengan&lt;br /&gt;Puff Pastry (Au Gratin), keluarnya lama sekali. Mereka minta excuse&lt;br /&gt;karena ovennya agak lama. Kami tidak marah dan ok-ok saja menunggu.&lt;br /&gt;Saat kami membayar ke kasir, kejutan muncul, kasirnya benar2 minta&lt;br /&gt;maaf dan malah memberikan diskon khusus untuk tidak perlu membayar&lt;br /&gt;puff pastry-nya. Iced Tea (bottomless) dengan fragrance atau Italian&lt;br /&gt;Soda ada di sini, termasuk minuman2 lain seperti resto2 model cafe&lt;br /&gt;lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What a good decision! It's not about the money, but the way they&lt;br /&gt;serve customers quite impressive. Sementara rata-rata waiter resto&lt;br /&gt;biasanya punya seribu jurus untuk membela diri secara defensive dan&lt;br /&gt;tidak mau disalahkan. Kalaupun customers complain biasanya mereka&lt;br /&gt;cuma memberi senyum yang dibuat-buat dan janji akan diperbaiki.&lt;br /&gt;Ataupun sekedar minta maaf (tetapi hanya lipsync) Tetapi kali ini&lt;br /&gt;saya kagum malah ada yang benar2 minta maaf dan memberi diskon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar2 contoh "empowered front liners staff" - benar2 nggak bikin&lt;br /&gt;brekele - staf yang paling depanpun bisa membuat keputusan penting.&lt;br /&gt;Di Indonesia, urusan2 memberi diskon, kebijakan2, complimentary dsb&lt;br /&gt;biasanya dikeep bukan oleh frontliners, selama ini frontliners tak&lt;br /&gt;ubahnya hanya seperti robot-robot pelaksana yang menjalankan aturan2&lt;br /&gt;tersentralisasi kaku buatan perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan sementara saya so far - ok - highly recommended. Apalagi&lt;br /&gt;belakangan banyak yang complain akan pelayanan Eaton's. Tak heran&lt;br /&gt;saat dalam beberapa kali kunjungan saya ke Ranch Market saat melongok&lt;br /&gt;ke Eaton, wah kok sepi, tidak seperti biasanya. Mungkin sudah banyak&lt;br /&gt;pesaingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hannysan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ps: Kekurangan Noodle City ada satu: beberapa masakannya kurang&lt;br /&gt;otentik. Beberapa hawkers food misalnya, menggunakan beef sausage&lt;br /&gt;rather than Lap-cheong.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-108511388285190158?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108511388285190158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108511388285190158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2004/05/noodle-city_21.html' title='Noodle City'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-108434822832548794</id><published>2004-05-12T14:46:00.000+07:00</published><updated>2004-05-12T14:50:28.326+07:00</updated><title type='text'>Quote of The Day...</title><content type='html'>"Don't do what your country ask you,&lt;br /&gt;Do what you can ask for your country"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- KFJ&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-108434822832548794?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108434822832548794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108434822832548794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2004/05/quote-of-day.html' title='Quote of The Day...'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-108424942078637601</id><published>2004-05-11T15:22:00.000+07:00</published><updated>2004-05-11T16:45:10.910+07:00</updated><title type='text'>Nasi Gandul Pati</title><content type='html'>Bila dingat-ingat, barangkali kalimat pertama yang terlintas dalam benak saya sejenak setelah suapan pertama saya di rumah makan ini adalah: "Damn, how could I just found this place after 14 years living in Jakarta!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasi Gandul adalah nasi khas dari Pati, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Nasi Gandul bisa dikatakan varian Gule Sapi. Potongan daging sapi yang dimasak dalam gravy agak kental, berwarna coklat, rasanya manis. Saya tidak yakin benar kalau ada unsur coconut milk dimasukkan untuk membuat kuahnya. Yang jelas, biasanya nasi putihnya biasanya dialasi daun pisang di atas piring, dicampur "gule sapi"nya dan diberi taburan bawang goreng yang sangat generous. Bawang gorengnya diiris melebar dan digoreng tidak begitu kering melainkan dibiarkan agak basah. Dihidangkan panas-panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sensasi sambal yang terbuat dari rebusan cabe rawit hijau diuleg sampai halus dan dibiarkan kering tanpa tambahan air membuat miris orang yang tidak suka pedas. Mengingat Nasi Gandulnya sendiri sudah panas, ditambah sambalnya yang pedas, maka sudah bisa dipastikan berkeringat saat makan ("gembrobyos").&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat yang saya ceritakan ini lebih cocok disebut warung makan, bukan resto. Setingkat di atas Warteg, lebih luas dan nampaknya lebih bersih. Meja-meja persegi untuk kapasitas 4-5 orang tertata rapi. Lokasinya di Jalan Pesanggrahan, Jakarta Barat, kira-kira 50 meter Sebelum jembatan menuju Puri Indah dari arah Hero. Banyaknya ruko di sepanjang jalan seringkali menutupi "mutiara" ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nasi Gandul Pati Ibu Endah" dengan spanduk warna putih menutupi bagian depan warung makan berwarna hijau ini. Ada banyak menu khas Jawa Tengah yang nampaknya sulit ditemukan di Jakarta, terutama Jakarta Barat, ada di sini, antara lain Nasi Gandul, Lontong Tahu Gimbal, Nasi Mangut, Nasi Asem2 Daging Sapi/Ayam, Sate Sapi, Soto Ayam, Soto Sapi, Lontong Opor, dsb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat saya terkagum-kagum adalah "Adds on" atau "accessories" teman makannya lumayan. Ada tahu dan tempe bacem, telur pindang, tempe goreng berkucai (tempe yang versi mentahnya dikemas satuan dibungkus daun - sedangkan di jakarta biasanya hanya ada tempe dalam ukuran blok), perkedel, dan macam-macam jeroan sapi yang dibacem (diungkep) dibiarkan "bergelimpangan" dalam wadah bertudung saji. Belum termasuk macam-macam krupuk yang standar tersedia. Suasananya jadi "njawani" sekali alias "Jawir banget". Seingat saya selama di Jakarta, saya belum pernah menjumpai masakan khas Jawa Tengah yang "nekat" mengambil resiko menyediakan macam-macam accessories berukuran banyak semacam ini, karena nampaknya tidak banyak orang di Jakarta yang mau makan jeroan sapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kunjungan pertama saya makan Nasi Gandulnya, dan membawa pulang Mangut. Keduanya ok. Saya tidak tahu persis Nasi Gandul yang otentik dari Pati. Satu-satunya benchmark saya adalah Nasi Gandul di Ungaran saat saya kecil dulu. Not bad dan cukup ok. Mangut adalah varian Opor dan Sambal Goreng, jadi masakan bersantan, biasanya Mangut berisi potongan Ikan Tongkol, Tahu putih, Telur, dsb. Baunya harum menyengat dan stimulating karena Mangut dimasak dengan cabe hijau besar. Mangut di sini menggunakan Ikan Pe / Pari. Tapi setelah saya coba, juga cukup lumayan untuk mensubstitusi Ikan Tongkol. Di Jawa Tengah, Ikan Tongkol seringkali diolah dengan cara dipanggang seperti Ikan Cakalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungan kedua saya mencoba Asem-asem Ayam. Perkara Asem-asem ini memang cukup unik. Pengetahuan saya mengenali Asem-asem sangat beragam. Di Semarang dan Ungaran, Asem-asem biasanya berisi potongan buncis, cabe merah dan hijau besar dipotong besar, dicampur asem dan belimbing wuluh (sayur), diberi potongan daging sapi rawon (tetelan), berkuah coklat encer (tanpa santan). Tetapi saat bertemu teman2 Pekalongan mereka menyebutnya Garang Asem. Padahal setahu saya, Garang Asem a la Solo adalah macam2 potongan ayam dan jerohan ayam, dengan potongan cabe hijau dan merah besar plus belimbing wuluh, dimasak dengan bening. Kadang diolah dengan dikukus dengan daun pisang(?). Aromanya sedap pedas asem bercampur wangi daun pisang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Asem-asem di Warung Makan ini, yang disebut Asem-asem Ayam di sini adalah a la Semarang/Ungaran, tapi minus buncis dan belimbing wuluh, juga potongan cabe hijau dan merahnya sangat tipis, sehingga saya kira Asem-asem Ayamnya bagi saya kurang berkesan karena rasa manisnya saja yang dominan. Ayamnya disajikan utuh tapi cukup empuk sehingga dapat lepas ("mreteli") dengan sendirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warung Makan ini membuka cabang di Food Court Sogo Plasa Senayan (Spicegarden) maupun Foodcourt Mal Ciputra. &lt;br /&gt;Dari segi harga nampaknya cukup reasonable banget. Nasi Gandul (campur nasi) sekitar 6K. Sayur Mangut 5K. &lt;br /&gt;Parkir lumayan luas, karena tepat di sisi jalan Pesanggrahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warung makan yang saya temukan secara benar-benar tak sengaja ini (lantaran pas lapar dan hasil celingak-celinguk kalau meneyetir) ini pantas dibilang sebagai "paradise" bagi orang-orang Jawa Tengah di Jakarta. Tak heran banyak sekali mobil dengan orang-orang berlogat Jateng berkunjung ke sana pas makan siang. Is it really worth for a visit? Strongly Recommended! &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-108424942078637601?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108424942078637601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108424942078637601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2004/05/nasi-gandul-pati.html' title='Nasi Gandul Pati'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-108425472465050799</id><published>2004-05-11T12:52:00.000+07:00</published><updated>2004-05-11T12:58:44.496+07:00</updated><title type='text'>GUI vs NUI</title><content type='html'>&lt;em&gt;(dimuat di Majalah SWA, Mei 2003)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membeli  suatu  produk  di  masa kini tak hanya untuk mendapatkan fungsinya&lt;br /&gt;saja.  Tetapi  ada  berbagai  parameter  lain  seperti kemudahan pemakaian,&lt;br /&gt;keawetan, segi artistik, fungsi tambahan, maupun kemasan turut mempengaruhi&lt;br /&gt;apakah suatu produk dapat laku di beli orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau  Nokia  dapat  merajai  pasar ponsel di Indonesia, sudah barang tentu&lt;br /&gt;salah  satu faktornya adalah karena asas kemudahan pakainya. Laris manisnya&lt;br /&gt;model  5110  ?  ponsel  sejuta  umat  ?  juga  sedikitnya  karena kemudahan&lt;br /&gt;penggunaannya  dengan  tombol  "Navi Key". Lewat serangkaian iklannya Nokia&lt;br /&gt;selalu mengidentikkan dirinya dengan "The Human Technology", sebagai ponsel&lt;br /&gt;yang  sangat  peduli  dengan  kemudahan  akses serta kebutuhan user. Sangat&lt;br /&gt;berbeda  dengan  saat  telepon  ditemukan  pertama  kalinya,  di  mana segi&lt;br /&gt;fungsionalitaslah  menjadi  unsur  penting, sehingga perangkat handset yang&lt;br /&gt;ukurannya besar serta kurang artistik tidak mempengaruhi minat pengguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir  Februari  lalu  saya berkesempatan memenuhi undangan Microsoft untuk&lt;br /&gt;menjadi  salah  seorang  juri dari kompetisi .NET tingkat Asia Pasifik yang&lt;br /&gt;diikuti 12 tim dari 11 negara. Indonesia mengirimkan tim pemenang kompetisi&lt;br /&gt;nasional  yang  kebetulan adalah mahasiswa skripsi bimbingan saya. Di event&lt;br /&gt;penutupan  kompetisi inilah Bill Gates datang ke Beijing untuk menceritakan&lt;br /&gt;current  updates  dari  riset  Microsoft  di  depan para finalis serta 8000&lt;br /&gt;mahasiswa Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi  Anda yang saat ini menggunakan PC pasti sudah tak asing dengan sistem&lt;br /&gt;operasi  Windows.  Bila  dicermati,  terjadi  lompatan yang sangat besar di&lt;br /&gt;penghujung dekade 1980an sejak ditemukannya Windows setelah sebelumnya para&lt;br /&gt;pengguna  PC  sudah mantap dengan adanya DOS. Perubahan penting dari DOS ke&lt;br /&gt;Windows  adalah antara lain yang kita sebut sebagai GUI atau Graphical User&lt;br /&gt;Interface,  artinya,  bila sebelumnya pemakai hanya bisa berhubungan dengan&lt;br /&gt;mesin  dengan  mengetik  melalui  keyboard saja, maka mulailah dipopulerkan&lt;br /&gt;penggunaan  Mouse  sebagai  piranti interaksi yang powerful, serta tampilan&lt;br /&gt;yang   lebih  artistik  dan  "manusiawi"  karena  berbasiskan  grafis  yang&lt;br /&gt;full-colour,  tidak  hanya  teks  saja  serta  mendukung  multimedia. Dunia&lt;br /&gt;menjadi  lebih  indah  bagi pengguna komputer. Sejak itulah konsep komputer&lt;br /&gt;pribadi mulai berkembang pesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah   kira-kira   20   tahun  berlalu,  kini  Microsoft  mulai  kembali&lt;br /&gt;menciptakan perubahan besar di bidang interaksi manusia dan mesin/komputer.&lt;br /&gt;Inilah  yang  disebut  Bill Gates sebagai Natural User Interface (NUI). NUI&lt;br /&gt;akan  segera  masuk ke pasar diperkirakan akhir 2003 ini. Bentuk NUI adalah&lt;br /&gt;penggunaan suara sebagai satu interface utama dalam berinteraksi pada semua&lt;br /&gt;device  yang  menggunakan  Windows.  PC,  PDA, Tablet PC, hingga SmartPhone&lt;br /&gt;semuanya akan menggunakan NUI di samping GUI yang telah sangat maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  matangnya  piranti  lunak TTS (text to speech) serta ASR (Automatic&lt;br /&gt;Speech  Recogniser), maka speech sudah mulai dapat digunakan sebagai media.&lt;br /&gt;Dengan  TTS,  kita  bisa  "mendengarkan" e-mail yang masuk, artikel, agenda&lt;br /&gt;kerja,  dokumen,  dan  sebagainya saat kita sedang berada di jalan misalnya&lt;br /&gt;lewat  mobile phone. Sedangkan dengan ASR, kita bisa memerintahkan komputer&lt;br /&gt;untuk  membaca,  menulis, menjalankan aplikasi dan sebagainya melalui suara&lt;br /&gt;kita.  Dengan demikian, peran keyboard dan mouse mulai dapat dikurangi. ASR&lt;br /&gt;juga   telah  dikembangkan  melalui  aplikasi  Speaker  Verification  untuk&lt;br /&gt;memungkinkan  suara  manusia sebagai password secara biometric. Sudah sejak&lt;br /&gt;lama  suara  manusia,  retina  mata,  sidik bibir, dianggap sangat unik dan&lt;br /&gt;mulai  dikembangkan  sebagai  salah  satu  alternatif pengganti sidik jari.&lt;br /&gt;Inilah  yang  disebut  dengan  "Natural", interaksi dengan komputer menjadi&lt;br /&gt;lebih manusiawi dan dapat diajak "bercakap-cakap" seperti manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa dampaknya bagi kita? Sudah pasti digital divide akan semakin berkurang.&lt;br /&gt;Orang  semakin  mudah  berinteraksi dengan komputer. Orang yang buta, tuli,&lt;br /&gt;serta  buta  huruf  akan mempunyai kesempatan yang sama dengan orang normal&lt;br /&gt;untuk  berinteraksi  dengan  komputer. Bahkan bagi orang buta, akan semakin&lt;br /&gt;banyak informasi yang dapat diserap karena adanya pembaca dokumen otomatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset  Microsoft tentu dilatarbelakangi oleh banyak hal. Salah satunya yang&lt;br /&gt;terpentiing  adalah  dari  kenyataan  bahwa  berbicara lebih cepat daripada&lt;br /&gt;mengetik.  Sejak  PC  ditemukan,  teknologi  baru dapat menghasilkan solusi&lt;br /&gt;mengetik  yang  lebih cepat daripada menulis manual. Sedangkan kini, dengan&lt;br /&gt;majunya     riset     di    bidang    Artificial    Intelligence    (Speech&lt;br /&gt;Analysis/Recognition  dan  Speech  Synthesis),  didukung  sepenuhnya dengan&lt;br /&gt;semakin  cepatnya  prosesor  komputer,  membuat  speech menjadi solusi baru&lt;br /&gt;dalam berinteraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu  kemudian  bila  Speech sudah bisa menjadi andalan, interface apa yang&lt;br /&gt;lebih  cepat  dari suara sebagai media interaksi? Tentunya pikiran. Di masa&lt;br /&gt;mendatang,  mungkin  komputer malah sudah bisa secara otomatis "memutuskan"&lt;br /&gt;untuk  melakukan  sesuatu  tanpa  harus  disuruh, dengan memperhatikan pola&lt;br /&gt;berfikir  dan  pengambilan  keputusan  kita  sebelumnya.  Kita  tunggu lagi&lt;br /&gt;kemajuan  AI  di bidang personal knowledge management serta personal expert&lt;br /&gt;system.  Yang terakhir ini akan me-manage serta merekam seluruh reaksi kita&lt;br /&gt;terhadap  suatu  aksi.  Kemudian  akan  menghasilkan secara reaksi otomatis&lt;br /&gt;berdasarkan pola-pola sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-108425472465050799?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108425472465050799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108425472465050799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2004/05/gui-vs-nui.html' title='GUI vs NUI'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-10797462303520238</id><published>2004-03-20T08:29:00.000+07:00</published><updated>2004-05-11T16:37:57.800+07:00</updated><title type='text'>Firstly...</title><content type='html'>Hi Everyone,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This is the day one of creating my personal blog here...&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-10797462303520238?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/10797462303520238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/10797462303520238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2004/03/firstly.html' title='Firstly...'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-108425245146313911</id><published>2003-12-08T12:13:00.000+07:00</published><updated>2004-05-12T14:45:54.310+07:00</updated><title type='text'>Soto Semarang </title><content type='html'>Yang namanya Soto bagi orang Semarang adalah sudah pasti sajian masakan dalam mangkok yang tidak sebegitu besar, suwiran ayam tidak terlampau banyak dalam kuah bening (bukan santan), dengan nasi yang juga tidak terlalu banyak. One-size-fits-all, nggak perlu ditanya mau pisah atau campur nasinya, atau kuahnya mau yang santan atau bening seperti di warung2 Soto di Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan2 dari Jakarta pernah suatu kali berkomentar saat diajak makan Soto, Nasi Pindang, Sego Ayam, dan sajian khas Semarang lainnnya, katanya nasinya "sedikit amat, jadi nggak kenyang2". Mereka makan dengan lahap dan cepat, layaknya hidup di Jakarta yang semuanya serba cepat. Wah, saya jawab sekenanya, orang Jawa makannya pelan-pelan dan makanannya harus dinikmati dengan pelan-pelan pula. Kasarnya, yang makan bukan perutnya saja, tapi juga perasaannya, makan pakai perasaan - nantinya sang kenyang akan datang sendiri, hahaha... karena nasinya lebih dulu *mbededheg* di dalam perut sebelum meninggalkan rumah makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa nasinya tidak terlalu banyak? bukan karena orang Jawa makannya sedikit, atau sok-sok-an sedikit, tetapi lebih karena "adds-on" (sidedish, lauk tambahan) yang lebih menggairahkan daripada sotonya sendiri. Bagi orang Semarang, makan Soto Ayam itu artinya harus nambah Perkedel, Tempe Goreng, Sate Kerang, Sate Dideh/Saren (darah ayam/sapi), Sate Telor Puyuh, Sate Ayam, Sate Brutu, Telor Pindang, Tahu, sampai bermacam2 krupuk (krupuk bawang, krupuk udang, krupuk mie) dan lain-lainnya. Sotonya sendiri sebagai main course malah menjadi kurang seksi dibanding sidedish-nya. Penyajian sidedish inipun kadang-kadang unik, setelah dipilih bisa dipotong2 diletakkan dalam mangkok kecil diberi brambang goreng (bawang merah goreng) dan kecap manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturan yang hampir mirip tidak berlaku hanya bagi Soto Ayam, tapi juga rata-rata sajian makanan  lain seperti nasi Pindang dengan tambahan Rambak dan Jerohan Sapi lainnya, Nasi Pecel dengan Gorengan Jerohan Sapi dan Ayam, Bakwan, Tahu, Tempe, Sate Keong (yg ini benar2 khas Semarang), Karak Gendar, Martabak, dll. Sidedish is a must!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta, sulit sekali bagi orang Semarang menemukan Soto Ayam yang otentik dari Semarang (tentu saja yang otentik di sini maksudnya "sidedish"nya). Yang mendekati Soto Semarang adalah varian Soto Kudus Blok M, walaupun sidedishnya tidak 100% sama. Sotonyapun agak lain dan tidak ada penyajian seperti di Semarang yang memakai kecap dan bawang goreng tadi. Soto Selan di Kelengan Kecil dekat rumah saya di Semarang buka juga di Pintu Air dekat Pasar Baru, (ini adalah varian soto yang baru muncul di Semarang sekitar 1990-an, dan cukup banyak peminatnya di Semarang) tidak menyediakan sidedish seperti itu. Di Semarang yang terkenal antara lain: Soto Bokoran, Soto Kranggan, Soto Pak No Thamrin, Soto Brewok Gang Warung, Soto Ijo. Soto Bangkong rasanya terlalu modern (maaf ini opini pribadi), di Semarang sendiri setahu saya tidak banyak orang Semarang yang makan di Soto Bangkong, karena di setiap sudut kota ada macam2 Soto sehingga mereka punya preferensi pribadi. Pengunjung Soto Bangkong malah kebanyakan pendatang dan pelancong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Semarang juga menemui kesulitan karena rata2 Soto di Jakarta adalah Soto dari Jatim (Lamongan, Ambengan, Sulung) yang walaupun disajikan dalam kuah bening dan encer seperti Soto Semarang, tetapi dicampur dengan krupuk udang yang jadi kental, demikian juga rasanya terlalu asin. Dan terlebih penting lagi, sepi sidedishnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menarik di Gading Serpong, sejak sekitar 9 bulan yang lalu, ada penjual Soto lengkap dengan angkringnya, buka di pinggir jalan di bawah pohon2 teduh. Ditulisnya dalam spanduk "Soto Bonang" tanpa embel2 apapun. Karena penasaran, suatu kali kami mencoba makan, ternyata dia menjual Soto Ayam Bening model Tulungagung. Alhasil, Bonang ternyata singkatan dari Bojong Nangka tempat ia tinggal. Ia cukup pandai menciptakan kebingungan pasar sehingga banyak yang makan di situ karena penasaran, ini jenis soto apa. Dan saat saya tanya mengapa tidak menuliskan Soto Ayam atau Sidedishnya supaya diunggulkan, jawabannya adalah seperti layaknya seorang brand manager, ia inginkan brand Soto Bonang yang melekat kuat sebagai merek (Jadi ingat tulisan Mr. Bond 10 tahun lalu dalam KIAT 1 mengenai beda produk dan merek...). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajian sotonya dilengkapi seledri yang cukup banyak, jenis tauge yang ujung kepalanya besar2 tapi pendek, kacang tanah goreng, dengan ayam kampung. Tidak seperti Soto Jawa timuran yang lain, Soto ini lebih mirip Soto Semarang/Kudus yang lebih manis, kuahnya berwarna coklat dan bukan kekuningan. Sidedishnya lumayan sebagai "tombo kangen" karena ada perkedel, tahu goreng, tempe goreng, sate telur puyuh. Dan ini yang paling unik, pada kunjungan ke sekian kali berikutnya si penjual yang mengetahui saya orang Semarang, malah tiba-tiba tanpa dipesan, menyodorkan dua tahu goreng yang sudah dipotong2, diberi bawang goreng, kecap manis, seledri, tauge dan kacang, menyuruh saya mencoba! dan saat saya membayar, dia katakan bahwa tahu goreng tadi gratis alias complimentary... :) terus terang saya kaget dan kagum sekali,... penjual ini cepat belajar dan mungkin "mengerti" kebutuhan pelanggan2nya orang-orang Semarang pemakan Soto yang seperti kehilangan jatidiri saat pindah ke Jakarta :) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia belajar dari pelanggan lain dari Semarang yang lebih cepat dari saya secara kreatif mengajarkan "a la Semarang" dalam menghadirkan sidedishnya. Kali berikutnya, ia selalu berinisiatif menawarkan "ajeng dipotong lan dipuruni bawang kalihan kecap punapa mboten?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam nostalgia untuk penghuni milis Jalansutra yang berasal dari Semarang, terutama yang sudah jauh di luar negeri, antara lain Pak John, Widia, Yohan(?), dan tentu saja Mr Bond. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hannysan-Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- Mengapa orang Semarang suka makan enak? &lt;br /&gt;Saat seorang Semarang suatu hari ditanya mengapa makan siang harus enak? &lt;br /&gt;dijawabnya "Karena hari ini makan siang hanya sekali" &lt;br /&gt;demikian pula saat ditanya tentang makan malam. :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-108425245146313911?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108425245146313911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108425245146313911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2003/12/soto-semarang.html' title='Soto Semarang '/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-108425272402993609</id><published>2003-07-14T12:17:00.000+07:00</published><updated>2004-05-12T14:41:02.786+07:00</updated><title type='text'>BiNusian Only: Rumah Makan a la New Economy</title><content type='html'>Pertama-tama, saya perlu sampaikan kekagumanku yang paling dalam, karena kali ini Furry tidak mengada-ada seperti yang saya duga sebelumnya (dan seperti biasanya ia lakukan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu Furry mengatakan ada warung makan enak yang disebutnya "sesuatu" itu sebagai warung makan Solo (masakan Solo) di dekat kampus anggrek, lokasinya Ayam Penyet maju lagi lalu belok kiri, belok kanan dst...  masuk gang yang panjang dan berkelok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang menakjubkan, WM Solo ini ternayat benar-benar ADA dan bukan sekedar imajinasinya Furry belaka! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas menunya memang seperti Warteg biasa, standar sekali (mungkin karena liburan mhs). Ada telur diolah berbagai macam (telur bulat pedas/balado, telur opor, telur dadar kering, telur dadar kuah semur), ayam segala rupa (opor, semur kecap manis, goreng kering), tahu-tempe (opor), capcai jawa, tempe goreng ala mendoan, kering tempe (atau kate org-org betawi jadi salah kaprah dikasih nama "orek"), perkedel, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling menarik dari WM ini adalah: prasmanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si pembeli mengambil sendiri semuanya, mulai dari nasi, sampai lauknya. Sementara itu si penjual dimana? di samping pembeli yang mengambil makanan seperti di WM-WM lainnya selama ini? itu sih kuno... si penjual tidak ambil pusing dan ngumpet di dapur, kita dibiarkan comfortable ngambil semuanya sendiri...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang paling unik lagi, setelah makan baru bayar, tidak ada screening otomatis si penjual tidak pernah meneliti apakah pembelinya makan sesuai dengan yang dibayarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diberi kepercayaan penuh semacam ini, kita malah jadi nggak enak ya... tapi patut dihargai "rasa kepercayaan" yang diberikan si penjualnya ini. Sangat memberikan kenyamanan yang luar biasa buat si pembeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang cocok warung makan ini untuk yang sering lupa, tak heran cik Furry yang pelupa seneng makan di sini... hehehe... bisa murah terus tuh makannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Try WM Solo, you'll find a totally different eating experience around campus.... benar-benar seperti makan di rumah sendiri... feels like home...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In this new economy, customers need more flexibility, memilih sendiri apa yang dia inginkan, tanpa harus selalu dimata-matai si penjual...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That's why eating in this WM is like buying something at a dot-com like Amazon...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produknya boleh Brick-and-Mortar, tapi servisnya ala Click-and-Mortar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regards,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hannysan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-108425272402993609?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108425272402993609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108425272402993609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2003/07/binusian-only-rumah-makan-la-new.html' title='BiNusian Only: Rumah Makan a la New Economy'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-108426625957029745</id><published>2003-07-11T16:03:00.000+07:00</published><updated>2004-05-11T16:04:19.570+07:00</updated><title type='text'>Mass Customization </title><content type='html'>Sejak akhir 2002 lalu, di Amerika, mulai banyak perusahaan dotcom ataupun perusahaan bricks-and-clicks yang mulai menuai untung. Tak kurang Amazon hingga Search engine macam Google dan Overture mulai mendulang laba. Tak kurang perusahaan konvensional (bricks-and-mortar) pun juga telah mulai memakai Internet untuk melakukan mass customization (MC) – satu lagi dukungan TI untuk bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pernah makan permen coklat mini M&amp;Ms buatan Amerika? Semua permennya mempunyai stempel logo khusus huruf ”m”. Khusus bagi pelanggan melalui web, mereka menawarkan produk dengan warna-warna khusus yang dapat dipesan dari 21 pilihan warna yang unik. Beberapa tahun yang lalu pembeli bisa membeli produk khusus ini, tetapi dalam ukuran besar sekitar 18 kilogram. Tetapi saat ini pembeli dapat membeli dalam ukuran yang lebih manusiawi. Pembeli dapat memilih sendiri kombinasi warna yang diinginkan, misalnya untuk event-event anniversary, reuni sekolah, dll. Dengan harga 3 kali lipat dari harga biasa. Ke depan, pembeli dapat memilih gambar dan logonya sendiri untuk dicetak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam marketing modern kita mengenal teori yang mengharamkan produk kita menjadi komoditas. Menjadi komoditas menjadi suatu kerugian karena akan dianggap sama dengan produk pesaing. Padahal untuk memenangkan persaingan, suatu produk harus mempunyai diferensiasi yang membedakannya dengan pesaing. “Getting out of the crowd” atau “Dare to be different” adalah mantra-mantra pendukung teori itu. Hal ini juga diperkuat pakar manajemen strategik Michael Porter yang di tahun 80-an melalui teorinya yang terkenal -- dan masih dipakai sampai sekarang ini – bahwa untuk memenangkan persaingan, salah satu caranya adalah melakukan diferensiasi produk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa revolusi industri, timbul istilah mass commoditization. Suatu barang diproduksi besar-besaran dalam pabrik, menggunakan ban berjalan, kemudian dipasarkan melalui pasar normal. Metode one-size-fits-all ini juga diyakini dapat menekan biaya produksi karena semua barang yang diproduksi sama sehingga tidak membutuhkan ketrampilan khusus untuk membuat produk yang berbeda, sehingga proses kreasinya lebih cepat. Namun kelemahannya, barang yang diproduksi dapat saja tidak laku di pasaran karena pada dasarnya setiap pribadi adalah unik dan tidak dapat semuanya dipaksa untuk membeli barang dengan atribut sama. Di awal tahun 1900-an, Ford adalah perusahaan mobil pertama di Amerika yang hanya menawarkan mobil warna hitam dan hanya satu model saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era ekonomi baru yang banyak dibantu oleh TI ini, fenomena mass commoditization telah bergeser ke MC. Dengan TI, MC mampu menciptakan produk sesuai kebutuhan unik masing-masing pelanggan. Bahkan pelanggan dapat mengatur sendiri atribut dan parameternya sendiri-sendiri. Dell mampu melayani macam-macam konfigurasi yang dibutuhkan pelanggannya hingga 16 juta permutasi atas opsi ukuran memori, hard disk, modem, monitor, dll; hingga opsi harga, cara pengiriman. Karena komputer baru dirakit setelah order diterima,  maka stok barang di Dell nyaris nol, dan nyaris tidak ada barang retur karena semua barang dibuat sesuai permintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MC juga terjadi di perusahaan pakaian, di Lane’s End dan Nike pelanggan dapat memesan sepatu atau celana panjang dengan ukuran yang tepat, karena barang diproduksi setelah dipesan. Lagi-lagi dengan harga yang sedikit lebih mahal. Di Staples, pelanggan dapat memilih bahan kain dan warna kursi yang dipesan. Demikian pula saat kita memesan shampoo di Reflect.com, kita dapat memesan sendiri aroma dan kandungan yang dipilih. Tulisanpun dapat di-customized. Novelis horor Stephen King menerapkan semi MC dengan cara mempublikasikan The Plant yang diselesaikan bab demi bab sambil memperhatikan saran-saran pembacanya melalui milis! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi produk makanan dan minuman agak sulit diterapkan MC. P&amp;G gagal dengan Milestone Coffee-nya. General Mills gagal pula dengan cerealnya. Karena pelanggan mendapatkan produk yang tidak sesuai dengan selera yang digambarkan dan diinginkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, MC makin marak dipraktekkan, selain untuk memanjakan pelanggan guna memenangkan persaingan, yang lebih penting lagi adalah juga untuk meningkatkan pendapatan. Di Dell, MC juga dapat memangkas biaya operasi produksi. Yang terpenting, dengan MC maka barang yang dijual bernilai lebih tinggi untuk mengincar ceruk pasar tertentu. Di Amerika para pengamat yakin target market untuk pasar ini adalah hanya 30% saja dari para pengguna Internet. Namun yang perlu diingat, untuk melakukan MC tidak mudah. Nike saja membutuhkan 6 bulan untuk mem-BPR bagian produksinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tanpa TI, apakah mungkin semua keunggulan bisnis ini tercipta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-108426625957029745?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108426625957029745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108426625957029745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2003/07/mass-customization.html' title='Mass Customization '/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-108426632032977438</id><published>2003-07-02T16:04:00.000+07:00</published><updated>2004-05-11T16:05:20.330+07:00</updated><title type='text'>e-Procurement: Bisakah?</title><content type='html'>&lt;em&gt;(dimuat di SWA Juli 2003)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdagang tanpa modal? Kok bisa? Tak perlu lagi modal untuk “kulakan”. Semakin banyak ”hutang” berarti semakin kaya. Hebat bukan? Apalagi yang aneh di jaman ekonomi baru ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pedagang biasanya tahu benar arti “kulakan”. Business Life-Cycle mereka adalah membeli barang dagangan dengan modal yang dikumpulkan, lalu barangnya dijual ke pelanggan. Hasil penjualan akan dikumpulkan untuk ”kulakan” - membeli barang lain, dijual lagi dan demikian seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Dell dan Amazon yang hebat dalam proses procurement. Coba perhatikan uraian berikut. Dell dan Amazon mampu mengendalikan stok yang minimum di gudangnya walaupun transaksi perdagangan yang mereka lakukan senantiasa bertambah. Sebaliknya mereka mengembangkan sistem e-procurement dengan para supliernya. Dell mengembangkan e-procurement untuk sejumlah supliernya. Mereka senantiasa diberi informasi secara elektronis  mengenai komponen yang diperlukan Dell – berikut perubahan-perubahan trend dan preferensi pelanggan Dell – sehingga persediaan stok menggunakan metode Just-In-Time. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amazon mempunyai relatif lebih banyak suplier, dengan memiliki sistem procurement yang baik, maka semua wholesalers dapat dihubungi secara online bila ada pesanan masuk. Akibatnya Amazon tak perlu memiliki showroom yang lux dan mahal di pusat kota, sebaliknya cukup memiliki gudang yang terbatas luasnya di pinggiran kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat dari dua ilustrasi di atas, maka selain secara efisien mereka dapat menekan biaya inventory dan komunikasi dengan para supliernya, bisa dikatakan keduanya mempunyai modal/kapital yang “negatif” karena pelanggan justru harus membayar mereka terlebih dahulu sebelum mereka membayar supliernya. Semakin banyak “hutang” nya, semakin kaya Amazon dan Dell menangguk untung, karena semakin banyak hutang berarti semakin banyak customer menjalin transaksi. Saat transaksi “deal” maka Amazon dan Dell segera menghubungi suplier melalui sistem e-procurementnya, terutama saat barang atau komponen stoknya habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah e-Procurement berasal dari procurement yang merupakan proses pembelian, “kulakan”, baik produk maupun jasa. Setiap perusahaan biasanya membelanjakan sebagian dari modal atau hasil penjualannya untuk membeli ataupun menyewa bahan mentah, bahan baku maupun jasa yang diperlukan untuk kelancaran proses produksi serta aktivitas-aktivitas lain seperti transportasi, edukasi, iklan, dan sebagainya. Istilah procurement sendiri sebenarnya lebih banyak dipakai oleh biro pemerintahan. Sedangkan “purchasing” lebih sering dipakai oleh perusahaan. Lain lagi dengan dunia akademis-bisnis yang lebih sering memakai istilah “Inbound Logistics” yang dipakai pakar konsep manajemen strategik Michael Porter. Ketiganya setali tiga uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ternyata, seiring dengan perkembangan teknologi Internet, istilah “procurement” ternyata lebih mendapatkan kesempatan untuk naik daun untuk semua institusi, sehingga yang sering kita dengar adalah “e-procurement”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas Procurement sangat penting dari trilogi proses supply chain management (SCM). Setelah procurement, maka dilanjutkan dengan proses manufacturing untuk mengolah barang, dan akhirnya dilanjutkan dengan distribution. Dalam perusahaan manufacturing, procurement adalah proses utama untuk memasok barang mentah dan bahan baku yang kemudian diolah/diproduksi untuk menghasilkan barang jadi. Dalam perusahaan jasa, procurement lebih dikaitkan dengan pengadaan bahan/jasa yang mendukung resources lain dalam organisasi, misalnya pelatihan, alat tulis kantor, iklan. Inilah yang disebut dengan Non Product Related expenditures (NPR). Survei Booz Allen &amp; Hamilton mengungkapkan rata-rata perusahaan mempunyai anggaran untuk membeli NPR ini sebesar 20-25% dari sales yang dibuatnya. Dengan e-procurement yang efektif, maka penghematan bisa mencapai 15-25% dari anggaran yang ada, atau sekitar 2-4% dari salesnya. Oleh sebab itu sudah sewajarnya bila dapat dikatakan bahwa semakin besar perusahaan maka semakin besar pula anggaran belanjanya dan semakin banyak item barang yang dibeli. Seringkali divisi procurement merupakan divisi yang stafnya berjumlah banyak karena memegang peranan penting dalam menentukan proses selanjutnya dalam perusahaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Procurement diharapkan menghasilkan barang yang baik dan pengiriman yang tepat waktu. Tetapi di perusahaan yang besar anggaran belanjanya adalah alih-alih mendapatkan barang yang baik atau pengiriman tepat waktu, maka yang terjadi justru adalah barang yang didapat kemahalan, kurang berkualitas, dikirim terlambat. Itupun diperoleh dengan birokrasi yang rumit, makan waktu dan biaya. Hal ini karena kompleksnya organisasi yang membutuhkan banyak barang dan banyaknya tipe barang yang dibeli. Seringkali staf procurement telah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan barang sehingga mereka tak punya waktu untuk memeriksa kualitas barang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya e-procurement yang baik, melalui e-auction, maka staf procurement akan lebih fokus menyeleksi kualitas barang dibanding harganya. Perusahaan dapat memilih barang dari ratusan vendor yang terhubung, mampu mensortnya berdasarkan preferensi tertentu, bahkan dapat memesan secara otomatis kapan saja saat dibutuhkan (24X7). Posisi administratif dapat dikurangi dan kesalahan tulis manual dapat dikurangi. Secara efisien biaya berkomunikasi berkurang karena semuanya online. Birokrasi berbelit dalam perusahaan dapat dikurangi karena information streamlining melalui aplikasi workflow. Disintermediasi otomatis terjadi pula. Dari segi fungsi, E-procurement dipandang sebagai generasi pengganti EDI (electronic data interchange), tetapi karena menggunakan Internet maka biayanya jauh lebih murah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa contoh lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Ford, DaimlerChrysler dan GM misalnya, dapat mengakses portal terintegrasi (infomediary) Covisint.com yang menghubungkan mereka dengan para suplier besar seperti Johnson Controls, Delphi, Visteon dsb. Aneka kebutuhan pertukaran informasi, desain, lelang, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* IBM di tahun 1999 memenangkan “Chairman’s award” karena mampu menghemat $240 juta dari $11 miliar pengeluaran melalui e-procurement. Lebih dari 6700 suplier tersambung ke jaringannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa implikasi negatif e-procurement? Selain investasinya mahal, infrastruktur suplier yang tidak kompatibel, maka bagi suplier, bisa jadi e-procurement dianggap menumbuhkan monopoli. Namun, nampaknya e-procurement sejalan dengan “hemat pangkal kaya”. Dengan e-procurement, perusahaan bisa berhemat. Memperbaiki bottom-line kan tak harus dengan menambah sales, tetapi bisa pula dengan mengurangi pengeluaran? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-108426632032977438?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108426632032977438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108426632032977438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2003/07/e-procurement-bisakah.html' title='e-Procurement: Bisakah?'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-108426448051040749</id><published>2003-05-08T15:34:00.000+07:00</published><updated>2004-05-12T14:38:44.280+07:00</updated><title type='text'>BiNusian Only: History of Food Industry Around BiNus </title><content type='html'>Tak banyak pilihan tempat makan yang menyediakan makanan yang "bersih",&lt;br /&gt;sehat, bernuansa kafe dengan harga miring seperti ini di sekitar Kampus&lt;br /&gt;Syahdan dan Anggrek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraknya industri makanan di sekitar kampus dengan nuansa warung, ruman&lt;br /&gt;makan kecil rumahan seperti Sola Gratia, Nusa Indah, Jatim Group, Adi Jaya,&lt;br /&gt;Ortega, Medan seberang kampus dan Arema, adalah pemain-pemain lama yang&lt;br /&gt;mendominasi daerah sekitar kampus. Terkecuali Ortega - mereka rata-rata&lt;br /&gt;pemain lama yang mempunyai pangsa pasarnya sendiri dengan jam terbang&lt;br /&gt;sekitar 5 - 15 tahun di sekitar Kampus. Adi Jaya dan Petojo misalnya, malah&lt;br /&gt;didirikan sebelum ada kampus syahdan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemain-pemain lama seringkali sangat arogan dan menjadi penentu pasar.&lt;br /&gt;Barometer kenaikan harga. Dahulu, bila ingin mengetahui kenaikan harga&lt;br /&gt;makanan penyebabnya apa, sangat mudah ditebak. Selalu bermuara pada naiknya&lt;br /&gt;harga di RM Medan depan kampus dan Adi Jaya! Inilah biang keladi "high cost&lt;br /&gt;economy" di sekitar kampus! setelah sehari mereka naik, semuanya ikut naik&lt;br /&gt;- kadang-kadang tanpa sebab yang jelas :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Galeri" warung makan 888 alike mulai masuk sekitar tahun 1991-an dengan&lt;br /&gt;lokasi tepat di depan kampus syahdan. Food chain 888 ini menawarkan&lt;br /&gt;keleluasaan customer mengambil sendiri jenis makanan dan sizenya. Agak&lt;br /&gt;revolusioner pada jamannya setelah bisnis model yang sama pernah&lt;br /&gt;dipraktekkan rumah makan yang cukup berhasil juga - RM Cowboy - di samping&lt;br /&gt;kampus syahdan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan beberapa trend warung Indomie mulai raib dan pindah ke pinggiran,&lt;br /&gt;terampas oleh investor bermodal lebih besar yang merenovasi tanah-tanah&lt;br /&gt;hunian semi komersial menjadi industri lain seperti wartel (dulunya Indomie&lt;br /&gt;Pak Karna - dulu kita mengenalnya sebagai STMIK - Susu Telur Madu Indomie&lt;br /&gt;Kacang ijo), ataupun tetap menjadi rumah makan menado di jalan U.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RM Goyang lidah yang sangat larispun karena sangat enak masakan Gudegnya&lt;br /&gt;dan Ayam Bakarnya, terpaksa tergusur karena tingginya biaya sewa, dan&lt;br /&gt;akhirnya menyerahkan kepada Bakmi Bethania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RM Bahagia, Sakura, dan Asta Karya merupakan pendatang di sekitar 1995.&lt;br /&gt;Asta Karya merupakan hasil diversifikasi produk dari fotokopi yang kemudian&lt;br /&gt;beralih ke industri perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ortega menyeruak merebut pasar bersaing di lapisan low end, seperti&lt;br /&gt;Warteg-warteg lain, dengan target pasar serta jenis makanan yang sedikit&lt;br /&gt;berbeda dengan warteg kebanyakan. Dengan pilihan ragam makanan yang puluhan&lt;br /&gt;banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena Padang juga makin menancapkan kukunya dengan hadirnya "Padang&lt;br /&gt;Jauh" - yang rasanya jauh lebih berkualitas ketimbang Padang2 yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima belas tahun yang lalu kita masih bisa menikmati rumah makan Tens, yang&lt;br /&gt;kini menjadi fotokopi Queen. Tens adalah state-of-the-art pada jamannya.&lt;br /&gt;Makanan yang dijual sangat berkualitas baik, makanan restoran. First class&lt;br /&gt;quality chinese food. Tetapi akhirnya tutup juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RM Palembang yang menempati bekas lokasi Sola Gratia 15 tahun yang lalu-pun&lt;br /&gt;tutup, sedangkan kokinya beralih majikan ke RM 168 di seberangnya.&lt;br /&gt;Sebelumnya sang koki ini menjadi pegawai RM Fuji di seberang ujung Sandang.&lt;br /&gt;RM Fuji, RM Petojo, Kwetiau Sapi depan WRI adalah model-model RM&lt;br /&gt;"made-to-order" di sekitar kampus. Kita bisa customized sesuka kita&lt;br /&gt;(misalnya Nasi Goreng Telur Sayur di Petojo Tanpa Daging, hmmm.... nyam!&lt;br /&gt;untuk vegetarian, atau Nasi Putih + Capcay Sayur tanpa Daging yang ukuran&lt;br /&gt;sayurnya bisa 3 X kali lipat lebih banyak)  Berbeda dengan RM lain yang&lt;br /&gt;relatif bermodelkan "mass commoditization", masak dulu, laku untuk hari ini&lt;br /&gt;silakan, tidak laku untuk "stock" hari kemudian. Contohnya 888, warteg,&lt;br /&gt;ortega, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara RM Bakmi Bangka menemukan kembali jatidirinya (setelah kehilangan&lt;br /&gt;pasar di tahun 1990-1993, karena kalah dibanding rival terdekatnya - Bakmi&lt;br /&gt;Gendut - yang kini sudah tutup menjadi RM Patin) dan Bakso Makaliwe Grup&lt;br /&gt;mulai masuk sejak 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir paruh kedua dekade 1990-2000, lokasi rumah makan semakin meluas ke&lt;br /&gt;tempat-tempat jauh, karena lokasi dekat kampus sudah dihuni para pemain&lt;br /&gt;lama (bricks and mortar) business. Hal ini sebenarnya sangat merugikan bagi&lt;br /&gt;kita para customers untuk mendapatkan nuansa baru baik dari segi&lt;br /&gt;kenyamanan, pilihan makanan maupun kebersihan dan estetika lokasi&lt;br /&gt;interiornya yang kurang nyaman. Rata2 pemain lama memang menang lokasi,&lt;br /&gt;manajemen operasinya serta logistiknya masih konvensional. Lokasi mulai&lt;br /&gt;meluas hingga ke kampung2 (Haji Daud, Haji Senin, Jalan U)  ataupun jalan&lt;br /&gt;KH Taisir, jalan Kemanggisan - seiring adanya kampus Anggrek. Di kampung2&lt;br /&gt;kita mulai mengenal RM Pekalongan, Bakmi Aseng, Warteg Yana, Bakmi Vege,&lt;br /&gt;sampai dengan Ayam Bakar Suntik, Bahtera dan Kotabaru di Taisir, Lele Bakar&lt;br /&gt;di jalan U, RM Pits (almarhum, padahal model cafe lho!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampus Anggrek sendiri banyak sekali warung2 low-end extravaganza karena&lt;br /&gt;ada di sepanjang jalan anggrek cakra. Dikatakan low-end karena rata2 model&lt;br /&gt;"hardcore" gorengan seperti penyedia mie-nasi-goreng yang naudjubilah&lt;br /&gt;banyaknya... sangat komoditas! terakhir mereka mulai melakukan diferensiasi&lt;br /&gt;dengan adanya nasi goreng sosis, nasi goreng katsu, dsb. Rata2 bangunannya&lt;br /&gt;semi permanen. Jaringan Warteg mulai masuk kemari dengan Grup Tegal Bahari&lt;br /&gt;(Saroh) - 3 outlet ! dan Amin Makmur - 2 outlet!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industri makanan di Kampus Anggrek adalah industri kagetan. Sehingga lokasi&lt;br /&gt;dan bangunannyapun sangat kurang mendukung karena sempitnya lahan.&lt;br /&gt;Namun ekspansi terus berlanjut ke belakang - Ada cabang Adi Jaya, kemudian&lt;br /&gt;- terakhir menjadi Soto Kudus Ayam Kampung (tadinya warung ini berubah2&lt;br /&gt;pemilik mulai dari Mie Celor Jambi, dll). Di anggrek ada 2 food court semi&lt;br /&gt;permanen, lokasinya di depan Ayam Penyet, dan satu lagi di depan pintu&lt;br /&gt;keluar/masuk parkir mobil. Tapi makanannya sangat grass root sekali, dan&lt;br /&gt;rata2 mereka hanya memenangkan lokasi sedangkan dari segi produk sendiri&lt;br /&gt;sangatlah biasa - bergulat dengan gorengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, industri makanan di sekitar kampus sangat fragmented,&lt;br /&gt;sementara pemain2 lama masih menang secara lokasi, agaknya sulit sekali&lt;br /&gt;bagi pemain baru dengan produk baru dan manajemen yang lebih baik masuk ke&lt;br /&gt;pasar BiNus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revolusi Mulai Bergulir!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, di pertigaan jalan Kebun Jeruk dan Anggrek, dibangun Ruko2 baru&lt;br /&gt;yang menjulang tinggi! Biaya sewanya pasti mahal. Dua ruko itu sudah mulai&lt;br /&gt;membuka outlet. Tidak tanggung-tanggung, keduanya mempunyai interior dan&lt;br /&gt;display seperti Kafe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya, SDC, adalah resto Fried Chicken franchise dari Taiwan, Di&lt;br /&gt;Taiwan nomor 1 adalah sesumbarnya. Suasana Interiornya cukup unik. Bersih,&lt;br /&gt;logo dengan warna merah putih mengingatkan kita pada KFC. Harganyapun hanya&lt;br /&gt;sedikit di bawah KFC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satunya lagi sebenarnya adalah pokok pembicaraan kita kali ini - Coco Mie -&lt;br /&gt;yang mengiklankan dirinya Resto Kafe - Noodle - Nasi dan Steak. Sudah buka&lt;br /&gt;cabang di Bogor dan Jakarta. Di Anggrek adalah outletnya yang ketiga.&lt;br /&gt;Displaynya model resto chinese food di foodcourt mal-mal Jakarta. Seperti&lt;br /&gt;di Spice Garden Sogo ataupun Plasa Indonesia dan Plasa Senayan. Kita bisa&lt;br /&gt;pilih nasi dengan 1/2/3 sayur/lauk. Juga Mie Kangkung dan Mie Komplit.&lt;br /&gt;Rasanya cukup semarak, seperti Chinese Food Canton. Pilihan masakannya&lt;br /&gt;beragam dan selalu hangat, misalnya Sapo Tahu, Kwetiau Goreng Sechuan, Ayam&lt;br /&gt;Lapis Ham, Nasi Goreng Ikan Asin, Sup Mapo Tahu, Sapi Lada Hitam dsb.&lt;br /&gt;Makanan dapat dipilih melalui kaca etalase lebar dengan lampu neon yang&lt;br /&gt;sangat terang. Manajemennya cukup profesional untuk restoran seukurannya&lt;br /&gt;yang sangat kecil: telah memakai cash register. Harganya sangat terjangkau&lt;br /&gt;karena semboyannya adalah "harga kaki lima" dengan kualitas restoran besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya patut dicoba !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Postscript: Tidak dapat bertahan lama, 3 bulan setelah tulisan ini, keduanya sudah tutup!&lt;br /&gt;SDC kembali buka awal tahun 2004 dalam kapasitas yang amat dipaksakan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-108426448051040749?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108426448051040749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108426448051040749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2003/05/binusian-only-history-of-food-industry.html' title='BiNusian Only: History of Food Industry Around BiNus '/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-108435195125618496</id><published>2003-01-12T15:43:00.000+07:00</published><updated>2004-05-12T15:54:17.160+07:00</updated><title type='text'>Menyingkirlah CEO Gaptek (Dinosaurus?)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Catatan: &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Mohon maaf apabila judul artikel ini dirasakan terlampau offensive, karena saya diminta secara khusus oleh Warta Ekonomi untuk menulis artikel dengan judul yang sudah given seperti ini. Isi dari Artikel ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan kelompok-kelompok tertentu. Judul yang provokatif hanyalah dimaksudkan untuk menarik minat pembaca serta memberikan "early warning sign" untuk para CEO.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dimuat di Edisi Khusus Warta Ekonomi Januari 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;blockquote&gt;“An institution is the lengthened shadow of one man.” – Ralph Waldo Emerson&lt;/blockquote&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Booming dotcom (B2C) dan dotcorp (B2B) di Indonesia telah berlalu sambil menyisakan CEO-CEO yang putus harapan ditandai dengan cukup banyaknya portal-portal besar yang mulai tutup maupun sudah mengurangi stafnya. Bahkan B2B yang diharapkan bercerita banyak sebagai pilar ekonomi baru juga tak kunjung memunculkan hasil yang istimewa. Justru banyak proyek B2B ataupun proyek TI perusahaan Brick and Mortar yang gagal. “The long and winding road” - jalan menuju ke sana memang masih jauh dan berliku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda sedang menerapkan proyek TI, Anda harus waspada pada hal-hal berikut ini. Tahukah Anda berapa persen kegagalan implementasi software ERP, SCM, CRM di seluruh dunia? Rata-rata survei menghasilkan lebih dari 50%, bahkan sampai 70% tingkat kegagalan implementasi. Dalam banyak tulisan, angka 70% dapat dikatakan “standar” kegagalan yang telah diterima bersama dalam berbagai proyek TI. Standish Group menyatakan hanya 10% perusahaan yang berhasil menerapkan ERP, sedangkan sisanya? 35% proyek dibatalkan dan 55% mengalami keterlambatan. Meta Group menyatakan 55% - 75% proyek CRM gagal. CRM Forum menyatakan lebih dari 50% proyek CRM di US serta lebih dari 85% di Eropa dianggap gagal. Walaupun demikian, survei dari Morgan Stanley terhadap 225 CIO di awal tahun ini menunjukkan bahwa 80% dari mereka tetap merencanakan proyek TI baru di tahun 2002 dan banyak yang memprioritaskan CRM. ABN AMRO memprediksikan pangsa pasar CRM akan mencapai US$ 3,36 milyar di tahun 2003, naik 25.8% dari tahun 2002. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa tidak banyak berita tentang hal ini? Rata-rata perusahaan malu mengungkapkan detil kegagalan ini, karena akan menurunkan citra perusahaan dan mengecewakan para pelanggan dan shareholdersnya. Vendor dan consulting firm perusahaan ini juga rata-rata memilih diam daripada menanggung malu. Bagaimana dengan perusahaan di Indonesia? Nampaknya banyak perusahaan besar yang mengalami nasib tak jauh berbeda dengan yang di luar negeri: mengalami kegagalan implementasi setelah berinvestasi besar-besaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan implementasi TI tak lepas dari tanggung jawab CEO. Peran CEO adalah memberikan visi, arah bisnis dari suatu perusahaan, dan harus terus menjamin kelangsungan visi tersebut dilaksanakan melalui tindakan nyata dari seluruh organisasi yang dipimpinnya. Masalahnya, banyak CEO yang justru tidak mengerti manajemen TI sama sekali, dan yang menambah parah situasi adalah: banyak CEO yang benar-benar tak ingin tahu sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kelemahan CEO ini dapat diantisipasi dengan CIO yang menguasai bisnis maupun manajemen TI secara strategis. Dengan demikian, fungsi CIO akan menjadi liaison bagi CEO yang “gaptek” dengan staf yang “gapbis” (gagap bisnis). Kombinasi CEO-CIO yang serasi dan saling melengkapi merupakan syarat mutlak perusahaan TI yang ingin berhasil. Namun di Indonesia yang tersedia  justru CIO yang kurang mengerti bisnis dan manajemen TI yang baik dan hanya menguasai aspek teknis TI saja, serta CEO yang tidak tahu TI sama sekali dan hanya bertumpu pada modal besar belaka. Beberapa isu penting yang kadang terlewat dipikirkan para CEO tertulis dalam artikel berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Solution vs Enabler. Software SCM, ERP, CRM bukanlah software biasa. Bila di masa lalu software adalah solusi. Di masa kini, peran tersebut harus dibedakan dengan enabler. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai solusi, artinya software dibuat hanya untuk menjawab kebutuhan aplikasi otomatisasi perusahaan. Misalnya: dulu COBOL atau RPG dipakai untuk payroll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan enabler membutuhkan komponen-komponen lain yang harus mendukung TI untuk mencapai sukses. Komponen terpenting di sini adalah proses bisnis yang baik dan terdefinisi rapi serta komitmen semua lini terkait. Banyak CEO kurang paham mengenai hal ini dan menganggap bahwa nilai investasi yang besar untuk membeli software-software tersebut telah merupakan jaminan sukses software tersebut diiimplementasikan. CEO dan fungsional organisasi rata-rata kurang peduli dan menganggap cukup bagian TI sajalah yang harus sepenuhnya bertanggung jawab atas projek ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ERP bukanlah software biasa. Di dalamnya telah terdapat banyak proses bisnis built-in. Untuk meningkatkan proses bisnis supaya menjadi lebih baik, dibutuhkan koordinasi antara staf TI dan bagian-bagian terkait. Di sinilah dibutuhkan bantuan penuh peran manajemen masing-masing unit bisnis diperlukan untuk dapat mengevaluasi serta merancang ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SCM adalah business discipline – bukan software, sasarannya adalah untuk meningkatkan kualitas bahan baku/mentah dalam menciptakan produk perusahaan sembari meminimalkan biaya penangannya. SCM membutuhkan proses manufaktur dan distribusi yang kompleks, serta jaringan terhadap suplier kita, supliernya suplier, serta perusahaan pengiriman dan distribusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CRM merupakan suatu core business strategy untuk me-manage relasi dengan pelanggan sebagai aset berharga perusahaan. CRM melibatkan personalized marketing and service, mass customization, dan staf yang “cerdas” untuk mengoperasikan sistem supaya dapat tetap memelihara hubungan baik antara pelanggan dan perusahaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan persepsi ini menyebabkan banyak hal, fungsional organisasi membantu secara nonkomital, bagian TI yang kurang tahu proses bisnis menjadi bingung dan projek terlambat, perusahaan dan departemen TI sangat fokus mendewakan investasi TI-nya yang mahal dan menganggap semuanya akan beres, serta requirement definition yang tidak tuntas sehingga proses bisnis tidak teranalisis rapi. Ujung-ujungnya membuat implementasi yang tidak optimal maupun gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Digital Divide di Top Management. CEO harus memberikan komitmen untuk menganggap TI sebagai aset strategis karena peran TI tidak sama seperti masa sebelumnya yang cenderung memanfaatkan TI hanya sebagai fasilitas pelaporan dan penyimpan data saja. Komitmen ini harus dibuktikan dengan mencari seorang CIO yang kualifaid dan CEO harus lebih sering berkomunikasi dengan CIO mengenai strategi TI-nya. Jarak antara CIO dan CEO-pun sebaiknya maksimal dua dan CIO merupakan “top liutenant” serta termasuk dalam “board of directors” dalam perusahaan tersebut. Kerjasama CEO-CIO yang ideal harus seperti menari Tango. “It takes two to Tango”, begitu kata pepatah.  Hal ini mengingat TI telah dipandang sebagai fungsi strategis perusahaan yang dapat menaikkan competitive advantage seluruh fungsi lain, maupun core bisnis perusahaan itu sendiri. Solusi bisnis dengan menggunakan TI harus dipandang suatu solusi yang terintegrasi. TI tidak boleh dianggap hanya suatu tambahan yang opsional. CIO harus mampu menjelaskan implikasi-implikasi dan risiko bisnis terjelek yang mungkin muncul dari investasi TI yang sangat besar. Perlu pula dipahami sang CEO bahwa TI berkembang sangat cepat, sesuai Hukum Gordon Moore -- founder Intel –-  bahwa kecepatan prosesor minimal berlipat dua setiap 18 bulan. Resiko ini menyebabkan investasi komputer akan membuahkan mikroprosesor baru yang selalu muncul - cheaper, better, faster – setiap saat dan membuat investasi komputer menjadi obsolete dan hanya berusia 2 tahun dalam depresiasi keuangan perusahaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. One-Size-Fits-All is Impossible. CEO juga harus belajar mengerti bahwa setiap software yang dibeli (investasi TI) –- berapapun harganya –- tidak akan secara serta merta dapat menyelesaikan dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan serta proses bisnisnya. Dengan adanya fenomena ini maka software tersebut harus dicustomize sesuai kebutuhan, disempurnakan, digabungkan dengan software lain, bahkan kadang harus membeli software lain supaya dapat saling berinteraksi dan bermanfaat, sehingga investasi menjadi bertambah mahal sedangkan fungsinya belum tentu 100% sesuai yang diinginkan. Teknologi terbaru tidak selalu cocok dipakai dan bermanfaat tinggi. BCA misalnya, hingga saat ini masih cukup memakai sistem operasi DOS dan tidak perlu memakai aplikasi bersifat grafis (GUI) yang justru akan merepotkan dan mubazir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hindari Shelf-ware. CEO juga harus mengetahui bahwa nature dari industri TI adalah software yang “egois”, dikembangkan tidak berdasarkan kebutuhan bisnis seutuhnya. Justru sebaliknya, bisnislah yang justru harus menyesuaikan dengan TI. Bahkan software kadang telah terlanjur dibeli tetapi akhirnya tidak digunakan dan menjadi “shelf-ware”, karena hanya disimpan di “shelf” dan tidak digunakan lagi. Saat ini Microsoft sedang mengembangkan solusi untuk UKM yang lebih “manusiawi”. Dengan solusi ini maka perusahaan akan lebih mudah beradaptasi dengan software yang dibelinya karena software yang dijual bersifat generik, tetapi sangat mudah menyesuaikan diri dengan kebutuhan proses bisnis perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. “Different Impact for Different Companies”. CEO harus pula mengerti bahwa dampak yang diberikan investasi TI, tidak akan sama manfaat dan hasilnya bagi tiap perusahaan. Content management software untuk portal yang telah berhasil dan banyak dipakai di perusahaan lain, belum tentu cocok dan berkinerja bagus bila dipaksakan untuk diterapkan bagi portal kita. Software SCM, ERP ataupun CRM yang dipakai perusahaan Fortune 500 tidak akan bisa diterapkan langsung di perusahaan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat dari pembelian software yang dipaksakan, maka perusahaan kadang sibuk untuk memadukan (mengintegrasikan) komponen-komponen softwarenya supaya dapat saling berinteraksi. Usaha ini dipandang tidak masuk akal oleh sementara pakar TI. Belajar dari falsafah kran air panas misalnya, integrasi dilakukan di “last mile” ke pemakai air, bukan di bak penampung air ataupun lokasi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. The CIO Factor. Pemilihan CIO yang baik harus mempertimbangkan sisi kemampuan yang mumpuni. Tidak hanya mengerti skill teknis TI saja, tetapi harus menguasai manajemen TI dan manajemen bisnis secara umum yang mencakup banyak segi seperti masalah BPR (business process reengineering), sourcing, value creation dengan strategi TI, perhitungan finansial, unique content and product development, human resource manager yang baik supaya staf TI-nya kerasan, sampai kepada integrated marketing communication melalui multichannel media. Tak banyak CIO dengan spesialisasi ganda: manajemen umum dan manajemen TI. CIO berperan sebagai liaison sekaligus change agent, change driver maupun change surpriser dalam perusahaan melalui inovasi-inovasi produk dalam kaitannya untuk peraihan keunggulan kompetitif. Yang sering dilupakan CEO adalah: mereka mencari CIO sebagai “senior technical manager”, padahal CIO yang baik adalah justru seorang “senior business manager”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Unchanged Corporate Culture. Perubahan TI harus diikuti dengan perubahan cara pikir dan cara kerja perusahaan. CEO harus memperhatikan manajemen perubahan. Perubahan dengan menerapkan otomatisasi CRM misalnya, bukan lalu berarti memperingan pekerjaan para customer relation officer, justru para staf tersebut harus semakin aware dengan menggunakan tools yang baru, misalnya membalas e-mail pelanggan secepatnya. Yang sering terjadi adalah cara kerja masih bergaya lama, tetapi yang menjadi pembeda hanyalah penggunaan TI saja. Seringkali yang terjadi adalah CEO lupa memantau pelaksanaan keseluruhan perubahan. Jangan dilupakan bahwa moments of truth pelanggan bukanlah sehebat apapun teknologi yang diterapkan, tetapi justru faktor-faktor “non TI” seperti kecepatan respon, efektivitas informasi, keramahan, yang masih menjadi concern utama pelanggan.  Di sini peran change management sangatlah penting, misalnya untuk kasus di atas adalah struktur organisasi yang harus pula berubah manjadi “flat”  untuk mengurangi birokrasi ataupun empowerment untuk customer relation officer. Kalau e-mail yang diterima harus melewati beberapa level staf dan supervisor sehingga makan banyak waktu, lalu apa gunanya menggunakan teknologi e-mail yang sifatnya one-to-one dan direct?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain adalah e-tailers besar yang tutup beberapa bulan lalu. Setiap kali ada pemesanan barang-barang kecil yang variannya banyak semacam mi instan, seringkali antara yang dipesan dan dikirim ada perbedaan. Ketelitian adalah salah satu budaya kerja yang harus diperhatikan, urgensinya tidak akan pernah berkurang dan tidak dapat dimaklumi walaupun sudah menggunakan “e”. Jangan lupa bahwa “e-bisnis” pada dasarnya adalah tetap “bisnis” belaka, “e” hanya dipakai untuk menghantarkan informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Scorecard and Measurement. Seperti bisnis konvensional lainnya, seorang CEO harus mampu memuaskan seluruh stakeholders dan shareholders perusahaan. Bagaimana caranya? Belajar dari Amazon yang sukses, Jeff Bezos beberapa waktu lalu saat diwawancarai CNBC mengungkapkan bahwa Amazon sangat customer-oriented dalam bisnis modelnya maupun fitur-fitur yang dibuatnya. Dalam mendefinisikan bisnis model, indeks kinerja harus diatur secara transparan, misalnya dengan menerapkan IT Balanced Scorecard. Salah satu hal penting yang harus dijawab CEO saat memulai bisnis TI adalah: Apakah TI akan menaikkan profit perusahaan? Berapa kali lebih banyak dan bagaimana caranya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kata-kata bijak di awal tulisan ini, demikianlah besarnya peran CEO dalam suatu organisasi secara umum. Dalam perusahaan TI, bila CEO tidak bisa mendapatkan CIO yang baik, maka CEO tersebutlah yang harus menguasai manajemen TI, kalau tetap tidak mampu, maka harus rela menyingkir!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-108435195125618496?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108435195125618496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108435195125618496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2003/01/menyingkirlah-ceo-gaptek-dinosaurus.html' title='Menyingkirlah CEO Gaptek (Dinosaurus?)'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-108435162988069385</id><published>2002-12-12T15:43:00.000+07:00</published><updated>2004-05-12T16:38:24.280+07:00</updated><title type='text'>Sang CIO </title><content type='html'>&lt;em&gt;(dimuat di Warta Ekonomi, Desember 2002)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa persamaan beberapa perusahaan berikut: Johnson &amp; Johnson, Alcoa, Herman-Miller, dan Ford? Mereka sama-sama mempunyai CIO (Chief Information Officer) yang bukan berasal dari departemen TI. Fenomena “aneh” bahwa kebanyakan orang TI nomor satu dalam suatu perusahaan selalu diisi orang non TI ini pernah pula diamati oleh Mohan Shawhney, Profesor E-Commerce dari North Western University maupun Bill Gates, Chief Software Architect &amp; Founder Microsoft Corp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gegap gempitanya peran TI dalam era ekonomi baru ini tak pelak turut pula menciptakan serta meredefinisi jabatan-jabatan yang tak pernah ada sebelumnya dalam era ekonomi lama. Dalam bidang TI misalnya, muncul jabatan CIO atau Chief Information Officer, yang merupakan jabatan tertinggi manajemen TI dalam satu perusahaan. Dalam banyak perusahaan, CIO malah bertanggung jawab langsung ke CEO. Yang jelas, CIO merupakan jabatan strategis dan merupakan posisi manajemen senior. Ini dapat diukur dari jarak kendali antara CIO dan CEO yang biasanya tak lebih dari dua. Dalam kacamata Aswin Wirjadi, CIO adalah  orang TI nomor satu dalam perusahaan yang bertanggung jawab langsung pada sang CEO. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CIO biasanya bertanggung jawab langsung ke CEO, atau CIO bertanggung jawab ke CEO melalui COO/CFO. Di beberapa perusahaan, malah fungsi ini berada pada jabatan hingga Vice President/Sistem Informasi (VP/IS). Bill Gates dalam “Business @ the speed of thought” menjelaskan bahwa bila CIO bertanggung jawab ke CFO, seakan menandakan adanya “mosi tidak percaya” dari CEO akan fungsi TI dan lebih dianggap sebagai “cost center” ketimbang “profit center”. Hal ini lantaran investasinya yang amat mahal sedangkan value yang diciptakan belum jelas.  Di Microsoft sendiri, CIO bertanggung jawab ke COO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum dekade 1990-an, TI dipandang sebagai supporting business function yang pekerjaannya sangat monoton, membantu melakukan pelaporan day-to-day operation dari masing-masing departemen dalam perusahaan. Mungkin dapat dianalogikan sebagai “konco wingking” saja dan tak pernah dikedepankan sebagai suatu peran strategis yang mengubah peta persaingan bisnis. Fungsi utama komputer di sini adalah untuk menghitung, mengolah data, dan mengotomatisasikan pelaporan. Pada saat itu belum dijumpai istilah CIO, lebih banyak digunakan istilah manajer EDP, manajer sistem informasi, ataupun kepala pusat data/komputer. Namun sejalan dengan  jaringan komputer dan Internet mulai booming pada dasawarsa lalu, serta terjadi konvergensi dengan peralatan telekomunikasi, maka  persepsi masyarakat mulai berubah drastis. Mereka mulai dapat mengapresiasi fungsi TI ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu terkait dengan strategi utama perusahaan untuk memenangkan persaingan. Bila tadinya penggunaan TI hanya terfokus pada tujuan untuk mendapatkan hasil yang _cheaper, better dan faster_ saja, maka kemudian meningkat kepada terciptanya business value bagi seluruh stakeholders.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, mengapa jabatan CIO diciptakan? Hal ini sangat sejalan dengan meningkatnya peran serta TI dalam menentukan keunggulan bersaing perusahaan. Di banyak perusahaan, TI kini menjadi backbone seluruh kegiatan operasinya, bahkan menjadi “core business” dan sekaligus menjadi “main differentiator” dari perusahaan tersebut dibandingkan para pesaingnya. Oleh karena itulah maka TI menjadi sangat “sacred” dan dipandang perlu bagi seorang CEO untuk dapat berhubungan secara dekat dengan CIO dalam merumuskan strategi bisnisnya. Hubungan CIO dan CEO harus seharmonis mungkin sehingga dapat menguntungkan perusahaan secara maksimal. Jauh sebelum adanya jabatan CIO ataupun munculnya anggapan TI merupakan senjata strategis perusahaan, di masa lalu TI hanya dianggap satu bagian pusat data dan penyedia laporan bisnis untuk operasi harian perusahaan. Di masa itu, TI hanyalah berfungsi sebagai pengotomatisasi laporan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dianalisis lebih lanjut, sebenarnya apa yang menjadi batu sandungan bagi para profesional TI untuk dapat terus berkarir hingga mencapai posisi CIO?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Kemampuan komunikasi yang kurang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TI identik dengan komputer dan gadgets yang canggih. Profesional TI senantiasa “haus” akan informasi terbaru dari teknologi terbaru. Hal ini mengakibatkan mereka lebih banyak berinteraksi dengan mesin daripada dengan manusia lain. Pottruck bahkan mengungkapkan dalam bukunya “Click and Mortar”, bahwa profesional TI mewarisi kultur komunikasi seorang “technologist” yang pendiam dan tertutup dalam hubungan sosial tetapi cenderung kompleks, detil dan komplit dan straightforward saat bicara tentang bidang yang memang disukainya. Hal ini bertentangan dengan pola komunikasi seorang “businessman” yang lebih generalis dan menyukai solusi yang sederhana, sering bermetafora dalam negosiasi dan lobi. Seorang “techie” seringkali terbentuk untuk lebih menyukai komunikasi via e-mail, sms, chatting daripada pertemuan tatap muka ataupun telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pengetahuan bisnis dan manajemen yang kurang memadai.&lt;br /&gt;Banyak profesional TI yang kurang menyukai hal-hal lain di luar bidangnya, bahkan cenderung antipati. Akibatnya mereka lebih banyak yang menemukan dunianya sendiri dan hanya mau berkomunikasi dengan staf bagian lain. Di sisi lain, seorang CEO sangat membutuhkan CIO yang tak hanya piawai dalam pengetahuan dan keahlian teknis TI yang dikuasainya, tetapi juga “mengerti” seluk beluk bisnis dan manajemen, mengerti arti investasi dan menerjemahkannya dalam bentuk hitungan finansial bisnis (misalnya ROI, Cashflow, NPV), empati dan peduli akan kebutuhan para stakeholders perusahaan (customers, staf bagian lain, manajemen), dapat menjalankan fungsi manajemen lintas departemen, serta yang paling penting, menciptakan value bagi peningkatan revenue perusahaan melalui TI dengan strategi bisnis yang tepat. Tak kalah pentingnya adalah kemampuan seorang CIO untuk dapat menjadi liaison handal antara manajemen puncak (CEO, CFO, COO) yang kemungkinan (terburuk) tidak mengerti teknologi sama sekali dengan profesional TI stafnya yang kemungkinan (terburuk) tidak mengerti bisnis dan manajemen sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lynda Applegate, Profesor di Harvard Business School pernah melakukan survei atas aktivitas apa saja yang dilakukan seorang CIO dalam bekerja. Secara persentase, hasil survei tersebut secara berturut-turut menghasilkan: Strategi perusahaan 27%, Arsitektur 19%, SDM 17%, Operasi 13%, Pengembangan 9%, Resiko 6%, Non IS 7%, Lain-lain 2%. Bila dilihat, faktor teknis TI-nya justru tidak memberikan kontribusi yang sangat berarti, karena faktor strateginya justru lebih diutamakan. Dari hasil survei di atas dapat terlihat alasan utama mengapa CEO cenderung menyukai CIO berlatar belakang non TI. Pengetahuan bisnis dan manajemen yang memadailah yang lebih diperlukan dalam kriteria pemilihan CIO. CEO akan lebih mudah berkomunikasi dengan CIO yang bersifat “business managers” daripada “technical managers”. Profesional TI yang menginginkan jabatan hingga CIO harus sadar benar kedua kelemahannya di atas, karena pendidikan TI yang digeluti biasanya cenderung membahas aspek teknikalnya daripada aspek bisnis dan manajemen TI-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, memang benar apa yang selalu dipercaya dalam banyak pakar manajemen bisnis, misalnya oleh Adrian Slywotzky yang selalu berpendapat bahwa yang perlu dipikirkan pertama kali adalah “good business design” nya terlebih dahulu, baru memikirkan teknologinya. Ambil contoh di BCA, saat ini mungkin tidak ada yang menyangka bahwa untuk operasinya di teller masih memakai sistem operasi DOS, padahal teknologi sistem operasi sudah sangat maju. Lesson learnt dari hal ini adalah: teknologi TI boleh secanggih apapun, namun yang dibutuhkan kalangan bisnis sebenarnya bukanlah teknologi yang terakhir, melainkan teknologi yang mampu menjamin kelangsungan bisnis yang sustainable, efektif, meningkatkan _business value_ serta efisien secara finansial. &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-108435162988069385?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108435162988069385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108435162988069385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2002/12/sang-cio.html' title='Sang CIO '/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6646129.post-108426930509219216</id><published>2002-01-11T16:54:00.000+07:00</published><updated>2004-05-11T16:55:05.093+07:00</updated><title type='text'>Bandung 101</title><content type='html'>Dua kali mengunjungi Bandung untuk tujuan bisnis tanpa sempat&lt;br /&gt;mengeksplorasi kuliner yang ada di kota ini membuat&lt;br /&gt;saya mempunyai obsesi pribadi untuk kembali suatu waktu. Bepergian yang&lt;br /&gt;serasa mubazir bagaikan tidak melakukan "apa-apa" adalah tidak seperti yang&lt;br /&gt;selalu menjadi kegemaran saya sejak dulu: menemukan tempat makanan enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali mendapatkan email yang isinya kompilasi dari rekomendasi para&lt;br /&gt;netter yang rajin menuliskan "best food guide" (200+ rekomendasi) di&lt;br /&gt;Bandung semakin memicu saya untuk bepergian dan melakukan "wisata kuliner"&lt;br /&gt;menjelajahi Bandung. Saya yakin Anda juga pernah mendapatkannya, salah&lt;br /&gt;satunya bertajuk "Bandung Euy..." Saya semakin yakin bahwa banyak hal asyik&lt;br /&gt;yang bisa ditemukan di sana. Sementara saya sebenarnya selalu minder dan&lt;br /&gt;kuatir karena katanya jalan-jalan di kota Bandung membingungkan karena&lt;br /&gt;kabarnya banyak diberlakukan satu arah. Namun akhirnya saya memberanikan&lt;br /&gt;diri untuk menuntaskan special-mission dan sekalian berlibur - walaupun ada&lt;br /&gt;handicapped: hanya bersama istri dan putri saya yang selalu tidak bisa diam&lt;br /&gt;karena belum lagi berusia 2 tahun - yang nantinya akan menyulitkan untuk&lt;br /&gt;memberi navigasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman kami - Soegandi - memberikan pinjaman yang sangat berarti sehari&lt;br /&gt;sebelum berangkat: Bandung Street Map dari Periplus, dan buku panduan&lt;br /&gt;lengkap "Aku di Bandung" (ADB, sekitar 600+ rekomendasi) yang ternyata&lt;br /&gt;sangat membantu dan menjadi pelengkap dari panduan "underground" yang saya&lt;br /&gt;dapatkan dari Internet. Kalau dari Internet rumah makan digolongkan&lt;br /&gt;berdasarkan jenis makanan (misalnya: nasi goreng, mie baso, baso tahu, ayam&lt;br /&gt;goreng), maka di buku "Aku di Bandung" ada penggolongan berdasarkan jenis&lt;br /&gt;makanan sebagai index, juga ada petunjuk detil berdasarkan area. Klop&lt;br /&gt;sudah. Sebelum berangkat saya telah menyusun "observation priority list",&lt;br /&gt;yaitu tempat-tempat yang sudah diseleksi dan sangat dekat dengan hotel yang&lt;br /&gt;akan kami singgahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Go or Not Go" pada tanggal 30 Desember lalu akhirnya diakhiri dengan "Go"&lt;br /&gt;dan jadilah kami berangkat hanya bertiga saja. Keputusan yang tiba-tiba di&lt;br /&gt;siang hari tersebut. Tadinya kami sempat ingin ke Bogor saja. Setelah gagal&lt;br /&gt;mengajak teman-teman dekat seperjuangan yang berhobi sama (Gintoro - Ke&lt;br /&gt;Bogor, Iwan - Urusan Keluarga Perayaan Perkawinan [tapi bukan keluarganya&lt;br /&gt;sendiri, nah lho... terus kluarga siapa ya?], Andreas - [alasan klasik:&lt;br /&gt;kejauhan, terasa spt reli Paris - Dakar kali]). Setelah memesan hotel&lt;br /&gt;Preanger dan Santika melalui telepon, kami melakukan perjalanan melalui&lt;br /&gt;Purwakarta. Selepas tol Cikampek, perjalanan masih dilanjutkan hingga&lt;br /&gt;sekitar 70 km melewati jalan berliku Plered - Darangdan - Cikalong Wetan,&lt;br /&gt;dan akhirnya masuk tol sepanjang 10 km masuk ke jalan Pasteur, salah satu&lt;br /&gt;gerbang utama Bandung. Perjalanan sekitar 4 jam akhirnya mengantarkan kami&lt;br /&gt;memasuki kota Bandung yang ternyata saat itu macet total dan banyak dijaga&lt;br /&gt;polisi di mana-mana. Tujuan kami menuju ke Hotel Preanger pupus sudah&lt;br /&gt;lantaran beberapa kali ruas jalan menuju ke hotel tersebut dialihkan&lt;br /&gt;polisi, berhubung hari sudah mulai sore, lelah dan lapar akhirnya kami&lt;br /&gt;memutuskan ke Hotel Santika saja yang sudah dekat. Jadilah kami akhirnya&lt;br /&gt;check in ke Hotel Santika yang terletak di persimpangan jalan RE&lt;br /&gt;Martadinata (Riau) dan jalan Sumatra. Satu hal yang membuat saya memesan&lt;br /&gt;hotel ini adalah rekomendasi Pak Subekti yang katanya hotel ini sangat&lt;br /&gt;strategis karena letaknya tepat di belakang Bandung Indah Plaza - walaupun&lt;br /&gt;kemudian kami lebih suka menyinggahi tempat "selain mal" karena di Jakarta&lt;br /&gt;sudah cukup banyak mal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mandi dan bergantian menjaga Jessica, kami langsung ingin makan&lt;br /&gt;silam (malan siang dan malam, karena belum makan siang). Penatnya bepergian&lt;br /&gt;serta mengasuh Jessica yang tidak mau tinggal diam selama di mobil membuat&lt;br /&gt;kami bertambah lapar. Akhirnya kami sepakat untuk makan yang ringan dan&lt;br /&gt;sedikit saja di lokasi terdekat. Pilihan jatuh pada Gudeg Lombok di jalan&lt;br /&gt;Lombok. Waktu menunjukkan pukul 6 sore dan hujan mulai turun saat kami&lt;br /&gt;menemukan jalan Lombok yang kira-kira hanya 2 menit dari hotel, dan sempat&lt;br /&gt;satu kali salah jalan. Ternyata Gudeg tersebut tidak buka. Maka pilihan&lt;br /&gt;nomor 2 yaitu Gudeg jalan Banda akhirnya yang kami tuju. Beberapa menit&lt;br /&gt;kemudian kami menemukan tempatnya di Jalan Banda 57. Rumah makan kecil yang&lt;br /&gt;cukup "modest" dan "simple",  yang biasanya malah cukup "menjanjikan" akan&lt;br /&gt;keseriusan kualitas makanan. Dan benar, memang Nasi Gudeg yang disajikan&lt;br /&gt;cukup lezat. Dari "genealogy" per-Gudeg-an di Jogja, maka Gudeg di rumah&lt;br /&gt;makan ini dapat digolongkan ke Gudeg Basah, di mana Sayur Nangka/Gudegnya&lt;br /&gt;cukup asin, tidak begitu manis dan memasaknya hanya cukup dengan santan&lt;br /&gt;yang tidak begitu banyak dan ada sedikit kuahnya disajikan dengan Sambal&lt;br /&gt;Goreng Krecek (kulit sapi) yang tipis (sulit ditemui di Jakarta yang&lt;br /&gt;biasanya Gudeg dilengkapi dengan Krecek yang tebal). Krecek merupakan&lt;br /&gt;pelengkap Gudeg yang utama. Kalau Gudeg rasanya manis, maka seperti ajaran&lt;br /&gt;"Yin Yang" yang mempertahankan keharmonisan - Krecek dipergunakan untuk&lt;br /&gt;menyeimbangkan rasa dengan memberikan sedikit aroma pedas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pelengkap yang menjadi pilihan kami adalah Tahu Putih Opor, Telur&lt;br /&gt;Pindang, Opor Ayam, dan Empal (Gepuk). Kesemuanya cukup lezat. Tahunya agak&lt;br /&gt;berbeda dengan "Tahu Jakarta". Selama saya di Jakarta, saya jarang sekali&lt;br /&gt;mendapatkan Tahu yang benar-benar enak seperti di Jawa Tengah. Rata-rata&lt;br /&gt;Tahu Putih di Jakarta sangat licin seperti jenis Tahu Kwa, tidak berasa dan&lt;br /&gt;tidak bermotif "lubang-lubang" seperti di Jateng. Opor Ayamnya juga&lt;br /&gt;"ringan" dengan santan yang cair dan tidak kental. Empalnya sangat empuk&lt;br /&gt;dan tidak beraroma "anyir daging sapi" sehingga istri saya menyukainya.&lt;br /&gt;Padahal selama di Jakarta, sulit sekali istri saya menyukai dagiing sapi.&lt;br /&gt;Satu-satunya kekurangan dari sajian di rumah makan ini adalah sambalnya&lt;br /&gt;yang menurut saya terlalu kental dan rasanya tidak karuan. Padahal biasanya&lt;br /&gt;Sambal untuk Gudeg sangat manis dan kaya rasa untuk membangkitkan nafsu&lt;br /&gt;makan.&lt;br /&gt;Gudeg semacam ini sangat sulit saya jumpai di Jakarta yang rata-rata&lt;br /&gt;Gudengnya sangat "sakral" dengan kuah santan kental untuk Opor dan Sambal&lt;br /&gt;Goreng Kreceknya. Mungkin karena saya orang Semarang, maka nuansa yang&lt;br /&gt;dihasilkan Gudeg Lombok ini terasa seperti Gudeg Semarang yang saya sukai.&lt;br /&gt;Di Semarang biasanya Gudeg dilengkapi dengan "Koyor", atau tim urat sapi&lt;br /&gt;yang sangat empuk sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Di sekitar kampus kita menjumpai Gudeg "Goyang Lidah" (kini sudah&lt;br /&gt;almarhum) yang pemiliknya malah orang Purwokerto, Gudegnya adalah Gudeg&lt;br /&gt;Kering. Demikian pula warung tenda Gudeg Jogja Pak Gendut di Jalan&lt;br /&gt;Kemanggisan Raya (di depan rumah tycoon Setiawan Jodi) yang menjadi&lt;br /&gt;langganan saya sejak saya kuliah, juga merupakan Gudeg Kering dengan kuah&lt;br /&gt;kental. Kemudian Gudeg "jadi-jadian" di rumah makan Nusa Indah seberang&lt;br /&gt;Kampus Syahdan yang "tidak jelas". Saya katakan tidak jelas karena mungkin&lt;br /&gt;bagi para pecinta Gudeg, rasanya kurang pas dan tidak punya identitas.&lt;br /&gt;Ibarat toko pakaian, maka tergolong "Gudeg Butik" yang mahal tapi malah&lt;br /&gt;tidak otentik. Gudeg Kering terenak di Jakarta yang pernah saya coba adalah&lt;br /&gt;saat saya diajak makan Pak Hadi di Pejompongan. Warung yang hanya buka pas&lt;br /&gt;saat makan siang dan makan malam saja. Walaupun demikian selalu dipenuhi&lt;br /&gt;para karyawan sekitar Pejompongan dan sudah diantri sebelum warung dibuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dilanjutkan, saya mencanangkan untuk mengunjungi 2 atau 3 tempat&lt;br /&gt;malam itu. Selepas dari Gudeg Lombok kami beringsut menuju sasaran&lt;br /&gt;berikutnya. Setelah diskusi kami sepakat mengunjungi Restoran yang konon&lt;br /&gt;sangat enak masakan Kepiting Saus Tiremnya. Dari beberapa rekomendasi yang&lt;br /&gt;saya baca ada 3 restoran, akhirnya saya pilih yang terdekat yaitu Restoran&lt;br /&gt;Rose Flower di Jalan A. Yani 32. Berbeda dengan Jalan Lombok yang ada di&lt;br /&gt;tengah kota maka restoran ini terletak di sebelah selatan Bandung dan&lt;br /&gt;lokasinya dekat dengan pecinan. Dengan susah payah kami di bawah gerimis&lt;br /&gt;hujan akhirnya kami sampai di restoran yang ternyata namanya "Rose" saja&lt;br /&gt;dengan logo bunga. Dari jenis meja kursi dan tempatnya nampak restoran ini&lt;br /&gt;sudah cukup tua - berarti mestinya pilihan kami tepat karena tentunya&lt;br /&gt;masakannya enak. Sebenarnya cukup banyak menu yang ada yang rata-rata menu&lt;br /&gt;Chinese Food dengan beberapa masakan "Oldies" yang jarang ditemukan di&lt;br /&gt;resto Chinese Food modern, tapi karena kami ternyata sudah cukup kenyang&lt;br /&gt;maka kami hanya mengorder setengah porsi Kepiting Telor dengan Saus Tiram&lt;br /&gt;saja. Sembari menunggu - seperti kebiasaan resto Chinese Food lama -&lt;br /&gt;disuguhkan acar ketimun dalam piring kecil. Akhirnya Kepiting yang&lt;br /&gt;ditunggu-tunggu keluar, wow, setengah porsi adalah 2 ekor Kepiting Telor&lt;br /&gt;yang ukurannya extraordinary! Bumbu saus tiramnya agak berbeda dengan yang&lt;br /&gt;sering kita jumpai di Jakarta, rasanya tidak terlalu manis dan tidak&lt;br /&gt;terlalu encer. Yang membuat saya takjub adalah pada Kepiting yang telornya&lt;br /&gt;sangat penuh dan tebalnya kira-kira 2 cm, yang tidak pernah saya jumpai di&lt;br /&gt;Jakarta sebelumnya. Dengan rasanya yang superior tersebut, harganyapun&lt;br /&gt;ternyata sangat reasonable bila dibandingkan dengan di Jakarta. Nampaknya&lt;br /&gt;dari buku panduan ADB feeling saya mengatakan bahwa di Bandung masih banyak&lt;br /&gt;lagi resto Chinese Food yang Oldies semacam di Rose ini. Mungkin lain waktu&lt;br /&gt;perlu dicoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Di Jakarta rumah makan Chinese Oldies sudah jarang kita jumpai.&lt;br /&gt;Yang saya ketahui salah satunya adalah Resto Trio di jalan Gondangdia -&lt;br /&gt;Cikini. Satu grup dengan Resto Paramount yang dulu sering diundang BiNus&lt;br /&gt;menjamu saat rapat dosen di awal semester. Resto Trio ini pernah diulas di&lt;br /&gt;Tabloid Kontan, dimiliki oleh tiga serangkai di Jakarta dan kini dimiliki&lt;br /&gt;salah seorang anak dari tiga serangkai ini. Masakan yang ditawarkan adalah&lt;br /&gt;ratusan masakan "oldies" dengan pengaruh Belanda, misalnya "Kamar Bola",&lt;br /&gt;"Hotspot", "Ayam Lychees", dll. Setiap kali kami makan di sana, di Resto&lt;br /&gt;berukuran sempit tersebut, selalu saja ada keluarga manula yang makan di&lt;br /&gt;situ. Termasuk selalu ada saja turis bule yang makan di sana. Bandingkan&lt;br /&gt;dengan Chinese Food modern yang masakannya hanya puluhan saja dan kurang&lt;br /&gt;"kreatif" karena selalu sama, seperti "Kuluyuk", "Fuyunghai", "Capcai",&lt;br /&gt;"Mun Tahu" saja. Mungkin pengaruh kebiasaan hidup di kota Jakarta yang&lt;br /&gt;serba cepat dan instanlah yang menyebabkan menu-menu simple tersebut lebih&lt;br /&gt;disukai masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Hayam Wuruk kita jumpai resto Siauw A Tjiap yang kini berubah nama&lt;br /&gt;menjadi "Sehati" dan membuka beberapa gerai di mana-mana. Ini juga salah&lt;br /&gt;satu "peninggalan" resto oldies di Jakarta. Di sini jumlah masakannya juga&lt;br /&gt;ratusan. Satu lagi ada di Kebayoran Lama ada resto RICO di sebelah RM Rindu&lt;br /&gt;Ayam yang sering dikunjungi staf Binus (terutama direktorat Keuangan dan&lt;br /&gt;BKM). Di RICO lain lagi, masakannya malah terpengaruh Chinese Food Semarang&lt;br /&gt;pada umumnya karena ada "kekian" sebagai pelengkap hampir semua masakan&lt;br /&gt;(cincang ayam, udang dan daging yang dicampur tepung dan telur menjadi&lt;br /&gt;padat, kemudian dipotong-potong persegi/blok).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila diperhatikan, rata-rata resto Chinese Food besar di Jakarta seperti&lt;br /&gt;Samudra misalnya, memang mungkin menyediakan ratusan masakan, tetapi style&lt;br /&gt;ataupun mazhabnya adalah dari Singapore/Hongkong/Shanghai dan bukan Chinese&lt;br /&gt;Food oldies dengan pengaruh Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, karena sudah cukup malam, dan putri saya sudah mengantuk,&lt;br /&gt;ditambah kapasitas perut yang sudah mulai uzur dan tidak boleh dipacu&lt;br /&gt;kencang mengingat umur dan penyakit, akhirnya kami memutuskan pulang ke&lt;br /&gt;hotel, tetapi saya ingin mencoba satu tempat legendaris yang dulu selalu&lt;br /&gt;disebut-sebut oleh Gintoro maupun sms yang dikirim Iwan untuk meremind&lt;br /&gt;saya, yaitu Nasi Campur Kelenteng. Akhirnya kami menyusuri kembali daerah&lt;br /&gt;pecinan tadi dan menemukan satu gang kecil yang becek (tipikal daerah&lt;br /&gt;pecinan di manapun juga) yaitu jalan Kelenteng. Saya membeli seporsi untuk&lt;br /&gt;dibawa pulang. Nasi Campurnya ternyata cukup enak dan bisa disejajarkan&lt;br /&gt;dengan Nasi Campur Kenanga. Namun agak berbeda. Yang ada dikeduanya adalah&lt;br /&gt;daging panggang, charsiu merah, siomay dan sate, dan ngohiong. Di sini ada&lt;br /&gt;bakso goreng (kurang enak). Yang patut dicatat adalah charsiunya yang&lt;br /&gt;sangat banyak dan rasanya lebih enak. Tidak seperti di beberapa rumah makan&lt;br /&gt;sekitar kampus (seperti 888 atau RM Bahagia sebelah Jatim I) yang cara&lt;br /&gt;memasaknya hanya "ala kadarnya", karena hanya warnanya saja yang merah&lt;br /&gt;tetapi rasanya tawar. Namun sejujurnya, charsiunya masih kalah segar bisa&lt;br /&gt;dibandingkan dengan charsiu saat saya makan di resto-resto di Chinese Food&lt;br /&gt;di Perth dulu. That's the best that I ever had.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum sampai di hotel, "by accident" kami melewati Jalan Dago (Juanda)&lt;br /&gt;dan ternyata cukup banyak Factory Outlet (FO) besar yang menjual pakaian&lt;br /&gt;dan barang-barang bagus. Baru kami tahu ternyata daerah sekitar Hotel kami&lt;br /&gt;tersebut dipenuhi banyaknya FO besar seperti grup FO Heritage, The Summit&lt;br /&gt;(keduanya di jalan Riau), Happening dan Rich and Famous (di Dago, keduanya&lt;br /&gt;terhubung), The Big Price Cut. Juga ada FO lain yang khusus menjual tas&lt;br /&gt;(Terminal Tas), dll. Malam itu kami mampir di FO Rich and Famous. Tidak&lt;br /&gt;seperti kebanyakan FO di Jakarta yang seperti toko-toko biasa tanpa&lt;br /&gt;mempertimbangkan artistik interiornya, di sini semuanya tertata rapi dalam&lt;br /&gt;banyak ruangan kecil. Di FO Rich and Famous misalnya, selain menjual&lt;br /&gt;pakaian2 bermerek dengan harga miring (yang katanya sisa ekspor) juga&lt;br /&gt;terdapat satu ruangan yang khusus menjual cindera mata dan aksesori yang&lt;br /&gt;lucu-lucu, satu ruangan yang menjual coklat dalam aneka bentuk, satu&lt;br /&gt;ruangan untuk mainan anak-anak, juga ada cafe di dalam FO yang sangat bagus&lt;br /&gt;dikelilingi water fountain buatan yang indah dan terbuka dari segala sisi&lt;br /&gt;sambil mendendangkan lagu-lagu Jazz setiap waktu. Sungguh suatu hal yang&lt;br /&gt;amat sulit ditemukan di FO-FO maupun toko-toko manapun di Jakarta. Paduan&lt;br /&gt;shopping dan entertainment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam sebelum tidur saya telah menyiapkan rencana "perang" hari kedua&lt;br /&gt;masak-masak dalam "priority list" saya. Ada sekitar 7 tempat yang ingin&lt;br /&gt;saya kunjungi sebelum pulang ke Jakarta. Selepas prasmanan makan pagi yang&lt;br /&gt;"terbatas" (walaupun masakan dan pilihannya cukup beragam) - karena kami&lt;br /&gt;memang ingin membatasi perut dan memang ingin mencoba makanan yang lainnya&lt;br /&gt;di luar - maka kami segera berangkat mengunjungi Yogurt Cisangkuy yang&lt;br /&gt;letaknya cukup dekat dan selalu terngiang pesan-pesan yang sering saya baca&lt;br /&gt;untuk mengunjungi tempat ini. Kami memesan Yogurt Strawberry seperti yang&lt;br /&gt;direkomendasikan di petunjuk kami maupun dari sms Iwan. Karena ada beberapa&lt;br /&gt;varian strawberry yogurt maka kami pesan keduanya (juice dan special). Juga&lt;br /&gt;Homemade Beef Burger yang katanya eksklusif. Untuk Yogurtnya ternyata&lt;br /&gt;sangat segar dan enak, untuk yang Special ternyata terasa seperti ada&lt;br /&gt;tambahan Liquor Rum-Raisin, sehingga cukup segar. Homemade Burgernya...&lt;br /&gt;sebaiknya jangan dipesan. Di depan rumah makan ini ternyata banyak dijual&lt;br /&gt;jajanan kaki lima yang enak-enak. Mulai dari Kue Pancong (di Jateng disebut&lt;br /&gt;Gandos - panggilan saya pada Soegandi), yaitu sejenis kue tradisional yang&lt;br /&gt;terbuat dari parutan kelapa dan campuran sedikit tepung, dicetak melalui&lt;br /&gt;cetakan aluminium yang dibakar dengan arang dan menyerupai Kue Pukis dalam&lt;br /&gt;skala yang lebih tipis. Hanya saja, dasar orang Bandung yang saya yakini&lt;br /&gt;memang sangat kreatif, maka Kue Pancong tersebut dapat diberi topping&lt;br /&gt;Coklat, Keju, dll. Hal yang tidak ditemui pada penjual di Jateng yang&lt;br /&gt;demikian "nrimo" dan "pasrah" sehingga tidak inovatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu juga ada Baso Tahu Goreng serta Serabi. Serabi di sini adalah serabi&lt;br /&gt;kering dengan puluhan toping. Ada pilihan satu, dua atau tiga toping yang&lt;br /&gt;bisa dipilih dari kombinasi Kornet, Pisang, Sosis, Telor, Coklat, Keju, dan&lt;br /&gt;Oncom. Bayangkan ada berapa varian yang dihasilkannya. Sayang tidak ada&lt;br /&gt;kombinasi rasa Pisang - Kornet - Oncom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Gudeg yang kita kenal, Serabipun ada yang varian kering dan basah.&lt;br /&gt;Jenis Serabi basah contohnya adalah serabi yang dijual di Tomang Cakwe&lt;br /&gt;depan Petojo. Di sini seringkali komunitas ATL membeli martabak telor dan&lt;br /&gt;manis untuk berbagai keperluan penting seperti ulang tahun, wisuda,&lt;br /&gt;syukuran, sunatan, kawinan, kecopetan dan semacamnya. Serabi di sini&lt;br /&gt;dilengkapi kuah manis kental dari gula jawa/merah, agak berbeda dengan di&lt;br /&gt;Jateng yang kuahnya dari air kelapa manis encer yang lebih segar. Serabi&lt;br /&gt;kering biasanya dijual tanpa toping dan ukurannya berdiameter lebih besar&lt;br /&gt;hingga 15 cm, serabi basah relatif lebih kecil. Warna serabi basah biasanya&lt;br /&gt;hijau. Serabi kering biasanya putih, kalaupun ada toping biasanya hanya&lt;br /&gt;pisang. Seperti saat Ford menjual mobil yang pertama di dunia dengan&lt;br /&gt;mottonya: "You can choose whatever the color as long as it's black".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Saat saya meninggalkan Cisangkuy, baru muncul penjual Sate Sapi&lt;br /&gt;dan Ayam di samping pedagang Serabi. Wah, momentnya sangat tidak pas. Lain&lt;br /&gt;kali saya ingin mencobanya. Selain orang Jateng, Sate Sapi adalah "aneh".&lt;br /&gt;Di Jakarta sendiri, saya belum pernah menjumpai Sate Sapi. Sejak 23&lt;br /&gt;Desember lalu, warga Jakarta sebenarnya sudah mulai dapat mencoba&lt;br /&gt;"kedahsyatan" Sate Sapi Pak Kempleng Ungaran - Jawa Tengah (20 km di&lt;br /&gt;Selatan Semarang) - dan mungkin merupakan Sate Sapi pertama di Jakarta.&lt;br /&gt;Rumah makan Sate Pak Kempleng ini telah membuka cabang di Kelapa Gading&lt;br /&gt;Food Promenade (dekat dengan RM Solo milik Eddy Santosa Jaya). Sayang,&lt;br /&gt;dalam kunjungan inspeksi PDC dan ATL mendadak beberapa waktu lalu, rumah&lt;br /&gt;makan tersebut belum dibuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sate Sapi jauh lebih "aman" daripada Sate Kambing, biasanya disajikan&lt;br /&gt;dengan bumbu kacang. Jenis daging yang dijual antara lain Daging Has, Gajih&lt;br /&gt;dan Jeroan Sapi: Limpa, Babat, Usus, Hati, Paru, Ginjal. Rasanya memang&lt;br /&gt;uenaaakkkkk tenan!!! Tapi kalau Anda mengidap kolesterol ya jangan makan&lt;br /&gt;banyak-banyak. Sate Kempleng ini disajikan dengan bumbu kacang yang sangat&lt;br /&gt;kental dan harum (jauh di atas bumbu Gado-Gado Lontong di Jakarta, karena&lt;br /&gt;di tambah air asam dan jeruk) dimakan dengan gelondongan bawang merah dan&lt;br /&gt;cabe rawit yang digerus dengan kecap manis. Lontongnya sangat empuk dan&lt;br /&gt;gurih. Yang membuat unik: Bumbu kacangnya diberikan semangkok penuh dan&lt;br /&gt;kita boleh mengambil sendiri. Beberapa teman Jakarta yang saya rekomendasi&lt;br /&gt;saat ke Semarang sangat puas mencobanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dari Cisangkuy, kami sempat mengunjungi beberapa FO lagi di Jalan&lt;br /&gt;Riau (antara lain Rinariti, The Summit dan Heritage). Kemudian kami&lt;br /&gt;akhirnya mengurungkan niat untuk berkeliling karena hari sudah cukup siang&lt;br /&gt;dan kami ingin lekas pulang karena kuatir macet. Akhirnya batal sudah&lt;br /&gt;rencana sisa observasi tadi dan kami hanya ingin mengunjungi satu tempat&lt;br /&gt;lagi sebelum pulang. Maka kami bergegas menuju Mie Akim yang katanya&lt;br /&gt;spesialis di Mie Baso, Baso Tahu dan Nasi Tim di Jalan Rama di daerah&lt;br /&gt;Pajajaran. Ternyata tutup. Sebelumnya kami ingin ke Ayam Goreng Nikmat di&lt;br /&gt;Cihampelas. Akhirnya kami pergi ke Jalan Suwatama untuk membeli Lomie&lt;br /&gt;Pekalongan guna dibawa pulang. Lomie di sini terkenal enak, walaupun&lt;br /&gt;terletak di jalan yang kecil, ternyata banyak orang yang sedang makan di&lt;br /&gt;situ. Yang disebut Lomie di Bandung ternyata adalah varian Lomie Kangkung&lt;br /&gt;yang Halal. Dari asal-usulnya, biasanya Lomie merupakan mie dengan kuah&lt;br /&gt;kental berisi Jeroan hati dan usus. Karena "Lo" berarti perut. Setelah&lt;br /&gt;mendapat pengaruh lokal, maka teradaptasi menjadi Lomie dengan tambahan&lt;br /&gt;Kangkung. Karena kesadaran masyarakat, (Jakarta misalnya), kini jarang&lt;br /&gt;dijumpai Chinese Food ataupun Lomie dengan Jeroan. Lomie Pinangsia yang&lt;br /&gt;terkenal di Glodok misalnya tidak menyediakan Jeroan. Di Semarang malah ada&lt;br /&gt;varian Mie Kangkung seperti di Jakarta, tetapi disebut Mie Titee dengan&lt;br /&gt;daging di bagian kaki yang berlemak ("trotter") serta menggunakan Bayam dan&lt;br /&gt;bukan kangkung. Bedanya, di Semarang kuahnya tidak kental, dan aroma bawang&lt;br /&gt;putihnya sangat menyengat. Lomie Pekalongan di Bandung ini, dilengkapi&lt;br /&gt;dengan Usus Ayam Goreng yang sering kita jumpai sebagai snack, dan Bakso&lt;br /&gt;Sapi. Kuahnya sangat kental menyerupai Sup Hisit (Sirip Hiu) berwarna&lt;br /&gt;coklat dan manis dengan irisan ayam berbentuk masif. Rasanya? sangat manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami pulang dengan banyak membawa hal: Kesimpulan, Kepuasan,&lt;br /&gt;Ketidakpuasan, dan Pengharapan. Kesimpulan bahwa ternyata benar bahwa&lt;br /&gt;Bandung memang surga makanan yang cukup menarik ditelusuri. Juga bahwa di&lt;br /&gt;Bandung banyak rumah makan yang pemiliknya benar-benar expert dalam&lt;br /&gt;memasak, tidak seperti warung-warung serta food court yang hanya bermodal&lt;br /&gt;nekat lalu "coba-coba" di Jakarta (contoh: ribuan warung tenda pecel lele,&lt;br /&gt;soto, dll yang rasanya seragam dan tidak kreatif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakpuasan karena banyak yang belum dikunjungi, misalnya adanya beberapa&lt;br /&gt;toko roti jaman Belanda yang cukup terkenal (sebagai orang Semarang, saya&lt;br /&gt;ingin membandingkannya dengan Toko Oen di Semarang). Serta pengharapan,&lt;br /&gt;bahwa bila sempat di lain waktu saya ingin kembali mengeksplorasi Bandung.&lt;br /&gt;Siapa yang tertantang? boleh mendaftar :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6646129-108426930509219216?l=hannysan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108426930509219216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6646129/posts/default/108426930509219216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hannysan.blogspot.com/2002/01/bandung-101.html' title='Bandung 101'/><author><name>hannysan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15440971557578652260</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>
